Prediksi Terhadap Getaran Seismik

Penulis: Darmansyah

Selasa, 16 Juli 2013 | 17:11 WIB

Dibaca: 2 kali

Artikel ini ditulis oleh Zulfian, seorang ilmuwan dari Universitas Syiah Kuala, yang mendalami penelitian tentang akuistik, dan banyak tulisannya yang sudah dipublikasikan

Kita telah ditakdirkan sebagai penghuni yang mendiami salah satu kawasan dipermukaan planet bumi ini yang memiliki dinamika tinggi dalam pergerakan lempeng bumi. Pada suatu waktu, pergerakan lempeng bumi ini mempunyai peluang besar untuk melepaskan pancaran getaran seismik yang sangat besar yang disebabkan oleh peristiwa tabrakan atau geser sesama lempeng itu sendiri baik di laut maupun di darat.

Para ilmuwan telah bekerja keras untuk merumuskan suatu model yang mampu memprediksi besarnya energi yang dipancarkan dari getaran seismik, dimana serta kapan sumber pancaran getaran seismik terjadi. Sayangnya sejauh ini, para Ilmuwan belum mampu memprediksi hal itu dengan tepat dan akurat sehingga tidak dapat memberikan informasi awal kepada masyarakat tentang akan terjadinya gempa bumi tersebut. Karena, peristiwa alam ini sangat komplek dan memiliki tingkat derajat kesulitan yang tinggi.

Sebagai bentuk antisipasi terhadap bencana akibat getaran seismik yang akan terjadi yang bertujuan untuk keselamatan jiwa dan mengurangi jumlah korban jiwa, dilakukan pemantauan dan pendeteksi getaran seismik dengan memasang peralatan sensor dan transmisi disertai perangkat peringatan dini (early warning system) yang dirancang dan dipasang bersifat pasif dan reaktif. Tapi ini hanya memberi peluang beberapa waktu kepada masyarakat untuk melakukan evakuasi diri demi terhindar dari bencana tersebut.

Pada kenyataannya, apa yang telah kita alami beberapa hari lalu pada peristiwa getaran seismik yang melanda Bener Meriah dan Aceh Tengah yang berada di jalur Sesar Besar Sumatra dengan intensitas getaran seismik sebesar 6.2 SR dan sebelumnya telah terjadi juga peristiwa gempa di lempeng Hindia dengan intensitas getaran seismik sebesar 8.5 SR dan disusul kemudian 8.8 SR merupakan salah satu gempa bumi yang jarang terjadi karena dua hal: masuk kategori outer-rise dan doublet yang telah dibahas di rubrik OPINI harian KOMPAS (Sabtu, 14 April 2012) dengan jumlah korban jiwa yang relatif kecil terutama di Provinsi Aceh.

Dari peristiwa bencana alam itu terbukti bahwa para ilmuwan dunia belum mampu memberikan informasi awal akan terjadinya gempa bumi. Yang biasa dilakukan adalah memperlihatkan hasil analisis rekaman sinyal getaran seismik disertai dengan besarnya tingkat getaran seismik dan tanggapan para pakar gempa bumi.
Beberapa ulasan tentang fenomena gempa telah dibahas di rubrik OPINI harian Serambi Indonesia (koran di Aceh).

Seperti halnya saudara Marizal Hamzah memperkenalkan suatu cara untuk mendeteksi gempa bumi melalui pendekatan atas pengalaman empiris yang terjadi di beberapa tempat seperti Phuket di Thailand dan Alue Naga di Banda Aceh, Indonesia. Dalam penjelasannya Marizal menerangkan bahwa tingkah laku hewan seperti gajah mampu mendeteksi getaran seismik atau gempa bumi sebagai peringatan dini (early warning).

Pilihan alami ini mungkin saja dapat dikaji dan dikembangkan sebagai alternatif bio-sensor yang dikenal dalam ilmu akustik yaitu bidang bio-akustik. Ini adalah salah satu ilmu mempelajari tingkah laku makhluk hidup (hewan darat dan laut) sehingga sangat potensial untuk dapat dikembangkan dan digunakan untuk memantau dan melacak letak sumber sinyal akustik yang dikeluarkan oleh hewan laut sampai puluhan kilometer.

Sejauh penulis tahu yang didasarkan pada literatur bahwa pada umumnya kejadian alam seperti gempa bumi, gunung meletus dan angin taufan selalu menghasilkan rambatan gelombang getaran rendah/natural infrasound (lebih kecil dari 20 Hz) sampai puluhan kilometer.

