Mencari Birahi Minang di Jembatan Kelok 9

Penulis: Darmansyah

Kamis, 18 September 2014 | 14:05 WIB

Dibaca: 9 kali

Laporan perjalanan Arminsyah wartawan “nuga”

========

Hentakan saluang diliuk “cengkok” Minang suara Elly Kasim, dalam dendang “Kelok Sembilan,” yang menyembur dari “compact disk player” mobil kami, di siang Selasa, pekan pertama September lalu itu membuat saya bergoyang sembari memukulkan jemari ke setir, menghentakkan kaki serta menikmati elusan angin Singkarak yang sejuk.

Dengan suara sedikit fals, dalam tekuk suara “sember,” saya berupaya mengikuti intonasi “bamba” dengan perkusi yang “ketak-ketik” dari “Kelok Sembilan” yang riang. Ely Kasim, ranah Minang dan perjalanan “heritage” menyertai saya bersama jagung bakar dan kontur jalan yang bergelombang. Khas Minang dan Kabau.

Sembari berbisik ketika menarik pedal gas di penurunan Singkarak saya mengatakan ke salah satu teman yang menyertai perjalanan, dalam bahasa awak, ”iyo bana ka kito.”

Dengan ucapan itu saya menegaskan benar sekali keindahan untuk kita. Buka ke “ambo.” Benar juga ketika dalam keasyikannya kami bersua Simpang Panam setelah menikmati “nasi kapau” di Bukitinggi beberapa jam sebelumnya.

Alam “takambang” ranah Minang, di hari itu, sedang membasuh sapuan pandangan kami. Potret utuh dari “natural”nya Maninjau-Singkarak, sepertinya, mengulang kembali realitas “takziah” kami empat tahun lalu. Kami “takana” bagaimana gelitik angin dingin Singkarak dan rumah “gadang bagonjong” yang terus memberi harmoni negeri “batuah” ini.

Kami juga pernah merasakan betapa syahdunya ketika Singkarak menghampar dan terpaan angin lembutnya mengusap kami sembari mengingatkan tentang perjalanan silaturahmi ini milik semua orang yang mau menjenguk “minang.”

Saya sempat nanar ketika “turun” dari Bukittingi dan menyapa Payakumbuh, tak lupa memenuhi imbauan Bangkinang serta tersenyum ke Simpang Panam untuk memberi sapa kekaguman.

Uap nasi “kapau” Pasa Ateh masih menyisa di sendawa kami ketika menyaksikan Singkarak yang indah. Nasi “kapau” yang sangat khas dengan rempahnya yang komplit, dan selalu kami nomorsatukan sebagai kuliner wajib kala memenuhi panggilan Tanah Agam itu.

Ya. Bukittingi memang sebuah pesona bagi kami setiap kembali menjenguknya. Pasa Ateh, Jam Gadang, Ngarai Sianok dan sederet “kampuang tuo” menjadikan ia “heritage” di memori saya, dan “indak panah lakang di paneh dan hapuih di hujan.”

Perjalanan kami ke Minang kali ini memang mendahulukan “kenikmatan” ketimbang tujuan awal untuk sebuah “urusan.”

Sejak berangkat dari Medan menuju Solok lewat Sipirok, sehari sebelumnya, kami bertiga, saya bersama dua teman seperjalanan, memang ingin menghabisi jelajah Tanah Minang lewat celoteh kekaguman atas “Alam Takambang.”

Kali ini pula, ketika merancang perjalanan dari Medan, kami bertiga, sudah bertekad akan pulang lewat Payakumbuh.

Kali ini pula, kami sepakat melewati Payakumbuh untuk “mencari” sensasi baru dari “Kelok Sembilan.” Sebuah kelok atau belokan tajam yang dipatahkan oleh teknologi “bina marga” selama sembilan tahun masa konstruksinya.

