Secangkir Gayo Arabica di Bukit Renggali

Penulis: Darmansyah

Jumat, 29 Agustus 2014 | 15:19 WIB

Dibaca: 1 kali

Hari itu, di ujung pekan kedua Agustus, kami “ziarah” lagi ke “Aceh Dalam.” Takengon. Cot Panglima, Rimba Raya, Renggali, Bintang, dan angin sejuk “depik” yang menggigit adalah “historia” yang tidak pernah mengelupas di kulit memori kami.

Ya. Takengon adalah angin sejuk “depik” Agustus. Angin sejuk ketika alpukat mulai ranum dan kecipak ikan “depik” menjadi ritual di batu cadas Laut Tawar. Jangan pernah abai terhadap secangkir luwak liar arabica yang “gayo blended.”

Itulah sajian sensasi yang mengundang jilatan lembut di langit-langit kami sebagai hasil racikan negeri laboratorium kopi dunia ini.

Kami datang ke Takengon hari itu sebagai “nazar” empat tahunan untuk melumurkan diri dengan “angin depik” Agustus. Angin sejuk ketika balapan sapi menjadi hiburan sekaligus “perjudian” dari “joki” muda yang dibasuh oleh nyanyian dari “guel yang sakral.

Azan ashar baru saja usai ketika kami sampai di dinding batu Bukit Kubu. Kami langsung mencari seteguk “gayo mountain coffee” Arabica dengan citarasa yang khas. Itulah “gayo blendeed” yang selalu menggoda kami kala datang ke negeri kebayakan dan penggantungan ini.

Kali ini, selain menikmati “gayo blended, kami juga ingin menikmati luwak liar arabica, yang menjadi “trenstter” para penggemar kopi dan mulai ramai digemari banyak orang.

Hebatnya lagi, untuk menikmati kopi luwak ternyata butuh trik khusus agar lebih nikmat. Air yang digunakan harus benar-benar mendidih. Dibutuhkan alat yang bernama ekspresso berguna untuk menyaring kopi sekaligus menurunkan kadar keasamannya sehingga kopi tak terasa tajam di perut ketika diminum.

Takengon adalah salah satu kota tua di Aceh. Banyak catatan sejarah tentang eksistensi “negeri
dalam” ini yang bisa diingat. Dan yang tidak bisa dilupakan adalah catatan kelam dari “genoside” van Daalen yang meninggalkan jejak darah dari ekspedisi jahat, pembantaian berantai.

Kini Takengon sudah melupakan “genoside” dan menjadi negeri kopi seiring berkembangnya “arabica” yang sangat khas di perkebunan rakyat yang memagari tanahnya dan menjadi sebuah budaya dari proses akulturasinya yang mendunia.

Keterkenalan Takengon sebagai sentra kopi bermutu secara global jangan pernah diragukan lagi.

Kopi arabika gayo adalah satu dari sekian banyak kopi arabika terbaik, one of the best coffee. Taste-nya terenak, lebih-lebih kopi luwaknya menghasilkan karakter spesifik berupa aroma buah-buahan.

Kopi gayo sangat hebat. Memang banyak yang belum pernah mencoba. Untuk pemasaran ekspor, biasanya, kopi arabika gayo diblending dengan kopi arabika lainnya sehingga rasanya lebih “nendang.”

Di surganya kopi arabica ini, warung kopi menjadi sarana untuk ngobrol dan mencari teman ketika malam datang. Menyeruput secangkir kopi dalam balutan “sweeter” untuk mengusir sejuk, dan ngobrol ngalor ngidul, kita bisa langsung melihat cara pengolahan dari si penjual.

Seperti biasanya, kala datang ke Takengon, kamipun langsung nongkrong bareng di salah sudut jalan dekat pasar lama.. Masyarakat setempat pun turut serta kongkow -kongkow bersama kami dan ritual minum kopi mencairkan suasana.

Kami bicara tentang bagaimana sejarah panjang kopi arabica Takengon menjejak dunia. Ada Bireuen sebagai tempat transitnya. Ada Medan sebagai domisili para cukong dan ada Belawan sebagai pelabuhan ekspor. Toh, walau pun melewati jalan panjang itu “gayo mountain coffee” tetap tak pernah lekang sebagai “trade mark.”nya.

Takengon adalah puncak dari tujuh enklaf penghasil kopi di Pulau Sumatera. Ada Sidikalang, Lahat, Kerinci, Mandailing maupun Liwa maupun Pagar Alam. Tapi semua itu tak bisa menandingi arabicanya “gayo mountain.
Untuk mencapai Takengon tidaklah begitu sulit. Cot Panglima, yang dulunya menjadi momok perjalan kini sudah dipangkas keterjelannya dan menjadi jalan lebar dengan pemanfaatan waktu yang efektif.

Begitu juga dengan trase Si-Inang-inang tdak lagi menjadi hatu kalau berpapasan dengan kenderaan dari arah yang berbeda, karena makin lebar dan makin nyaman walaupun jurang dalam menganga di bawahnya.

Setelah melewati Bireuen dan menggapai jalan menanjak, tak ada hambatan perjalanan yang mengganggu karena arus lalu lintas tak terlalu padat.

Suasananya juga aman dan damai Rute Bireuen – Takengon lebih banyak melewati perbukitan yang jauh dari pemukiman. Di daerah Cot Panglima pemandangannya cukup indah. Meskipun proyek pengerjaan jalan masih belum selesai. Jalan ini mengikis sebagian bukit dan dibuat lebih lebar. Ini penting karena di beberapa bagian terjadi kelongsoran.

Sampai di ujung perjalan sempatkanlah berhenti sejenak. Selain menikmati indahnya pemandangan kota Takengon dan Danau Laut Tawar dan jangan abai untuk menyeruput secangkir kopi panas sungguh pengalaman yang tak bisa dilupakan. Lewat secangkir kopi inilah meskipun baru saja bertemu pertemanan dengan komunitas jip di Gayo terasa lebih hangat.

Komentar