Getaran lemah ini digunakan bukan hanya untuk kepentingan keamanan negara (militer) seperti memantau posisi peluncuran roket/rudal, tetapi juga untuk memantau kejadian alam seperti gempa bumi. Sebagai contoh, ketika terjadinya gempa bumi yang bersumber di samudera Hindia (di Aceh), maka rambatan gelombang getaran seismik ini dapat dideteksi dan direkam di berbagai stasiun di dunia ini seperti stasiun di Hawai (USA).

Selanjutnya bagaimana tanggapan makhluk hidup terhadap kejadian alam, terutama yang menghasilkan gelombang getaran rendah. Sejauh ini, makhluk hidup seperti hewan tertentu saja yang mungkin mampu merasakan frekuensi rendah. Salah satunya adalah kelelawar yang memiliki rentang frekuensi getaran dari infrasonic sampai ultrasonic (7 Hz – 98 KHz). Hewan ini memiliki kemampuan untuk mengindikasi dan melacak posisi mangsanya sampai puluhan kilometer yang dilengkapi dengan sistem navigasi canggih sehingga tidak terjadi tabrakan antara ribuan hewan itu.Masing-masing hewan memiliki rentang frekuensi getaran sendiri.

Selanjutnya timbul pertanyaan, bagaimana tanggapan kita terhadap getaran seismik? Untuk mendapatkan jawaban hal ini, dibutuhkan kajian yang dalam dan waktu yang cukup lama sehingga masalah ini dapat dirumuskan secara lebih komprehensif. Upaya untuk memahami pengaruh getaran seismik telah dijelaskan oleh saudari Nurjanah dengan pendekatan tanggapan psikologis, yaitu ketangguhan psikologis pada masyarakat pasca tsunami. Tetapi sejauh penulis tahu, belum ada kajian kasus ini dilakukan untuk menggambarkan kondisi sebenarnya yang dialami oleh masyarakat, baik secara kualitas dan kuantitatif.

Dengan kata lain, seberapa jauh kita telah mengalami trauma (psikologis) yang dapat mempengaruhi kualitas kehidupan sehari-hari. Tanpa suatu kajian khusus, penulis mencoba menggambarkan masalah ini berdasarkan pangalaman yang dialami sewaktu kejadian gempa bumi dengan intesitas getaran seismik sebesar 9.1 SR pada tanggal 26 Desember 2004 di kota Banda Aceh.

Kompleksitas tanggapan subjektif manusia terhadap getaran seismik ini dapat disederhanakan dalam tiga kategori yaitu tanggapan fisiologis, tanggapan psikologis dan tanggapan kombinasi fisis-psikologis. Berdasarkan atas pengalaman yang kita alami dengan tingkat intensitas yang tinggi (lebih dari 8 SR), pada umumnya kita semua mengalami tanggapan fisiologis bersamaan dengan tanggapan psikologis yang lebih dominan.

Artinya, tubuh kita merasakan terganggu dan disertai dengan kepanikan. Hal ini cukup nyata dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan jiwa kita. Sedangkan untuk tingkat intensitas rendah (di bawah 5 SR) mungkin setiap kita akan menganggapi berbeda-beda dan tergantung pada ketahanan psikologis. Mungkin orang yang mendiami kawasan rawan getaran seismik akan mudah menyesuaikan diri (teori adaptasi) terhadap getaran seismik ini. Sebagai contoh, cara hidup masyarakat Jepang di lingkungannya yang sering dilanda gempa.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengaruh getaran seismik terhadap manusia akan menimbulkan gangguan kesehatan jiwa (trauma) dan jumlah korban jiwa lebih cenderung akibat kepanikan yang dialami. Oleh karena itu, dibutuhkan rumah sakit khusus yang menangani perawatan kesehatan jiwa bagi masyarakat yang mendiami di kawasan bencana alam. Selain itu, faktor yang paling penting harus diperhatikan adalah ketahanan konstruksi bangunan terhadap getaran seismik. Karena berdasarkan catatan dalam sejarah peristiwa gempa bumi bahwa banyak jumlah korban jiwa akibat runtuhnya bangunan.

Sementara ini, tim peneliti Universitas Syah Kuala telah mengembangkan bahan konstruksi alternatif terutama untuk dinding dengan bahan dinding beton busa yang lebih ringan dan ramah lingkungan. Bahan ini tergolong bahan jenis absorber membran yang memiliki kemampuan mengurangi resiko korban jiwa manusia. akibat getaran seismik karena bahan ini dapat pecah sendiri secara hambur akibat gejala energi getaran.
Harapan dikembangkan bahan konstruksi alternatif ini dapat diterapkan dan digunakan di kawasan Nusantara yang rawan terhadap getaran seismik (gempa bumi).

Zulfian, Kepala Laboratorium Akustik Universitas Syiah Kuala.

Komentar