Asrama Dipo dan Anak Sejarah Plural-nya

Penulis: Darmansyah

Selasa, 6 Mei 2014 | 16:55 WIB

Dibaca: 0 kali

Asrama Dipo bukan hanya sekadar “tangsi” tentara. Ia adalah “anak” plural yang membesarkan eksistensi sejarah kemajemukan Aceh di “euphoria” zaman politik etis colonial. Ia menjadi koloni tempat dibesarkan keberagaman lewat teladan pergumulan perkawanan etnis.

Asrama Dipo dibangun tahun 1894 di masa “prang aceh” memasuki fase setengah aman, dan perlawanan hanya berlangsung sporadis yang tidak membutuhkan pengerahan pasukan besar.

Asrama ini dibangun dengan dua tipe rumah. Untuk hunian prajurit dan bintara letaknya mengelompok di bagian timur, arah Simpang Lima, sekarang, hingga lokasi Sultan Hotel dengan bangunan kopel.

Satu bangunan dibagi dua untuk para penghuni dengan tangga di tengahnya. Tipe ini jumlahnya lebih banyak dibanding dengan tipe rumah perwira, satu bangunan untuk penghuni, yang letaknya berhampiran dengan bioskop Rex.

Asrama Dipo eksis hingga akhir tujuhpuluhan untuk kemudian di ruislag menjadi toko dan hotel, dan para prajurit penghuninya dipindahkan ke asrama baru di Jalan Kuwera, kawasan Lampriek, bersebelahan dengan asrama PHB, dengan rumah kopel memanjang yang jauh lebih kecil dengan fasilitas kacaubalau..

Asrama Dipo, sebagaimana banyak asrama di zaman Belanda, adalah potret plural atau keberagaman kultur, agama dan status sosial penghuni dengan toleransi tinggi disamping kemajemukan suku. Kompleks itu memang sudah punah, bersamaan terkikisnya toleransi keberagaman di negeri ini.

“Sulit untuk mengumpulkan keping ingatan secara utuh tentang lokasi ini,” ujar Agus yang masa kanak-kanaknya di tahun enampuluhan tinggal bersama keluarganya di komplek bioskop Rex, di ujung lancip kompleks Dipo.

Agus, anak Minang yang ibunya membuka kios di Rex, mengaku kenangannya tentang asrama Dipo berserak “Tidak utuh,” akunya. Ia memang terlalu muda untuk bisa mengingat kenangan kebersamaan di Dipo.

Agus hanya bisa mengingat, di barisan rumah perwira, jejeran toko yang menjadi Bank Danamon, sekarang ini, tinggal seorang kapten, Adam Setia. Lelaki yang berdinas di Penerangan Kodam itu, selain seorang “announcer” sejati, dengan suara baritonnya, juga sering memutar film movie delapan millimeter di rumahnya.

“Kalau mau nonton dikutip bayaran. “Seru,” kenang Agus. Yang juga ia ingat, beberapa tentara penghuni asrama Dipo menjadi langganan kredit di kios ibunya. Dan beberpa di antara mereka sempat meninggalkan catatan utang. “Maklum zaman itu gaji tentara kan sedikit,” katanya.

Berlainan dengan Agus, Zul Legos, 60 tahun, yang ditahun lima puluhan menjadi bagian komunitas pergaulan anak-anak asrama, bisa memuntahkan memorinya hingga berhamburan kala ditanya kenangan manisnya di Dipo.

Ia bisa dengan sempurna mengingat, sekaligus menuturkan, bagaimana harmoni hubungannya dengan anak-anak asrama. Zul Legos sendiri bukan anak “kolong.” Tapi ia hafal betul setiap “kolong” rumah di asrama itu.

Ia ingat si Nyong Berty Sahetapy anak seorang sersan asal Ambon yang tukang berkelahi dan bisa se-enaknya nyelenong nonton filem tanpa karcis di bioskop Tung Pang, bioskop yang kemudian bersalin nama jadi Merpati, di jalan Cut Nyak Dien (kini sudah jadi toko).

Ada juga Luhut Simanjuntak, anak seorang kopral, yang beraninya minta ampun berenang bolak balik di Krueng Aceh tak peduli dengan arus kencang dan kekhawatiran tenggelam para sobatnya.

Zul Legos sendiri anak seorang perawat rumah sakit Zainal Abidin, yang ketika itu masih berbagi bangunan kompleks dengan rumah sakit Kesdam, di kawasan Kuta Alam. Zul sendiri penghuni rumah kopel milik rumah sakit di belakang Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) , di samping Sales Honda Jalan Panglima Polem, sekarang. Atau di seberang asrama Dipo, kala itu.

Sebagai anak rantau, Zul asal Melayu Deli itu, menyerahkan masa bermainnya dengan anak tentara di kolong-kolong rumah panggung asrama Dipo seusai sekolah di SD IV, yang juga menjadi sekolah anak-anak tentara asrama Dipo, di depan Hotel Palembang dan Hotel Mazda, di Jalan Chairil Anwar (kini juga sudah jadi pertokoan).

Sebagian teman bermain Zul Legos, ketika sudah berlalu puluhan tahun, mengikuti jejak ayahnya jadi serdadu dengan pangkat dan jabatan bervariasi. “Ada yang jadi jenderal juga,” kata Zul dengan nada bangga.

Waktu tsunami lalu Zul ketemu, secara kebetulan dengan seorang kolonel angkatan laut, ketika mengantar kerabatnya di bandara. Sang kolonel minta keterangan tentang situasi Banda Aceh waktu itu sembari memberitahu ia pernah menjalani masa anak-anaknya di asrama Dipo dan sekolahnya di SR Negeri 4.

Zul membetot dengan banyak pertanyaan dan bertabrakanlah kenangan mereka. “Kami memang kawan,” kata Zul tentang sang kolonel yang bernama Sungkono. “Dua hari saya menemaninya keliling kawasan tsunami. Ia sedih amat melihat bekas masa anak-anaknya hilang oleh bangunan pertokoan,” kata Zul Legos..

Zul masih ingat ayah Sungkono, bernama Mariono berpangkat Peltu asal Purwokerto yang terdampar ke Aceh mengikuti kesatuannya, Kodam Diponegoro, ketika menumpas pemberontakan DI-TII ditahun limapuluhan.

Tidak hanya Zul,

Asrama Dipo, seperti ratusan bangunan lainnya di Banda Aceh, memang telah di “bantai” oleh perjanjian “ruislag,” ataupun perjanjian bagi hasil. Sebuah perjanjian dengan alasan klasik, untuk melayakkan tempat hunian prajurit, dan memindahkan mereka ke pinggiran kota. Pembenaran lainnya dari ruislag itu adalah untuk memperindah kota.

Komentar