Kelok yang dulunya menjadi pendulum serapah ketika ia banyak “membunuh” penziarah karena keangkeran, dan sulit ditaklukkan kerena sempit selain patahan yang tajam di pinggang “ngarai.”

***

Suara “uniang” Elly dari “compact disk player” yang sengaja kami putar berulang-ulang membuktikan “Minang Sakato” memang “Iyo ke Awak.” Minang yang indah menggoda oral kami untuk mengatakan “iyo bana.”

Dan perjalanan kami menjadi “hiburan” ketika “Kumbang Cari, Bareh Solok hingga Kelok Sembilan” menyahabati, yang sekaligus pula memberitahu tentang “nagari rancak elok diliek.”

Sesekali suara “uniang” Elly kami selingi dengan nyanyian “Ayam den Lapeh,” miliknya Nurseha untuk mengenang masa kejayaan “Orkes Gumarang” dengan petikan gitar akusitik Asbon yang “nakal” dan sedikit “mesum” dalam alunan musik “mambo.”.

Saya sendiri tak asing dengan “Gumarang” atau pun “Kumbang Cari.” Saya mengenal dan menyanyikan lagu itu di usia menanjak remaja. Untuk itu pula ketika ziarah ke Minang selalu mengingatkan saya tentang “kampuang nan dakek.”

Ya, “kampuang nan dakek” kali ini ada di Kelok Sembilan. Kelok yang telah di “update” dengan “menerjuni” bukit lewat jembatan di rahim ngarai.

Saya memang kesengsem dengan Kelok Sembilan. Dan ketika saya menjenguknya di siang itu ia sudah menjadi “tamasya” indah. Tamasya dengan barusan “uda” dan uniang” menjajakan jagung bakar dan “karupuk sanjai.”

Kelok Sembilan ketika saya datang sudah menjadi “pasar.” Saya, yang sebelumnya rajin “mengupdate” informasi seperti “tacangang” mengikuti perkembangan Kelok Sembilan versi terbaru, ketika ramai diberitakan sebagai jalan “wisata” terbaik yang pernah dibangun negeri ini.

Sebelum di “update” saya pernah melintasi Kelok Sembilan ini dari arah Pekanbaru menuju Bukit Tinggi.

Kala itu, saya menyetir sendiri Isuzu Panther. Saya melewati di sebuah malam dengan menuruni “tangga” demi tangga secara perlahan karena sempit sambil dituntun cahaya lampu mobil yang berlawanan arah.

Godaan akibat “takana” dengan Kelok Sembilan versi lama inilah, yang secara sengap memunculkan hasyrat untuk kembali lagi dengan arah sebaliknya agar bisa “memanjat” pendakian yang bak ular itu.

Teman saya, H. Grisbert Gope, tak kalah serunya ketika membuka kisah miliknya tentang kelok Sembilani. Ia pernah melaluinya dua belas tahun lalu dari arah Bukit Tinggi menuju Pekan Baru. Ia lebih beruntung, karena melaluinya di waktu siang hari. Tapi, tetap punya niat untuk kembali, seperti yang saya alami.

Teman saya satu lagi, Mustafa Absar, malah belum pernah samasekali melewati Kelok Sembilan. Makanya, ketika melihat video Kelok Sembilan di YouTube, ia begitu menggebu.

Dan hari itu, ketika hari di “rambang patang,” dan lirik Kelok Sembilan milik Elly Kasim berkumandang Kelok Sembilan telah ada dihadapan kami. Kami bergantian menyetir mobil naik-turun di jalan baru dan juga jalan lama yang masih disisakan sebanyak enam kelokan. Dan, cara kami ini juga dilakukan oleh mobil-mobil lain. Mungkin untuk bernostalgia.

Kelok Sembilan memang indah. Dan pantas anak-anak Minang selalu merindukankannya.

Pada tahun 1930-an Belanda telah membuka jalan tersebut, walaupun teknologinya terbatas yang dimiliki saat itu, dengan memotong bukit batu yang terjal untuk dapat dilewati kendaraan.

