Mencari Letak “Heritage” Asrama Dipo

Penulis: Darmansyah

Senin, 5 Mei 2014 | 15:29 WIB

Dibaca: 5 kali

Bangunan Rumah Sakit Militer tempo doeloe yang menjadi bagian dari Asrama Dipo dan Asrama Kuta Alam

Jejeran rumah panggung, bertiang beton, setinggi dua meter, dengan kebun pisang di tiap sudut pelimbahannya itu, diakhir tahun tujuhpuluhan itu telah raib.

Tak satu jejakpun yang bisa mengantarkan kita untuk mengingat kembali kompleks tentara, kini padat pertokoan itu, di seberang kantor Kodam Iskandarmuda, dengan nama asrama Dipo itu.

Yang kita dapatkan, kini, adalah sebuah rute jalan melingkar dan bangunan pertokoan sepanjang jalan Sri Ratu Safiatuddin tembus ke pangkal paha jalan Panglima Polem serta memutar lagi di depan Hotel Sultan.

Kompleks rumah panggung itu sudah menjadi kawasan strategis karena dihampiri banyak simpang, yang dibagi dari bundaran Simpang Lima, ke arah timur Banda Aceh dan menjadikannya sebagai nadi ekonomi kota.

Di kawasan ini terkonsentrasi bank-bank swasta, pusat penjualan “hand phone” dan perkantoran bisnis. Jangan lupa, di timur ini pula, domisilinya pusat jajanan Rex.

Kawasan belahan timur Banda Aceh, kota yang dibelah oleh Krueng Aceh, semula, ditahun 1800-an adalah tanah kosong berkontur rendah milik para ulee baling, bangsawan Aceh, yang ditanami pohon kelapa.

Seusai penaklukan Koetaradja, dan konsolidasi keamanan di Kuta Dalam sudah berakhir, Belanda mulai melebarkan pembangunan infrastruktur perumahan tentara dengan melirik tanah di seberang Krueng Aceh, milik para ulee balang, yang kebanyakan telah menyingkir ke pedalaman.

Salah satu areal yang dijadikan perumahan tentara itu adalah asrama Dipo. Asrama Dipo tidak berdiri sendiri. Ia menjadi satu kesatuan dengan dengan asrama lainnya, seperti Kuta Alam, Pantee Pirak, asrama Gajah dan sebuah gereja Kristen katolik, Hati Kudus, beserta asrama susterannya.

Kini “susteran” itu menjadi milik Kodam Iskandarmuda, setelah pernah jadi sekolah menengah Islam dan sekolah guru Bantu. Dikawasan ini pula terdapat rumah sakit tentara.

Menurut catatan, areal ini, yang berujung, di baratnya,Titi Pantee Pirak, kawasan swalayan milik pengusaha lokal Abubakar ini,, hingga jembatan Surabaya dan melingkar ke kawasan tanah milik Yayasan Aceh Studi Fonds, kini desa Kuta Alam.

Kawasan persisnya, bekas tangsi-tangsi tentara itu, sekarang, melingkar dari jalan Pantee Pirak, Sri Ratu Safiatuddin, Khairil Anwar, Panglima Polem hingga Jalan Kuta Alam, meliputi luas 110 hektar.

Tangsi rumah panggung itu, dulunya, sebelum di ruislag, memang bernama asrama Dipo. Sebuah tangsi di sepanjang jalan Sri Ratu Safiatuddin, kearah pasar ikan, dan Jalan Panglima Polem yang membatasi kampung pecinaan Penayong dengan desa Mulia dan Desa Laksana.

Kawasan ini juga melebar ke punggung Jalan Chairil Anwar hingga berujung di pusat jajanan Rex (dulunya lokasi bioskop Rex milik keturunan India) yang heboh menjadi perkara gugatan perdata di pengadilan negeri Banda Aceh karena di bongkar paksa walikota Teuku Oesman Jakob.

Jejak asrama Dipo, sekarang, hanya bisa kita urut dari Jalan Sri Ratu Safiatuddin hingga memutar di Jalan Sultan Hotel dan berujung di Rex. Sebuah kawasan seluas satu hektar lebih, sejak dari apotik dan praktek bersama dokter Ratu Farma hingga Photo Studio Diana dan Nokia Center, dengan Sultan Hotel, penginapan berbintang dua yang sangat prestesius waktu itu, di tengahnya sebagai ikon komplek.

Sesuai dengan namanya, Dipo, berasal dari kata depo. Perbekalan. Dan asrama ini awalnya juga dihuni oleh tentara dari kesatuan perbekalan. Tentara yang mengatur logistik bagi pasukan yang akan melakukan ekspansi ofensif ke pedalaman Aceh sekaligus menyediakan perbekalan bagi pasukan pendukung yang berada di markasnya, Koetaradja.

Asrama Dipo, berkontur tanah menurun kearah pusat jajanan Rex bila kita memintasnya dari arah Simpang Lima. Akibat kontur tanah itu bangunan asramanya, sebagaimana banyak bangunan tangsi di Koetaradja, seperti Kuta Alam,

Keraton maupun asrama Neusu, harus disangga tiang beton guna menghindari genangan air pasang dan banjir tahunan, ketika itu, dari luapan Krueng Aceh.

Dengan kontur lahan yang melandai ini, sewaktu terjadi tsunami di Desember 2004 lalu, jalan Panglima Poleh dan Jalan Tengku Daoed Bereueueh berfungsi sebagai tanggul penahan gelombang dan banyak menyelamatkan warga dari kematian.

Kontur tanah ini memang merupakan khas Banda Aceh yang permukaan daratannya lebih rendah dari permukaan laut. Dan para perancang Belanda, dulunya, menyadari benar kondisi ini sehingga Banda Aceh banyak dipenuhi tanggul, pipa-pipa buangan dan mesin pompa air.

Menyadari kontur kawasan macam begini, maka master plan bangunan perumahaan, termasuk tangsi tentara, pada waktu itu, disangga beton dan bangunan rumahnya sendiri terdiri kayu, dan pasti ditandai oleh tangga yang tingginya bervariasi.

Dan, menurut Ridwan Azwar almarhum, seorang pemerhati sejarah dan pernah bekerja sebagai staf honorer di PDIA, para perencana Belanda memang sangat terkenal dengan perhitungan tata ruang, terutama prakiraan banjir.

“Kan negeri mereka sendiri berada di bawah permukaan laut,”tuturnya.

Komentar