Romantisme “Uroe Raya” Belanja di Pasar Ikan Lama

Penulis: Darmansyah

Rabu, 6 Maret 2013 | 15:29 WIB

Dibaca: 1 kali

JALAN  Perniagaan, pagi ketika kami datang  masih  sepi. Pertokoan,  yang berbanjar di dua sisi jalan, baru satu dua yang buka dan ditandai bunyi keletak keletok kunci gembok dipreteli disertai suara riuh  kreeekkkhh  bersahutan dari terali besi yang di sorong.

Seorang tukang parkir  yang baru saja keluar dari gang sempit di pantat pekarangan belakang rumah “museum” Tjong Afie, usai bersalin baju “dinas,” mengepit buntalan tas diketiaknya.  “Kegiatan di sini belum dimulai. Pukul sepuluh,” ujar tukang parkir setengah baya itu berceloteh acuh, sedikit ramah  dan melengos ketika kami mendekat. Ia, sepertinya,   ingin berbasa basi  memberitahu kami tentang denyut kegiatan.

Di kejauhan seorang penjual buah yang  sedang mengatur kotak dagangannya, dan sejak  tadi menatap ke arah  kami,  mengiyakan lewat  anggukkan ketika kami menatapnya. Melempar  senyum, ia memaksakan  keramahan  yang sekaligus  memanfaatkan momen itu  dengan menunjuk pada kotak kaca jualannya sebagai promosi dagang.

Jam memang belum tiba di angka sepuluh di pagi yang mendung itu. Tapi puluhan mobil  dengan initial  plat BL,  dari bermacam type,  baik yang berplat pribadi  maupun berplat dinas,  tentu saja  dari berbagai kota di Aceh,  yang berbaur dengan kenderaan berplat BK sudah sejak tadi berjejer,  parkir memanjang hingga ke ujung jalan Kumango dan kisi-kisi Jalan A Yani..

Sepagi itu dominasi mobil berplat BL memang mengalahkan  mobil berplat BK. Dan tak ada yang aneh dari bauran pendatang yang ada di sana.. Bahkan saking kepagiannya  sekumpulan  sopir yang bercas.. cus… dengan dialek kelat, khas Aceh,   dan berbaur dengan para “kek” asal  hokian yang sedang bercincai ria  di warung kopi milik seorang cina  tua, di Jalan Yani IV..

Jalan Perniagaan, persis di jantung Kota Medan, di pagi akhir pekan itu, seperti dikatakan dengan suara merendah si penjual buah, yang kemudiannya kami tahu ia berasal dari Peureulek, Aceh Timur,  memang selalu diramaikan oleh “syedara gampong.” Mereka umumnya datang dari kabupaten perbatasan yang memiliki rumah di berbagai komplek atau perkampungan di seputar Medan dan mengisi akhir pekannya dengan  ritual “shopping” berburu bahan busana di kawasan itu.

Sang penjual buah yang sudah lima belas tahun menjalani hidup di sudut sempit gang itu hafal betul tipikal “syedara” dan sekali sergap ia bisa mengurai daerah asal mereka.”Saya tahu darimana mereka berasal. Dialek, tingkah dana gaya mereka bisa mencerminkan muasalnya secara kultural.”

Bahkan dengan cermat pula  si penjual buah juga tahu pilihan belanja keluarga Aceh yang berkunjung ke Jalan Perniagaan itu. “Mereka biasanya boros dan kalau menawar biasanya nyinyir. Bertele-tele. Ada yang berputar-putar di sini untuk mendapatkan harga miring hingga seharian. Tapi makannya di Restoran Garuda sana yang bayaran bisa ratusan ribu rupiah,” ujarnya menunjuk pada rumah makan selera pada di jalan Palang Merah dengan suara terkekeh.

Biasanya pula mereka datang dengan keluarga. “Berjamaah” ujar si penjual buah yang bisa membedakan antara mereka yang menetap dengan pendatang dari  raut muka dan tingkah  mereka. “Saya sudah lima belas tahun di sini. Saya bisa membedakan daerah asal pengunjung dari dialek mereka serta bagaimana mereka bertingkah.  Sabtu dan Minggu adalah hari-hari puncak rezeki saya,” kata si penjual buah yang  sering di panggil dengan sapaan “tengku”  oleh para langganannya itu dan ternyata juga punya daftar langganan tetap.

