“Koetaradja” Transportasinya “Doeloe”

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 14 Desember 2013 | 08:47 WIB

Dibaca: 2 kali

“Hasyim KS memang telah berpulang. Tapi kelumit tulisannya tentang Koetaradja dengan transportasinya “tempo doeloe” masih perlu untuk dikenang. Terutama oleh para “manula.” Tidak hanya menjadi memori, tapi juga bisa sebagai pembelajaran bagaimana transportasi sederhana, murah dan pasti menyenangkan pernah menjadi milik kota “bandar aceh” ini.

Inilah bagian dari tulisan wartawan “otodidak” yang mengakhiri karirnya di “Serambi Indonesia.”

——-

Pada masa Belanda dahulu untuk angkutan murah dalam kota dipergunakan kenderaan sado (delman) yang dalam bahasa Aceh disebut kaha. Semenjak masa perang Aceh dahulu kereta kuda ini telah ada. Konon Teuku Umar keluar masuk kota untuk mengunjungi isterinya yang lain dan beberapa kenalannya orang Cina di Peunayong mempergunakan kaha.

Karena serdadu Belanda diajarkan tatakrama untuk tidak menyinggung hati orang Aceh terutama jangan menggangu kaum wanita, maka Teuku Umar yang jadi buron Belanda itu sering menyamar memakai busana wanita dan menumpnag kaha/sado ke dan keluar kota. Disetiap pos penjagaan dia bisa lolos, karena para serdadu begitu melihat ada penumpang wanita, mereka cukup hormat dan tidak banyak periksa.

Halte sado sampai Indonesia merdeka antara lain di mulut Jalan Perdagangan di sisi Masjid Raya, di Jln. Merduati, di Stasiun Kereta Api (sekarang sudah jadi halaman Masjid Raya) dan di dekat Rumah Sakit Kuta Alam.

Sado Banda Aceh masih difungsikan sampai akhir tahun 1960. Armada sado ternyata mengundurkan diri dari gelanggang ketika muncul kenderaan murah lainnya yaitu beca. Kemunculan beca di Banda Aceh memang langsung beca bermotor seperti sekarang ini. Tidak pernah ada beca dayung.

Akibat tidak ada lagi kenderaan sado yang ditarik oleh kuda ini, warga Banda Aceh tak pernah lagi melihat jenis hewan kuda yang dulu cukup banyak. Kasihan juga yang anak-anak Banda Aceh terutama yang usia muda agak terheran-heran melihat kalau ada sekali-sekali muncul hewan kuda yang datang dari Takengon.

Begitu juga anak-anak-anak Banda Aceh tidak tahu bagaimana sebenarnya kenderaan kerat api itu. Karena si “Kuda Besi” angkutan jarak jauh ini entah setahu bagaimana lenyap dari peredaran. Padahal menurut beberapa pengakuan, pemasukan dari sektor angkutan kereta api di Aceh yang instansinya disebut “Djawatan Kereta Api Atjeh” (DKA) cukup menggiurkan sampai-sampai dapat menutup kerugian beberapa usaha perkeretaapian negara di berbagai daerah di Sumatera.

Begitu juga semenjak tahun 1950 sampai awal 1980 untuk hubungan jarak dekat seperti kenderaan labi-labi sekarang ini, ada juga pelayanan transportasi dengan mobil berbadan lebar yang karoserinya empat persegi seperti kotak sabun dan memiliki tempat duduk dari papan dideretkan melintang semenjak dari bangku sopir sampai ke pintu belakang. Armada ini terdiri dari Perusahaan Motor Lhoknga (PML), Perusahaan Motor Aceh Besar (PMAB), Perusahaan Motor Olele (PMO), Perusahaan Motor Darmajaya dan Ampera.

Stasiun jenis angkutan ini yang disebut pelabuhan berada di tanah kosong di depan Percetakan Negara atau depan leretan Warung Aman Kuba. Sekarang bekas stasiun tersebut telah dijadikan semacam taman kota. Dalam tahun-tahun 1950-an, muncul pula armada bus antara lain ATRA, Nasional, PMTOH dan PMABS. Dua yang terakhir ini melayani pantai Barat sampai ke Bakongan.

Bus-bus jarak jauh menginap di depan bangunannya sendiri. Para penumpang langsung dijemput antar oleh bus ke tujuannya. Baru tahun 1970 muncul sebuah terminal wajib kumpul bus jarak jauh dan wajib turun penumpang di Seutui, lokasi termina sekarang. Pada masa Belanda jalan darat ke pantai Barat jurusan Meulaboh-Tapaktuan, Bakongan sampai Trumon dibuat tahun 1928. Lewat laut sampai tahun 1956 dengan kapal milik perusahan Belanda yang bernama Konijnklike Pakertpart Matschapij (KPM).

Untuk kenderaan pribadi, sekitar tahun-tahun 1920-an, warga lebih banyak jalan kaki atau naik sado. Hanya orang-orang tertentu yang mampu beli kereta angin (maksudnya sepeda-Pen) Setelah kemerdekaan semenjak 1950 sampai 1960 di jalan-jalan di Kutaraja berseliweran sepeda dan satu-satu mobil pribadi, semirip suasana lalu lintas di kota-kota negara Cina dan Vietnam yang didominasi oleh yang didominasi oleh sepeda.

Pada masa-masa tersebut terlihatlah status keberadaan seseorang dinilai dari merek sepedanya. Yang paling banyak bermerek Valuas dan Seko. Sementara merek Raleigh, Fongers, Gazzele dan Philips dimiliki oleh para toke-toke, dan warga berduit.

Lebih-lebih lagi pemilik jenis sepeda bermerek kelas atas tersebut akan bergengsi lagi kalau sepedanya dilengkapi dengan rem tromol yang mengeluarkan bunyi gesekan kalau berhenti. Ditambah lagi sepeda dilengkapi dengan gigi. Maksudnya ada perseneling yang kalau didayung akan mengeluarkan bunyi tik…tik…tik. Bahkan anak-anak pejabat tertentu, terutama yang ceweknya dibelikan kenderaan yang disebut mobilette.

Ternyata tak lebih semacam sepeda yang diberi bermesin tempel yang dikenal juga dengan sebutan sepeda kumbang. Barangkali inilah lebih kurang beberapa catatan ringan yang kita kumpulkan untuk menyambut usia Banda Aceh yang ke-795 (tahun 2000, -red).

Kota yang cukup tua tanpa memiliki kebanggaan peninggalan lama seperti Malaka, Bengkulu, Makassar, Sunda Kelapa dll sebagai negeri terkenal di abad-abad lampau yang tidak pernah mencantumkan embel-embel bandar, seperti Banda (Bandar) Aceh kita ini. Bukan main. Untuk ini, sekali lagi wallahualam bissawab.

Komentar