‘Perang’ Live Streaming Medsos Sengit

Penulis: Darmansyah

Jumat, 27 Januari 2017 | 16:09 WIB

Dibaca: 0 kali

Instagram baru saja meluncurkan fitur terbaru berupa siaran langsung di Instagram Stories.

Kehadiran fitur baru ini makini menyemarakkan  persaingan live streaming yang dihadirkan oleh platform media sosial.

Instagram menyebutnya Live Stories.

Fitur ini telah mereka luncurkan secara global, tak terkecuali dengan Indonesia.

Sejumlah artis pun telah menjajal fitur tersebut

Namun, Instagram bukanlah pionir soal live streaming di media sosial.

Sebelumnya, sudah ada fitur siaran langsung di Facebook dengan Facebook Live-nya dan Twitter lewat Periscope. Ada juga Bigo Live dan YouTube.

Instagram telah menguji Live Stories sejak November tahun lalu.

Namun, dalam satu pekan ke depan, mereka baru meluncurkan Live Stories kepada seluruh penggunanya di seluruh dunia.

“Dengan senang hati kami menginformasikan bahwa video siaran langsung di Instagram Stories, sebuah cara baru untuk terhubung dengan teman dan pengikut Anda.”

“ Saat ini, video siaran langsung ini akan diluncurkan ke seluruh komunitas global mulai pekan depan,” tulis Instagram dalam siaran persnya.

Bila dilihat secara sekilas, tampilan Live Stories dari Instagram ini serupa dengan Facebook Live hingga Bigo Live. Kemiripan itu adanya kolom komentar ketika siaran langsung dilakukan.

Bedanya, di Facebook Live terdapat tool warna untuk menghias siaran langsung, Bigo Live punya Gift yang terkumpul menjadi Diamond yang nantinya bisa ditukar uang tunai.

Sementara itu, dalam Live Stories, tidak ada fitur yang terdapat di Facebook Live dan Bigo Live.

Secara konsep, Facebook Live dan Live Stories itu sama, yaitu semua penggunanya memungkinkan melakukan live streaming.

Sementara itu, Bigo Live yang melakukan siaran langsung ini hanya kalangan tertentu, yaitu yang berperan sebagai penyiarnya saja.

Dan sebagai catatan, Bigo Live bukanlah layanan yang berangkat sebagai perusahaan jejaring sosial laiknya Facebook, Instagram, ataupun Twitter.

Bigo Live memang pertama hadir dan fokus pada konten video live streaming.

Untuk urusan siaran langsung, Twitter juga punya dengan Periscope.

Penggunaan Periscope harus dilakukan melalui aplikasi Twitter.

Keunggulan dari Periscope ini bisa membatasi jumlah yang menonton siaran langsung.

Sementara itu, YouTube Live pun tak mau kalah.

Anak perusahaan Google ini, yang sudah dasarnya menyediakan konten video, melebarkan sayapnya, dengan pelanggan bisa live streaming di akunnya, baik untuk keperluan game, musik, olahraga, hingga berita.

Jadi kesimpulannya, para media sosial itu mulai berbondong-bondong menyasar segmen konten video melalui live streaming dan tahun ini  merupakan eranya.

Situs berbagi video, YouTube, baru saja merilis fitur ‘super chat’ untuk para YouTubers yang sedang live streaming.

Fitur tersebut akan mempermudah komunikasi antar artis YouTube dengan penggemarnya.

“Super chat adalah cara baru untuk para penggemar dan pencipta (video) untuk berinteraksi selama live streaming. Fans dapat membeli super chat ini untuk menyorot pesan mereka saat live streaming,” tulis YouTube di blognya.

Ya, ini adalah cara baru yang ditawarkan oleh YouTube kepada YouTubers saat berinteraksi.

Di samping itu, ‘super chat’ juga menjadi salah satu pemasukan pendapatan untuk YouTube, seiring makin maraknya konsumsi video oleh netizen.

Dengan membeli ‘super chat’, kemungkinan untuk dibalas oleh artis YouTube bisa dilakukan, karena seperti kita ketahui, saat dilakukan streaming, percakapan sering mudah tenggelam dengan banyaknya pesan yang dikirimkan dalam satu waktu bersamaan.

Untuk membeli ‘super chat’ ini, pengguna hanya memilih tanda dolar dalam live chat.

Di sana ada variasi harga untuk membeli ‘super chat’

Berdasarkan informasi dari blognya, ‘super chat’ ini dapat digunakan di desktop atau dibuka di aplikasi YouTube pada smartphone berbasis sistem operasi Android.

Untuk saat ini fitur tersebut belum mendukung ponsel berbasis iOS. Untuk catatan, ‘super chat’ ini tidak berlaku pada browser mobile. 

Dari sisi negara, fitur ini baru mencoba di  dua belas negara, di antaranya Australia, Brasil, Kanada, Prancis, Jerman, India, Jepang, Meksiko, Korea Selatan, Spanyol, Inggris, dan tuan rumah Amerika Serikat.

Komentar