Terletak  di pusat Kota Medan,  Jalan Perniagaan adalah bagian yang tak terpisahkan  dari  kawasan masyhur, Pasar Ikan Lama. Sebuah kawasan yang terkenalnya melebihi keterkenalan Kota Medan sendiri. Terutama bagi  “penggila”  tekstil  yang berasal dari  sudut manapun di Aceh.

Tak percaya? Tanyakan saja pada setiap perempunan “matang” sejak dari Subulussalam sana hingga ke udik Gayo Lues sampai Kluet di Aceh Ketelatan. Dan jangan gelitik ingatan wanita di pesisir timur tentang Pasar Ikan Lama. Mereka pasti bereaksi dengan kisah panjang tentang bahan busana sampai jenis gorden yang noraknya minta ampun “kampungan”nya.  Bahkan  para calon jamaah haji asal Aceh, sebelum berangkat,  seolah-olah mewajibkan “rukun” ritualnya  bertakziah ke kawasan ini berburu mukenah, jilbab, kain ihram hingga baju koko serta sajadah untuk buah tangan.

Di Pasar Ikan Lama   para pembelanja memang dimanjakan  dengan ketersediaan  barang kebutuhan “pokok” segala tetek bengek kebutuhan  busana siap pakai,  bahan belum jadi  hingga gorden maupun  taplak meja.  Bagi perempuan “mature,”  berkunjung  ke Medan  belum absah jika belum menginjakkan kakinya  ke Pasar Ikan Lama.

Pasar Ikan Lama adalah kawasan segi empat yang diapit Jalan Stasion Kereta Api di sisi timur, Jalan Perniagaan di bagian barat. Di utara  serta selatannya ada Jalan Lapangan Merdeka dan Jalan Palang Merah. Karena letaknya yang strategis itu pasar ini di sebuat  sebagai  “anjung perdamaian.”  Mudah di akses dan dekat dari mana-mana.

Akses jalan menuju ke sana  juga tidak bersimpul. Bisa lewat Jalan Pemuda, depan  gereja dan sekolah khatolik,   kalau pengunjung bergerak dari kawasan Sisingamangaraja, yang bertebaran “meunasah” Aceh, tempat favourit menginap para “sedara.”

Dari  Jalan Katamso, di kawasan Kampung Baru juga bisa ditempuh secara lurus dengan belok kanan ke Jalan PalangMerah dan menikung ke kiri arah  samping Restoran Garuda. Bisa juga  memutar Lapangan Merdeka  dengan melewati Jalan Kereta Api bila perjalanan berpangkal dari arah Gatot Subroto atau pun Glugur  atau juga dari Kampung Keling.

Cabang jalan menuju ke pusat belanja tekstil itu  pun tidak berliku alias mudah. Kalau pun kesulitan,  tanyakan saja pada sopir angkot, abang becak ataupun pengemudi taksi. Langsung  mendapat  anggukan.

Pagi itu kami parkir di depan sebuah toko tekstil JK. Dari balik kaca mobil kami bisa melihat para pengunjung yang keluar masuk. JK, pasti bukan singkatan Jusuf Kalla,  adalah sebuah toko tekstil paling lengkap milik seorang cina kek dan paling diminati para istri pejabat karena di sana “kebutuhan” bahan busananya sangat prestiseus. Sebut saja kain brokat dan renda francisnya yang  harganya diatas satu juta rupiah permeter.

Seorang kawan dengan senyum masam, ketika kami berceloteh tentang selera nyonya pejabat “kita,” menggelengkan kepala tentang selangitnya harga gengsi itu, dan mengatakan,”kalau bukan duit lotre mana mampu mereka membelinya.” Entah ceceran duit lotre atau kkn sepertinya para nyonya pejabat ingin mengembalikan duit jin itu keasalnya.

Pasar Ikan Lama tidak hanya Jalan Perniagaan dan toko JK. Pasar Ikan Lama sesungguhnya adalah petak segi empat yang di pagar  pertokoan Jalan A Yani V, Jalan Kereta Api, Jalan Palang Merah dan Jalan Perniagaan sendiri. Di kawasan  itu terdapat ratusan kios yang dibelah oleh gang-gang kecil. Sumpek dan hiruk pikuk yang menyebabkan pengunjung bisa terjangkit asma dadakan.

