Pengguna Twitter Diminta Ganti Password

Penulis: Darmansyah

Jumat, 4 Mei 2018 | 15:35 WIB

Dibaca: 9 kali

Apakah Anda merupakan bagian dari tiga ratus tiga puluh juta pengguna Twitter sejagad?

Kalau jawabannya iya, maka Anda “wajib” menaati seruan Twitter untuk mengubah password segera.

Perubahaan password ini disebabkan adanya temuan glitch di sistemnya sehingga password kemungkinan bisa dibaca oleh pihak yang tak berkepentingan.

“Saat Anda membuat password untuk akun Twitter, kami menggunakan teknologi yang menyamarkannya sehingga tak seorangpun di perusahaan bisa melihatnya,” tulis CTO Twitter, Parag Agrawal di blog resmi perusahaan.

“Kami mengidentifikasi sebuah bug yang menyimpan password tanpa penyamaran di log internal. Kami telah memperbaikinya dan investigasi kami menunjukkan tidak ada indikasi penyalahgunaan oleh siapapun,” tandasnya

Namun demikian demi alasan keamanan, semua user diminta untuk mengubah passwordnya. Twitter tidak menyebutkan seberapa banyak password yang terdampak masalah tersebut.

“Untuk kewaspadaan, kami meminta Anda mempertimbangkan untuk mengubah password Anda di semua layanan yang menggunakan password ini. Anda bisa mengubah password Twitter sewaktu-waktu di halaman setting,” papar Parag.

Sumber internal perusahaan menyebutkan angka password yang terdampak substansial dan sebenarnya telah terekspos beberapa bulan. Twitter kabarnya baru menemukan bug itu beberapa minggu lalu dan telah melaporkan isu ini pada beberapa regulator.

“Kami meminta maaf hal ini terjadi. Kami mengapresiasi kepercayaan Anda pada kami dan kami berkomitmen untuk terus menjaga kepercayaan itu,” pungkas Parag.

Selain itu juga ditemukan bug di Twitter yang bisa mengungkap lokasi penggunanya ada di mana.

Sebenarnya fitur lokasi memang ada di Twitter.

Pengguna bisa mengaktifkan pilihan ‘sharing lokasi’ kalau ingin di tiap kicauannya sekaligus menunjukkan lokasinya berada.

Masalahnya, sejumlah pengguna mengeluhkan lokasinya berada tetap muncul meski ketika pilihan sharing lokasi dimatikan.

“Ini telah terjadi sekitar seminggu untuk orang-orang yang mengaktifkan kicuan dengan lokasi di setelan mereka, padahal mereka mungkin tidak bermaksud menandai lokasi di kicauannya. Namun masalah ini tidak terjadi pada orang-orang yang menonaktifkan lokasi di setting mereka,” tulis @TwitterSupport.

Meski demikian celah ini tak membuat semua lokasi yang muncul akurat.

Pasalnya ada pengguna yang mengaku lokasi yang tampil terkesan acak dan tak sesuai dengan tempatnya berada.

Twitter sendiri bertindak cepat mengatasi permasalahan tersebut. Layanan media sosial ini mengaku telah memperbaiki masalah yang terjadi, dan mengirim email permintaan maaf ke pengguna yang sempat terdampak kerusakan ini.

“Kami telah menghapus lokasi dari kicauan yang berpotensi terkena dampak, dan langsung mengirim email kepada mereka yang mungkin terkena dampaknya.”

“ Kami menganggap serius masalah ini. Kami mohon maaf ini terjadi dan akan melanjutkan pekerjaan kami membuat Twitter jadi lebih baik,” jelas @TwitterSupport.

Selain itu ada berita lain yang mengejutkan.

Rusia disebut menggunakan Twitter sebagai alat mata-matanya, yaitu dengan memanfaatkan jejaring media sosial itu untuk menyebar malware.

Dalam sebuah laporan yang beredar di komunitas intelijen, pemerintahan Rusia disebut mengirimkan pesan yang disisipi malware melalui Twitter ke lebih dari sepuluh ribu pegawai Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

“(Pesan yang dikirim) berbeda tergantung dari ketertarikan targetnya, pesannya sendiri mencantumkan tautan ke artikel mengenai olah raga atau pun Oscar, yang terjadi pada minggu sebelumnya,” tulis Time

Saat tautan tersebut diklik, korbannya akan dibawa ke sebuah situs yang dikontrol oleh pemerintah Rusia, yang kemudian akan menyusupkan program ke ponsel atau pun komputer korban.

Setelah itu, hacker akan bisa mengontrol perangkat-perangkat tersebut dari jarak jauh, termasuk akun Twitternya.

Bisa dibilang ini adalah taktik baru Rusia dalam memanfaatkan media sosial.

Negeri Beruang Merah itu sebelumnya hanya memanfaatkan akun Twitter untuk menyebarkan pengaruh politik, sementara untuk malware mereka biasanya masih memanfaatkan praktik phising.

Presiden AS Donald Trump sendiri sebelumnya pernah dikritik karena bersikukuh menggunakan ponsel Samsung Galaxy S3 yang tergolong uzur, serta tidak mempunyai keamanan yang tinggi.

Seandainya saja malware ini sampai mampir ke ponsel Trump, tentu dampaknya sangat besar.

Untungnya, Trump akhir-akhir ini tak lagi menggunakan ponsel tersebut karena kicauannya terlihat dikirimkan menggunakan iPhone.

Tak jelas apakah ponsel tersebut kemudian dimodifikasi untuk memperkuat keamanannya.

Komentar