Sapaan “Santos”: “Ngon Sudah Merdeka”

Penulis: Darmansyah

Rabu, 11 September 2013 | 16:05 WIB

Dibaca: 1 kali

Beginilah kondisi jalan di perbatasan Sumut-Sumbar di Desa Rao menuju Lubuk Sikaping yang dilewati Jelajah Sepeda Kompas-PGN Sabang-Padang di etape sebelas

Hanya karena “Santos” kami masih gairah untuk “ikut” menulis Jelajah Sepeda Kompas-PGN Sabang-Padang sampai hari ini. Padahal ,di awal “keikusertaan” kami dalam jelajah ini, disebabkan rangsangan gairah karena etape yang mereka pilih adalah “negeri seribu duka” di pesisir “Aceh Ketelatan.” Karena “Santos”pulalah, yang terus menerbangkan pesan pendek dan gelitik percakapan jarak jauh kami menemukan momentum untuk membalik kembali “kitab” kenangan ke “lintasan sutra” Tarutung-Padangsidimpuan atau pun Padang Sidimpuan-Kotanonpan.

Bakda zuhur, Rabu, 11 September 2013, ketika kami “ngopi,” sebagai bagian ritual pertemanan, nada panggil di “phone seluler” kami memunculkan nama “Santos” dari seberang negeri sana. Setengah memelas kami meng”klik” tombol terimanya dan menghampirkannya ke kuping dan ber”hello” sapa dengan salam.

Dengan penuh gairah, khas gaya “Santos” menyapa, ia mengabarkan sudah berhasil meluaskan “jajahannya ke Sumatera Barat. “Kami sudah melewati Tugu Rao Mapat Tanggul dan sedang melaju ke Lubuk Sikaping,” ujarnya.

“Santos,” hari itu, masih mengeluhkan etape yang membuat sepedanya sering berdegup. Terjerembab ke lubang tanah dari jalan yang rusak. Ia masih tetap mengacungkan pujian terhadap ruas dan etape ketika gowes di pesisir bara-selatan Aceh.

“Memang infrastruktur jalan di negeri bertuah yang menjadi tanah pusaka “ngon” melambang semangat merdeka. Ya, kenapa nggak merdeka sendirian saja sehingga bertanah air satu, Aceh,” ujarnya memprovokasi kami agar terbawa dengan langgam semangatnya yang tak pernah padam

Hari Santos menelepon kami di perjalanan Tugu Rao Mapa Tunggal- Lubuk Sikaping, gowes Jelajah Kompas-PGN memang sedang menempuh etape ke sebelas Kotanopan-Lubuk Sikaping. Etape ini merupakan ppelintasan provinsi ketiga setelah Aceh dan Sumatera Utara untuk tiba di Sumatera Barat sepanjang 101 kilometer.

Sehari sebelumnya, di Kotanopan, Mandailing Natal, yang sering di sapa dengan Kabupaten Madina, tim untuk pertama kalinya bermalam dalam suasana “miskin.” Mereka berhimpun disebuah “gudang,” yang bernama pasanggrahan, tidur berhimpitan enam tujuh orang di satu kamar dan memakai selimut “sleepingbag.”

Maklum, di kota kecil dekat perbatasan Sumut-Sumbar itu tak ada hotel atau losmen kelas melati sekali pun.
“Prihatin,” kata “Santos” tentang suasana di Kotanopan. Ia memberitahukan, para peserta jelajah dianjurkan panitia untuk berangkat ke tempat tidur bila memang sudah sangat mengantuk.

Kebanyakan peserta mengaku baru kali itu mengunjungi Kotanopan. Nama daerah itu juga masih terdengar asing di telinga mereka. “Belum pernah dengar daerah Kotanopan sebelum mengikuti Jelajah Sepeda ini,” ujar “Santos,” yang kutu buku dan sering memamah nama-nama negeri di nusantara ini karena ia memang petualang.

Ketika berangkat dari Padangsidimpuan menuju Kotanopan, mata peserta dimanjakan dengan pemandangan perbukitan. Jelajah Sepeda lebih banyak menjajal jalur menurun dibanding etape sebelumnya. “Jalan relatif datar bahkan masih banyak turunan menuju Kota Nopan. Pemandangannya bukit-bukit begitu memasuki Mandailing Natal,” ujar “Santos..

