Emas Hari Ini Mentok Diharga Tertingginya

Penulis: Darmansyah

Rabu, 17 Oktober 2018 | 08:49 WIB

Dibaca: 1 kali

Setelah dua hari mengalami pasang naik harga, hari ini, bersamaan dengan melemahnya dollar, harga emas tidak mampu melonjak.

Harga emas stabil pada perdagangan hari ini,” tulis laman keuangan terkenal “Bloomberg.”

Menurut laman itu pelemahan dolar AS diimbangi oleh kenaikan pasar saham.

Biasanya, pelemahan dolar AS mendorong kenaikan harga emas tetapi karena pasar saham bergairah maka investor lebih memilih untuk mengalihkana portofolio di saham.

Harga emas di pasar spot tidaak berubah

Pada Sesi sebelumnya harga emas sempat mencapai level tertingginya untuk setiap ounce.

Untuk harga emas berjangka AS ditutup naik.

“Pasar saham tengah membaik karena data menunjukkan bahwa laporan keuangan beberapa emiten membaik. Hal itu menghalangi harga emas untuk melanjutkan reli,” jelas analis INTL FC Stone, Edward Meir.

Sebenarnya, harga emas tengah mendapat angin segar karena pelemahan dolar AS. Namun kesempatan ini sulit untuk tterwujud karena pasar ekuitas.

Indeks dolar AS turun ke posisi terendah dalam dua pekan pada perdagangan Selasa. Sementara mata uang negara-negara berkembang mampu menguat.

Di sisi teknis, harga emas diperdagangkan di kisaran rata-rata USD 1.227 per ounce.

Pada perdagangan sebelumnya, harga emas naik lebih dari  satu persen ke level tertinggi dalam dua setengah bulan karena para investor beralih ke logam mulia setelah memuncaknya ketegangan antara Amerika Serikat  dan Arab Saudi yang memperparah kegelisahan di pasar saham global.

“Emas kini mendapat penarik yang lebih kuat dari aksi investor menyelamatkan diri dari aset berisiko,” kata analis dari Quantitative Commodity Research Peter Fertig. “Langkah selanjutnya dari emas akan tergantung pada berapa lama sell-off ini berlanjut.”

Saham global berada di bawah tekanan, dengan saham Eropa menyentuh terendah dalam dua puluh dua bulan dipicu sejumlah faktor termasuk sengketa perdagangan AS-China, meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan kekuatan barat, negosiasi Brexit yang macet dan kekhawatiran atas perlambatan ekonomi di China.

Dana Moneter Internasional mengatakan pekan lalu bahwa risiko terhadap sistem keuangan global yang telah meningkat selama enam bulan terakhir, dapat meningkat tajam jika tekanan di pasar negara berkembang meningkat atau hubungan perdagangan global memburuk.

Sehari sebelumnya, Selasa,  harga emas dunia  mencatat harga tertinggi bersamaan dengan munculnya ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Seperti ditulis laman keuangan terkenal “Bloomberg,” Selasa pagi WIB, kenaikan ini melebihi satu persen dan merupakan yang tertinggi dalam dua setengah bulan terakhir.

Bersamaan dengan kenaikan itu pula para investor mulai  beralih ke logam mulia

Investor merasa lebih amat dengan investasi emas  setelah memuncaknya ketegangan antara Amerika Serikat  dan Arab Saudi yang memperparah kegelisahan di pasar saham global.

Seperti ditulis “Bloomberg,”  harga emas di pasar spot naik satu persen per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sejak akhir Juli lalu

Harga emas berjangka AS juga  naik satu persen

“Emas kini mendapat penarik yang lebih kuat dari aksi investor menyelamatkan diri dari aset berisiko,” kata analis dari Quantitative Commodity Research Peter Fertig. “Langkah selanjutnya dari emas akan tergantung pada berapa lama sell-off ini berlanjut.”

Saham global berada di bawah tekanan, dengan saham Eropa menyentuh terendah dalam dua pulouh dua bulan dipicu sejumlah faktor termasuk sengketa perdagangan AS-China, meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan kekuatan barat, negosiasi Brexit yang macet dan kekhawatiran atas perlambatan ekonomi di China.

Dana Moneter Internasional  mengatakan pekan lalu bahwa risiko terhadap sistem keuangan global yang telah meningkat selama enam bulan terakhir, dapat meningkat tajam jika tekanan di pasar negara berkembang meningkat atau hubungan perdagangan global memburuk.

Emas, biasanya menjadi penyimpan nilai yang aman selama ketidakpastian politik dan ekonomi, tetap turun sekitar sepuluh persen dari puncaknya di bulan April, dengan para investor memilih dolar AS ketika perang perdagangan AS-China dibuka dengan latar belakang suku bunga AS yang lebih tingg

Komentar