Kolonial Belanda menyebutnya sebagai “negen wendingen weg in Loeboek Bangkoeng,” artinya jalan kelok sembilan di Lubuk Bangku.

Tuntutan transportasi di zaman milenium tentu berbeda, infrastruktur tidak hanya bisa membuka isolasi tetapi juga mampu melayani angkutan barang dan penumpang dengan cepat, volume besar, aman, dan diharapkan juga memberikan kenyamanan.

Adanya Bukit Barisan yang membentang dari utara sampai ke selatan, membelah pulau Sumatera menjadi dua, seolah-olah berfungsi menjadi dinding pemisah.

Pegunungan ini memiliki fungsi lindung yang sangat penting bagi kehidupan dan ketersediaan air bagi Sumatera, sehingga membangun infrastrutur menembus Bukit Barisan sering menjadi dilema yang sering berakhir dengan kebuntuan karena masing-masing sektor bersikukuh mempertahankan tugasnya sendiri.

Konstruksi jembatan Kelok Sembilan direncanakan tidak hanya mampu untuk menahan beban vertikal dan gempa, tetapi juga merupakan karya seni yang sesuai dengan lingkungannya. Oleh sebab itu keberadaan infrastruktur ini bisa menjadi suatu ‘masterpiece’ bangunan konstruksi civil engineering, karena memberi sumbangan keindahan alam sekitarnya.

Konstruksi pelengkung beton yang membentang antara dua bukit terlihat anggun disinari dari cahaya yang memancar di antara sela-sela pegunungan yang hijau.

Demikian pula dengan tiang-tiang beton yang ramping dengan ekspose warna beton yang cerah, mengesankan kerja konstruksi yang rapi dan berkualitas.

Konfigurasi yang tampak dari udara maupun dilihat di darat, terkesan sama indahnya. Simulasi bangunan yang digambarkan dalam Computer based design, bukan hanya sekedar impian, tapi persis terwujud dalam kenyataannya.

Jembatan Kelok Sembilan terdiri atas enam jembatan mulai yang bentangannya paling pendek dua puluh meter untuk jembatan nomor satu sampai yang paling panjang empat ratus enam puluh lima meter di jembatan nomor empat.

Jembatan-jembatan tersebut juga mempunyai tipe bangunan atas yang berbeda-beda; RC Box Girder, PC Box Girder, PC I Girder, dan Arch-Concrete Bridge.

Jembatan Kelok Sembilan dengan segala kelebihannya telah berperan sebagai landmark pariwisata di kawasan ini. Pemerintah telah menginisiasi pengembangan kawasan pariwisata dengan membuat taman-taman di kawasan jembatan, yang selanjutnya dikembangkan oleh pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota untuk membangun kawasan pariwisata pada koridor jalan nasional tersebut, melengkapi obyek wisata Harau dan Bukittinggi.

Pada jembatan juga bisa dilengkapi dengan olahraga buggy jump, di samping beberapa potensi lokasi panjat tebing.

Puas berputar-putar, naik turun di jalan lama dan jalan baru, kami istirahat di puncaknya. Disana telah disediakan tempat parkir mobil disebelah dinding gunung.

Disebelah bibir jalan penuh dengan gerai rakyat menjual jagung bakar dan aneka minuman. Suatu hal yang tidak pernah ada pada Kelok Sembilan versi lama. Ini berarti telah membuka lapangan kerja baru di sektor wisata yang bisa menghidupi sekian banyak jiwa manusia.

Cuma jangan terkejut, semua harga-harga yang sangat specsal. Jagung bakar dijual dengan harga Rp. 7500,- per biji yang ditempat biasa harganya hanya Rp. 2000 per biji. Begitu juga dengan aneka minuman, semuanya dengan “harga wisata”.

Menjelang magrib, kami meninggalkan Kelok Sembila yang pesona terpahat dimemori kami sebagai sebuah destinasi menakjubkan.

Komentar