“Bangga”nya Aceh Dengan “Sejuta” Kafe

Penulis: Darmansyah

Selasa, 17 Desember 2013 | 10:54 WIB

Dibaca: 6 kali

Aceh lengket dengan kopi. Kopi dan Aceh tidak bisa dipisahkan. Siapa saja yang datang ke Aceh rasanya belum merasa lengkap apabila belum menikmati menjadi warga “pemalas” dengan duduk berjam-jam sembari mengasup segelas kopi serta mengumbar cerita “cet langet.”

Bila Aceh disebut daerah “sejuta warung kopi”, dengan produktifitas penduduknya yang rendah, rasanya sangat tepat, karena sangat mudah dijumpai warung kopi di daerah itu, sekalipun di pelosok desa yang ditongkrongi oleh warganya dengan “haba sigom donya.”

Pertumbuhan warung kopi atau kafe di Aceh terus meningkat. Para pengusaha sepertinya tidak ragu untuk menginvestasikan uangnya dalam jumlah besar guna membuka warung kopi, karena konsumennya cukup besar.

Hampir sebagian besar laki-laki di Aceh minum kopi di warung, sehingga warkop di Aceh jarang sepi, mulai pagi sampai malam hari. Bahkan ada warung kopi yang buka 24 jam.

Pengusaha yang membuka usaha warkop tidak tanggung-tanggung, minimal dua pintu dan didukung dengan dekorasi ruang yang menarik.

Menjamurnya bisnis warkop di Aceh tidak terlepas dari kondisi keamanan yang terus membaik, setelah damai dari konflik berkepanjangan selama dua dasawarsa ditambah musibah tsunami yang meluluhlantakkan sebagian pesisir Aceh pada 26 Desember tahun 2004.

Kondisi tersebut ternyata berdampak positif terhadap perkembangan pariwisata di Aceh, khususnya Kota Banda Aceh.

Pemko Banda Aceh dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memanfaatkan kuliner khas daerah itu untuk mendatangkan wisatawan baik domestik dan mancanegara ke Ibu kota Provinsi Aceh tersebut.

Untuk lebih banyak mendatangkan wisatawan, Pemkot Banda Aceh memperkenalkan “Wisata Kopi” melalui Festival Kopi yang merupakan agenda tahunan Dinas Kebudayaan dan Pariwsata.

Pada tahun 2013, festival tersebut kembali digelar pada 22-24 November di Taman Sari Banda Aceh. “Festival Kopi ini menjadi salah satu upaya kita dalam mempromosikan potensi wisata daerah ini,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh, Reza Pahlevi.

Festival Kopi ini setiap tahun berlangsung sejak 2011 dan mendapat penghargaan cukup baik, jelasnya. Reza menyebutkan materi kegiatan festival itu antara lain kursus meracik kopi dan uji coba rasa kopi.

Kegiatan tahunan wisata juga mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat khususnya di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. “Tujuan lain dari festival tersebut adalah bagaimana upaya kita bersama dalam memperkenalkan cita rasa kopi Aceh, tidak hanya masyarakat nusantara tapi juga dunia internasional,” kata Reza.

Banda Aceh juga dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki warung kopi terpanjang di dunia. “Itu merupakan potensi yang perlu kita perkenalkan kepada masyarakat penikmat kopi, selain juga warung kopi di Banda Aceh beraktivitas hingga dini hari yang menggambarkan suasana damai di Aceh,” ujarnya.

Menurut Reza, rangkaian festival itu juga akan dilaksanakan pertemuan antarprodusen kopi dari berbagai daerah di Aceh, yang diharapkan bisa terjalin sebuah pengalaman dan transaksi pasar terhadap komoditas perkebunan tersebut.

“Sebab, Aceh seperti wilayah pedalaman yakni Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues itu merupakan daerah sentra produksi kopi jenis arabika yang pasar produksinya telah dikenal dibeberapa negara. Kita berharap sesama pelaku bisnis kopi bisa saling menukar informasi,” jelasnya.

Selain festival kopi, Reza menjelaskan rangkaian kegiatan tersebut akan menampilkan penampilan seni budaya tradisional seperti tarian seudati, dan atraksi penutur tradisional PMTOH.

Festival Kopi Aceh 2013 yang berlangsung sejak tiga hari lalu di Taman Sari, Banda Aceh resmi ditutup. Meski kegiatan tahunan ini telah berakhir, kopi Aceh tetap harus terus dipromosikan ke luar negeri.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Yudi Kurnia mengatakan, cita rasa kopi Aceh perlu terus diperkenalkan baik di tingkat nasional maupun international. Lewat kopi, Aceh bisa menggaet turis-turis untuk berkunjung ke daerah itu.

“Mari kita jadikan Aceh sebagai daerah kunjungan wisatawan nasional dan internasional,” kata Yudi saat menutup secara resmi festival tersebut.

Komentar