Banyak peserta Jelajah Sepeda dinilai dibuat lebih mengenal banyak wilayah di Indonesia. Kali ini, mulai dari Sabang sampai Padang. Jujur, kata peserta, ini pengalaman luar biasa. Apalagi, daerah Sabang karena keelokannya dan Aceh karena peritiwa tsunaminya..

“Masyarakat yang dilewati sangat-sangat bersahabat. Di beberapa titik saya sempat berhenti hanya untuk ambil foto anak-anak yang sangat antuasias menyambut kita,” kenangnya.

Dengan meninggalkan Kotanopan, tim Jelajah Sepeda sekaligus mengakhiri perjalanan di wilayah Sumatera Utara. Mereka akan memasuki wilayah Sumatera Barat, setelah menempuh jarak sepanjang 33 km dari Kotanopan.

Sehari sebelumnya tim Jelajah Sepeda Kompas-PGN telah menyelesaikan etape sepuluh Padang Sidempuan-Kota Nopan 113 kilometer. Selama perjalanan ke Kotanopan, mereka berada di ketinggian 180 mdpl hingga 457 mdpl. Udara mulai tidak terlalu dingin dari etape sebelumnya.

Jelajah Sepeda melewati Desa Sayurmatinggi, Desa Badajulu, hingga Mandailing Natal. Setibanya di Kotanopan, peserta akan bermalam di sebuah pondok atau rumah karena tidak ada hotel di sana. Mereka akan tidur berselimutkan sleeping bag.

Pada etape ini peserta akan melintasi perbatasan antara Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Mereka akan memasuki wilayah Sumatera Barat setelah menempuh jarak sepanjang 33 km.

Setelah itu akan melanjutkan perjalanan melewati Tugu Rao Mapat Tanggul. Setelah gowes sepanjang 95 km, peserta sampai di gerbang Lubuk Sikaping. Kemudian menyelesaikan perjalanan hingga tiba di Wisma Lubuk Sikaping.

Bila sudah menyelesaikan etape sebelas Kotanopan-Lubuk Sikaping, para penjelajah, Kamis 12 September 2013 akan menyisakan dua etape lagi untuk menggapai Padang

Etape keduabelas yang akan mereka tebas adalah Lubuk Sikaping-Bukit Tinggi sepanjang 78 kilommeter. Dan etape ke ketiga belas Bukit Tinggi-Padang, 150 kilometer.

Dalam perjalanan Kamis rombongan akan melintasi Tugu Katulistiwa Bonjol. Mereka akan disuguhi pemandangan alam yang asri. Setelah bermalam di Bukit Tinggi, keesokannya gowes akan turun ke Padang.
Inilah etape terakhir Jelajah Sepeda Sabang-Padang. Pada jalur ini mereka akan melewati daerah

Batusangkar menuju Danau Singkarak dengan melewati Pabalutan, Padang Mangek, Padang luar. Setelah itu akan menyusuri Danau Singkarak menuju Solok. Mereka akan melewati Gunung Talang, Gudang Guguk, dan tibalah di Padang.

Dengan finis di Padang, Jelajah Sepeda dengan rute Sabang, Aceh hingga Padang, Sumatera Barat, yang merupakan jelajah kelima yang digelar harian Kompas akan berakhir.

Dalam tulisan di “kompas yang kami kutip, sebanyak 46 peserta yang ambil bagian pada kegiatan ini bukanlah atlet balap sepeda. Mereka datang dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Ada dokter, pengusaha, pegawai swasta, pegawai negeri sipil, wartawan, pelajar, hingga ibu rumah tangga, mulai dari usia 20-65 tahun, yang berbaur untuk gowes bersama. Perjalanan yang dipimpin Road Captain Marta Mufreni ini diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.

Perjalanan Jelajah Sepeda dimulai 31 Agustus 2013 di Sabang dan berakhir 13 September 2013 di Padang. Total jarak yang akan ditempuh mencapai 1.539 Km.

Perjalanan ini bukan kompetisi, melainkan untuk menjalin kebersamaan. Perjalanan tim Jelajah Sepeda juga dilakukan untuk menemukan persoalan setiap daerah yang dilintasi, sekaligus mengabarkan keindahannya.

Komentar