Emas Ambil Keuntungan dari Bom Sarinah

Penulis: Darmansyah

Jumat, 15 Januari 2016 | 10:16 WIB

Dibaca: 0 kali

Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam mendapat dukungan dari tragedi ledakan bom Sarinah di Jakarta, yang disertai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS

Harga emas Antam dikutip dari www.logammulia.com pada Jumat, 15 Januari 2016, naik Rp 1.000 menjadi Rp 546.000 per gram dibandingkan sehari sebelumnya.

Namun sepekan terakhir, emas Antam tergerus.

Sedangkan harga buyback naik Rp 1.000 dari hari sebelumnya ke Rp 486.000 per gram atau flat dibandingkan sepekan sebelumnya.

Analis PT SoeGee Futures, Alwi Assegaf melihat, pergerakan harga emas global berada di level bottom.
Namun, potensi penurunan tahun ini masih terbuka mengingat prospek kenaikan suku bunga Fed.

Penurunan harga emas global bakal turut menyeret harga emas batangan Antam. Di sisi lain, pelemahan rupiah justru dapat mengangkat harga emas batangan.

Pelemahan rupiah dipicu serangan teror di Jalan MH Thamrin, Jakarta serta pemangkasan suku bunga Bank Indonesia.

“Selama rupiah melemah, harga emas batangan akan bertahan di tengah pelemahan harga emas global,” ujar Alwi.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim memperkirakan, harga emas Antam tahun ini berpeluang menguat.

Fluktuasi harga emas global akan terus terjadi. Namun, ancaman pelemahan rupiah mendorong investor mengoleksi emas batangan.

“Harga emas Antam cenderung lebih stabil jika dibandingkan emas global,” ujar Ibrahim. Di semester I-2016, kondisi ekonomi global diperkirakan belum berubah dibandingkan dengan tahun lalu.

Imbasnya, harga komoditas turun karena minimnya permintaan.

Namun, Ibrahim optimistis perekonomian membaik di semester II-2016. Saat itu harga komoditas bisa rebound.

Di samping itu, pelemahan harga minyak dunia dapat membuat AS sebagai salah satu produsen minyak terbesar terancam krisis ekonomi.

Ini kemungkinan menjadi pertimbangan The Fed dalam menaikkan suku bunga.

Di pasar global, usai mengalami jungkir balik harga, hari ini, emas memantapkan diri berada di tingkat harga tertinggi untuk tahun ini bersamaan dengan pulihnya pasar saham AS yang mengambil keuntungan dengan melakukan aksi jual ketika dolar melemah setelah sempat menguat pada minggu ini.

Harga emas pada pertengahan sesi kembali naik ketika beberapa aksi short covering dan bargain hunting dilakukan menyusul tekanan jual yang terlihat pada awal pekan ini.

Indeks dolar AS tertekan oleh harga minyak yang terlihat bergerak ke atas yang akhirnya mendorong minat beli di pasar emas.

Emas berbalik mendapatkan keuntungan pada hari Rabu setelah dolar tertekan dan memberikan dukungan kepada emas ketika pasar melihat tanda-tanda permintaan emas fisik meningkat.

Permintaan emas datang dari bank sentral global, yang menambahkan cadangan lima puluh lima ton pada bulan November, menurut data yang dirilis World gold Council.

Cina dan Rusia terlihat sangat aktif menambah cadangan emas sebanyak dua puluh satu ton dan dua puluh dua ton.

Cina merilis data resmi pada minggu lalu yang menunjukkan bahwa mereka menambah kembali cadangan emas sebanyak sembilan belas ton pada bulan Desember.

Harga emas mendapat support pada hari Rabu ketika terjadi volatilitas di pasar saham Eropa dan AS. Awal pekan ini, logam emas jatuh dari harga tertinggi karena pasar saham kembali menguat.

Pasar saham telah menjadi ukuran stabilitas ekonomi setelah saham global sempat menurun drastis selama awal minggu perdagangan pada tahun ini.

Secara tradisional, emas telah dianggap sebagai aset safe haven yang membuat investor beralih kepada emas selama masa gejolak di pasar.

Stabilitas pasar saham pada minggu ini telah membawa harga emas kembali turun ke level USD 1080 per troy ounce, sebelum akhirnya melakukan rebound pada Rabu sore.

Harga emas meningkat didorong melemahnya dolar Amerika Serikat dan anjloknya pasar saham, yang memberikan lebih banyak peluang kenaikan permintaan untuk logam mulia.

Harga emas berjangka untuk Januari naik di divisi Comex New York Mercantile Exchange, melansir laman Wall Street Journal. Kamis pagi WIB.

Investor kembali memborong emas karena mereka yakin nilai logam mulia lebih baik dibandingkan aset lain selama periode inflasi tinggi.

Banyak pedagang merasa murahnya harga minyak dan gas alam bisa menyebabkan inflasi, dan sekali nilai tukar dolar memudar akan menjadi batu loncatan harga emas batu.

“Namun ini kebanyakan semua tentang dolar,” jelas George Gero, Wakil Presiden Senior RBC Capital Markets Futures Global.

Emas juga mendapat dukungan dari anjloknya pasar saham AS, di mana baru-baru ini Dow Jones diperdagangkan turun hampir dua persen.

Investor memilih mencari emas sebagai aset pengaman di masa lalu ketika pasar komoditas lain melemah.

Komentar