Emas Tergelincir Isu Kenaikan Suku Bunga

Penulis: Darmansyah

Selasa, 13 Desember 2016 | 09:19 WIB

Dibaca: 0 kali

Emas makin menjauh dari minat investor bersamaan dengan ambruknya harga logam mulia ini selama dua pekan terakhir dan mencatatkan harga terendahnya selama sepuluh bulan terkakhir.

Laman situs ekonomi terkenal “markatwatch,” Selasa pagi WIB, 13 desember 2016, menulia bahwa harga emas di New York makin sulit diprediksi bersamaan dengan makin kuatnya keinginan The Fed, atau Bank Sentral Amerika Serikat, untuk menaikkan suku bunga sebelum berakhirnya bulan Desember ini.

Harga emas merosot ke posisi terendah dalam lebih dari sepuluh bulan terpicu ekspektasi keputusan kenaikan suku bunga AS akan terjadi pada pekan ini yang mendorong imbal hasil Treasury AS naik.

Melansir laman Reuters , Selasa pagi, harga emas turun setelah sempat berada di posisi terendah sejak  Februari tahun ini.

“Harga emas berjangka AS juga mencapai posisi terendah,” tulis “marketwatch.”

The Federal Reserve diharapkan menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya dalam satu dekade pada pertemuan dua hari yang dimulai pada Selasa.

Tapi waktu kenaikan diprediksi baru terjadi pada tahun depan.

“Pernyataan The Fed jauh lebih penting pada saat ini, daripada kenaikan suku bunga karena diharapkan bahwa tarif akan meningkat pada pertemuan ini,” kata analis ICBC Standard Bank Tom Kendall.

Sementara itu, indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap mata uang utama, mendekati level tertinggi dalam 10 bulan terpicu lonjakan harga minyak.

Ini menempatkan tekanan lebih lanjut pada harga emas dan kenaikan terhadap imbal hasil Treasury bertenor sepuluh tahun AS ke level tertinggi dalam dua tahun.

Emas tidak membayar bunga, kenaikan pendapatan dari obligasi AS dipandang sebagai negatif untuk logam. Emas juga sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga.

Salah satu penyebab melemahnya harga emas adalah penguatan dolar dari ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Federal Reserve pekan depan.

Indikator yang berdasarkan pasar menyatakan seratus persen kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga pada pekan depan. Langkah tersebut adalah kedua kalinya yang dilakukan bank sentral. Pertama dilakukan hampir satu tahun lalu pada pertemuan The Fed di Desember tahun lalu.

Kenaikan suku bunga ini biasanya berimbas pada kenaikan dolar, yang akan berdampak negatif pada harga komoditas seperti emas, yang punya harga denominasi pada dolar.

Selain itu, dolar juga menguat karena European Central Bank memutuskan untuk mengurangi program pembelian surat utang.

Emas tetap berada di rentang perdagangan yang ketat. Komoditas ini sensitif terhadap kebijakan bank.

Buktinya, kebijakan Eruperan Central Bank mengangkat nilai dolar dan aset yang dihargai dolar, termasuk pekan depan.

Pertemuan The Federal Reserve pekan depan juga dinilai akan bisa mempengaruhi harga logam mulia. Emas sudah melacak dolar dan imbal hasil dari keputusan kebijakan soal suku bunga itu.

“Kebalikan untuk emas dibatasi oleh kekhwatiran bahwa the Fed akan menaikkan suku bunganya pekan depan. Ini alasan utama kita melihat banyak yang menjual emas mereka,” ujar Naee, Aslam, Kepala Pasar Analis di ThinkMarkets dilansir dari Marketwatch

“Kita memang berpikir bahwa kita sudah melihat ada banyak yang menjual emasnya jika The Fed menaikkan suku bunga. Apa yang penting adalah berapa kenaikan suku bunga the Fed yang akan kita lihat di tahun depan,” imbuhnya.

Prospek jangka panjang, Federal Reserve masih berpotensi akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan sehingga membuat dan membebani pergerakan emas, yang tidak memberikan keuntungan seperti investasi lainnya.

Fokus pasar bergeser pada pertemuan kebijakan Federal Reserve.

Semua mata akan tertuju pada pertemuan FOMC tanggal 14 – 15 Desember 2016. Diperkirakan, suku bunga AS akan dinaikkan.

Pasar masih akan berpikir jika the Fed menarik pelatuk. Apakah implikasi terhadap pertumbuhan ekonomi yang berpotensi akan terjadi.

Sebagian besar, pergerakan saham AS tertekan ketika rally pada harga minyak mentah menyentuh harga tertinggi dalam tujuh belas bulan.

Harga minyak naik, menjadi triger pergerakan rally melebihi lima persen setelah terjadi kesepakatan untuk memangkas produksi antara OPEC dan negara produsen lainnya.

Sementara saham-saham energi melonjak ketika kerugian terlihat pada saham-saham bank

Saham di bursa China merosot paling tajam sejak Juni di tengah kekhawatiran pasar properti siap bergerak menurun dan membuat harga Emas meningkat.

Treasuries AS mendapatkan tekanan dan mendorong yield obligasi 10-tahun berada di atas 2,5 persen untuk pertama kalinya sejak dua tahun ini

Komentar