Menonton Film di Netflix Tanpa Internet

Penulis: Darmansyah

Kamis, 1 Desember 2016 | 09:14 WIB

Dibaca: 0 kali

Netflix  mengorbankan prinsipnya  sebagai layanan video-streaming berbasis internet, lewat pergeseran kebijakan yang untuk memanjakan pengguna lewat tontonan film  tanpa harus terkoneksi internet.

Perubahan kebijakan itu bukan tanpa alasan.

Keputusan Netflix memboyong offline ditujukan  sebagai langkah ekspansi cakupan layanannya di berbagai negara.

Di saat bersamaan, koneksi internet di negara-negara berkembang bisa dibilang belum memadai.

Alhasil, penetrasi pelanggan di negara berkembang bakal lambat karena mekanisme kerja Netflix belum didukung infrastruktur yang ada.

Atau, ketika mau berangkat menggunakan pesawat dan harus mengaktifkan airplane mode, pengguna juga bisa lebih dulu mengunduh film yang ingin dinikmati selama perjalanan.

“Cerita kesukaan Anda kini tersedia untuk diunduh (download) kapan saja,” kata perwakilan Netflix, sebagaimana dikutip Engadget dan dihimpun KompasTekno, Kamis (1/12/2016).

Fitur offline ini diluncurkan bertahap mulai hari ini untuk pengguna iOS dan Android.

Bagi pengguna, terutama di Indonesia yang memakai Telkom dan Telkomsel,  tentu saja tidak bisa menikmati fitur baru ini karena kedua operator pelat merah ini masih memblokir layanan Netflix.

Untuk mendapatkan tontonan film ini, pastikan terlebih dahulu  Anda  sudah memperbarui aplikasi lewat Google Play Store dan Apple App Store.

Setelahnya, ketika membuka aplikasi, Anda akan disodorkan pemberitahuan terkait offline mode.

Pada tiap film atau serial televisi, akan ada ikon unduh yang bisa Anda pilih ketika ingin menyaksikan konten secara offline nantinya.

Pada penyetelan default, kemampuan unduh dimungkinkan ketika sedang terkoneksi Wi-Fi.

Anda bisa mengubah penyetelannya jika ingin mengunduh film kapan pun dengan koneksi internet pribadi

Layanan seperti Netflix dijual dengan harga relatif murah dengan koleksi film, serial TV, dan video lain yang luas.

Dengan kata lain, Netflix menawarkan alternatif yang terjangkau bagi mereka yang biasa mengonsumsi konten bajakan.

“Cara terbaik untuk memerangi pembajakan bukanlah dengan memberi hukuman, tapi dengan menawarkan opsi-opsi lain yang bagus,” kata Chief Content Officer Ted Sarandos,.

Alih-alih “dipaksa” mengeluarkan duit untuk setiap judul film yang ingin ditonton, untuk layanan streaming on-demand seperti Netflix, konsumen membayar tarif flat selama sebulan untuk mendapatkan akses tak terbatas ke aneka konten di dalam library Netflix.

Layanan streaming macam Netflix juga relatif lebih mudah dipakai dan tidak berisiko dibanding metode-metode perolehan konten ilegal, semisal lewat torrent yang membutuhkan pengetahuan teknis dan tak jarang ikut didompleng program berbahaya.

Untuk menyaksikan film lewat Netflix, konsumen cukup duduk manis di depan TV pintar, komputer, atau gadget mobile. Bandwidth yang diperlukan memang besar, tapi relatif tak berbeda dibandingkan file ilegal yang juga harus diunduh melalui internet.

Kenyamanan inilah yang membuat Netflix bisa menarik hati pengguna, bahkan di negara macam Brazil yang menjadi salah satu pusat pembajakan konten di Amerika Latin, di mana aneka DVD ilegal diperjual belikan secara bebas di pinggir jalan.

Semenjak pertama kali masuk Brazil, layanan Netflix mengalami pertumbuhan pesat. Negeri Samba itu kini pun menjadi pasar terbesar keempat bagi Netflix, setelah AS, Kanada, dan Inggris.

“Kebanyakan orang tak mau mencuri. Mereka tak mau komputernya dijangkiti virus, mereka tak mau dibuat repot (mengunduh konten bajakan),” ujar Chief Communications Officer Netflix Jonathan Friedland, mengenai kesuksesan layanannya di Brazil.

Layanan streaming memang sedang naik daun dan bisa mengurangi pembajakan online, tapi itu tak berarti aktivitas bajak-membajak akan segera menghilang dalam waktu dekat.

Warga internet hingga kini masih marak mencari dan mengunduh aneka konten bajakan di jejaring maya. Film Interstellar, misalnya,  diunduh secara ilegali.

Belakangan muncul pula layanan bernama Popcorn Time yang khusus menyiarkan konten-konten bajakan.

Meski sebenarnya mengandalkan jaringan torrent, Popcorn Time menawarkan kemudahan pakai ala Netflix sehingga mendorong pengguna untuk mengonsumsi video ilegal.

Netflix sendiri juga menjadi korban pembajakan. Sebagai contoh, serial TV original House of Cards dan Orange is the New Black yang didistribusikan secara eksklusif lewat layanan tersebut banyak dikopi dan diedarkan secara ilegal di internet.

Pembajakan pula yang bisa terjadi kalau seorang pengguna tak bisa menemukan apa yang dicari di dalam koleksi penyedia layanan resmi.

Tak sabar menonton season terbaru Game of Thrones? Besar kemungkinan serial TV populer yang disalurkan secara resmi oleh HBO itu sudah beredar di situs-situs filesharing populer.

Baru awal tahun ini Netflix mengembangkan sayap ke Indonesia. Kehadirannya disinyalir akan segera disusul oleh penyedia layanan-layanan streaming serupa macam Hulu dan HBO.

Namun, sebelum sempat berkembang, Netflix sudah menemui batu sandungan.

Lembaga Sensor Film mengajukan protes karena platform streaming itu menyalurkan konten video tanpa melalui proses penyensoran terlebih dahulu.

Pihak pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika pun mengajukan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Netflix kalau mau menggelar layanannya di Indonesia.

Perusahan asal AS tersebut, antara lain, dituntut memiliki badan usaha tetap  membayar pajak untuk transaksi yang dilakukan, serta menjalin kerjasama dengan operator telekomunikasi.

Komentar