“Itu pula nikmatnya,”  ujar seorang teman ketika kami bertemu di sebuah ujung lorong. Sang teman yang mengantarkan istrinya menelusuri gang sempit  yang berhimpitan dan dihiasi gaba-gaba segala macam jenis busana, mukenah dan sebagainya, hanya bisa tertawa getir tentang hobi para nyonya gede-an ini menghabiskan uang “honor” proyek.

Ketika kami menelusuri gang-gang sumpek itu, untuk membuktikan kawasan itu sebagai  ajang kekerabatan  para “syedara” dan “inong balee,” langkah kami banyak tersendat untuk menyimak percakapan takzim pengunjung dalam dialek berdetakyang cas cis cusnya menandai mereka dari “nanggroeu aso lhok.”

Terkadang, juga,  kami dikejutkan oleh sapaan mendadak yang sangat khas “jamee,”  gembur  dan sedikit tengkak atau pincang dari “dunsanak”  yang menghamburkan ocehan tentang perjumpaan tak di sengaja sesudah  belasan tahun tak pernah bertemu. Kata pertama yang dilontarkan mereka adalah,” masih hidup ya.”  Ucapan yang dihamburkannya, terkadang sangat tidak etis. Apalagi suaranya yang bagaikan loudspeaker sember membuat pengunjung lain melengos, sinis dan berlalu dengan senyum hambar.

Di sebuah kios, yang termasuk agak besar, milik seorang pedagang asal Bukittinggi, kami sempat meramah-ramahkan diri menghela kabar-kabari. Dari  “ajo” yang telah membuka usaha lebih dari duapuluhtahunan itu dan punya puluhan pelanggan asal “naggroeu” sana kami diberi informasi tentang banyaknya “okabe” Aceh selama lima tahun terakhir.

Ada pergeseran signifikan “style” anak “aso lhok.”  Dan sang “ajo” dengan nada tanya, yang ia sendiri sudah tahu jawabannya, mengatakan,”orang Aceh itu sudah banyak yang kaya, ya.  Di sana banyak proyek.”

Kami tak paham apa yang dikatakan pedagang asal Koto Gadang, Bukittinggi itu. Yang kami mafhum, dari ekspresinya, ia senang dengan kemakmuran yang sedang melanda Aceh hari-hari pasca perang. Ia tidak tahu komposisi warga miskin yang kini jumlahnya meruyak bagaikan penyakit kurap. Yang ia tahu, kini, dagangannya laris dan jumlah pengunjung bertambah.

Bahkan sang “ajo” bisa berkelakar, “kalau  sebelumnya mereka sangat licin dalam menawar, kini sudah longgar. Kalau dulu pilihan belanja mereka menengah ke bawah, kini telah bergerak ke menengah atas. Kami pun sudah mengubah pola jualan,” kata sang “ajo” tentang pergeseran pola selera para “inong balee.”

Ungkapan sang “ajo” sama sebangun dengan jawaban para pedagang di Pasar Petisah. Sebuah pasar tekstil yang menjual jilbab, asesoris dan pakaian jadi di kawasan Petisah di ketiak barat Jalan Gatot Subroto. Walau pun status eksistensinya di bawah Pasar Ikan Lama, pasar ini juga menjadi tempat berburu para pembelanja “mature” yang berasal  dari  kampung-kampung “aso lhok.”

Pasar berlantai dua ini banyak diceritakan sebagai garis kedua para pembelanja wanita klas menengah  “nanggroeu”  menggelontorkan uangnya. Pembelanja yang selalu menyebut kata “murah”  dalam pertukaran kata di antara sesamanya dan tak mengerti tantang “tipu medan” yang menjerat ketergantungan mereka. Jerat yang mendegradasikan “Pasar Atjeh” atau pun “Pasar Gambe” dan pasar-pasar lainnya sebagai tempat duit recehan dibelanjakan

Pasar-pasar yang mengironiskan ekonomi Aceh sebagai klas kampung dan hanya didatangi oleh “nyak-nyak” penjual sayur dari udik  gampong marjinal ataupun para “muge” yang mencicil hasil jualan “eungkot jinara”  untuk disisihkan membeli sarung dan baju koko baru ketika “uroe raya” datang.

Komentar