Emas Mulai Menemukan Titik Cerah

Penulis: Darmansyah

Senin, 9 Januari 2017 | 10:30 WIB

Dibaca: 0 kali

Hari ini, Senin, pekan kedua bulan Januari, harga emas PT Aneka Tambang Tbk atau Antam menemukan momentum terbaiknya dengan naik Rp 2.000 per gram untuk bertengger di posisi i Rp 582 ribu per gram.

Akhir pekan lalu, harga emas Antam dibanderol Rp 580 ribu per gram.

Sementara harga buyback berada di level Rp 502 ribu per gram. Itu berarti, jika Anda menjual emas yang Anda miliki, maka Antam akan membayar Rp 502 ribu per gram.

Pembayaran buyback dengan volume di atas 1 kilogram  akan dilakukan maksimal dua hari setelah transaksi dengan mengacu pada harga di hari transaksi.

Antam menjual emas dengan ukuran 1 gram hingga 500 gram. Hingga pukul 08.58 WIB, hampir semua ukuran emas Antam tersedia. Hanya ukuran 500 gram saja yang tidak tersedia.

Sementara itu, harga emas global diprediksi akan terkonsolidasi usai catatkan penguatan secara mingguan.

Dolar Amerika Serikat dan imbal hasil surat berharga AS akan pengaruhi harga emas pada pekan ini.

Sebelumnya harga emas naik hampir dua persen

Pada pekan ini, sepi data ekonomi AS.

Namun analis memperkirakan pelaku pasar melihat sejumlah faktor antara lain pergerakan dolar AS dan imbal hasil surat berharga AS.

Ole Hansen, Kepala Analis Saxo Bank mengharapkan harga emas dapat kembali menguat di tengah ketidakpastian jelang inagurasi presiden terpilih AS Donald Trump pada 20 Januari 2017.

Dia menambahkan, ada sejumlah pertanyaan pelaku pasar mengenai kebijakan Donald Trump. Hal itu dapat membuat investor dan pelaku pasar menjauhi dolar AS, namun pegang emas.

Sementara itu, Analis Senior CMC Markets Canada Colin Cieszynski menuturkan, harga emas akan konsolidasi di kisaran US$ 1.172-US$ 1.200 per ounce.

“Penguatan dolar AS sudah selesai. Pasar juga akan hadapi kenaikan suku bunga sekitar empat hingga lima kali pada tahun ini,” ujar dia.

Bill Baruch, Analis iiTrader sepakat kalau dolar AS sudah terlalu agresif menguat respons dari kenaikan suku bunga bank sentral AS. Namun, dolar AS akan tertekan, dan berimbas ke harga emas.

Ia menambahkan, ekonomi AS masih diliputi ketidakpastian terutama soal kenaikan suku bunga. Ia memperkirakan bank sentral AS menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun ini.

Dengan kondisi pasar ini, Baruch menuturkan, bila harga emas berbalik arah ke US$ 1.150 per ounce maka itu potensi untuk membeli.

Sedangkan dalam survei analis the Main Street,  memprediksi harga emas akan naik.

Phil Flynn, Analis Senior Price Future Group melihat harga emas berpotensi naik.

Ia melihat, mata uang china turun dan pemerintah China kontrol aliran dana investor asing akan mendukung permintaan fisik emas. Hal itu dapat membuat harga emas menguat.

Presiden Direktur Phoenix Futures and Options LLC, Kevin Grady juga melihat harga emas akan kembali menguat. Apalagi dolar AS melemah sehingga membawa angin segar untuk harga emas.

P{ada pekan lalu harga emas  bergerak di level tertinggi dengan membuat pergerakan ke atas dan menyentuh level tertinggi lima minggu terbaru ketika permintaan investasi safe haven meningkat dengan mencari petunjuk kenaikan suku bunga AS pada tahun ini

Pasar saham AS tampaknya sedang berjuang untuk mempertahankan momentum karena investor mengurangi investasi beresiko ketika sejumlah analis terkemuka memperingatkan bahwa akan ada koreksi di pasar saham

Permintaan safe-haven masuk ke pasar obligasi dan mengakibatkan imbal hasil bagi membebani dolar dan memberikan penarik tambahan untuk logam emas menjelang laporan pekerjaan AS yang sangat penting.

Diperkirakan data nonfarm payrolls AS naik  pada bulan Desember dan tingkat pengangguran akan tercentang lebih tinggi

Hasil, survei ketenagakerjaan ADP AS menunjukkan ada kemungkinan beberapa risiko downside pada sektor gaji.

Harga emas telah meningkat secara signifikan dan telah berhasil naik ke atas dengan melampaui dua resistan penting. Harga emas berpotensi akan semakin meningkat lebih lanjut jika data ekonomi AS yang dirilis lebih buruk.

Data ekonomi dari Cina yang akan dirilis dalam beberapa minggu mendatang diperkirakan akan memberikan informasi bahwa negara ekonomi terbesar kedua di dunia akan melakukan momentum padat pada tahun ini, karena kebijakan stimulus pemerintah dan booming sektor konstruksi akan meniupkan pertumbuhan ekonomi.

Komentar