Kecerdasan Buatan Google dan Microsoft?

Penulis: Darmansyah

Selasa, 26 April 2016 | 10:08 WIB

Dibaca: 1 kali

Dua raksasa teknologi dunia, Google dan Microsoft, kini, seperti ditulis “ubergizmo,” Selasa, 26 April 2016, sedang berada di jalur kompetisi untuk mewujudkan lahirnya kecerdesan buatan dan komputasi awan sebagai peluang besar pengembangan industri tekno masa depan.

Google selaku unit bisnis terbesar di perusahaan induk Alphabet, seperti ditulis di blog resminya, akan meninggalkan teknologi iklan digital berbasis pencarian untuk menopang pendapatan, yang mulai melambat.

Sementara layanan seperti komputasi awan  atau populer disebut “cloud computing” yang mengelola dan menjual ruang untuk server dan peranti lunak, sangat potensial karena dilirik oleh perusahaan besar.

Begitu pula dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang diramalkan sang CEO Google, Sundar Pichai, akan jadi cara baru meraup untung di industri teknologi.

Pichai berkata Google sangat memikirkan secara matang bagaimana menangani investasi data center dan mengembangkannya ke skala besar.

“Ketika kita sudah dewasa kita pasti menyeberang ke sisi lain di mana kita berpikir untuk melayani pihak eksternal,” kata Pichai saat dalam rapat laporan keuangan, seperti dikutip dari The Verge.

Dalam bisnis komputasi awan, Google ingin bertransformasi memberi layanan kelas bisnis.

Mereka berupaya mempertahankan pelanggan besar macam Netflix dan Spotify, yang juga memakai layanan AWS Amazon.

Microsoft merupakan salah satu lawan yang juga pemimpin pasar untuk layanan awan, melalui rangkaian produk Azure yang berkembang pesar.

Nah, untuk mengalahkan para pesaingnya, Pichai melihat investasi atas mesin pembelajaran atau kecerdasan buatan akan menjadi kunci keberhasilannya.

Google telah serius mengembangkan kecerdasan buatan melalui anak usahanya, DeepMind asal Inggris, yang salah satunya membuat peranti lunak untuk permainan Go.

DeepMind mengembangkan berbagai program kecerdasan buatan seperti jaringan saraf yang bisa menggambar, mengenali gambar, pendeteksi penyakit, sampai mendeteksi komputer kuantum.

“Kami telah berinvestasi dalam machine learning dan AI selama bertahun-tahun, tapi saya pikir kami berada di sebuah titik kritis yang sangat menarik di mana teknologi ini harus benar-benar lepas landas,” katanya.

Hal macam ini akan diterapkan oleh Google di layanan kelas bisnis, yang bisa menjadi pembeda Google dengan layanan lain.

“Dalam jangka panjang, saya pikir kami akan berkembang dalam era komputasi dari mobile-first menjadi AI-first,” tutup Pichai. “Dan saya pikir kami berada di garis depan perkembangan.”

Tak kalah dengan pesaingnya Gooogle, raksasa tekno Ametrika Serikat lainnya, Microsoft juga sedang merintis jalan utnuk mewujudkan visinya dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan atau bot/robot akan berkomunikasi dengan manusia dan berkomunikasi juga dengan bot lain.

Visi besar Microsoft adalah menjadikan “percakapan sebagai sebuah platform.”

Dalam konferensi pengembang aplikasi  beberapa waktu lalu, CEO Microsoft, Satya Nadella menyatakan, hal ini bisa dicapai dengan cara merancang kecerdasan buatan yang mampu mengerti bahasa alami manusia dan diintegrasikan ke dalam komputer.

Percakapan yang dimaksud Nadella itu mencakup aktivitas pengguna di antarmuka grafis, gerakan mouse, dan layar sentuh. Semua itu adalah cara besar berikutnya interaksi manusia dengan komputer.

“Ini konsep sederhana namun bisa menghasilkan dampak yang sangat besar,” ujar Nadella seperti dikutip dari The Verge.

Di atas panggung, Nadella juga menjelaskan bahwa komputasi di masa depan akan melibatkan tiga pelaku utama, yakni manusia sebagai pengguna, asisten digital, dan bot atau chatbot.

Asisten digital dan robot dalam hal ini basisnya adalah kecerdasan buatan.

Asisten digital, seperti Cortana, akan terintegrasi dan selalu ada dengan seluruh perangkat pengguna dan bisa mengenal kepribadian pengguna.

Sementara chatbot, akan berperan sebagai perantara antara pengguna, sistem, dan dengan sistem lain.

Dengan begitu, chatbot akan memiliki kecerdasan untuk mengambil dan menjalankan berbagai tugas seperti memesan kopi dan belanja online.

“Bot seperti sebuah aplikasi baru yang dapat berkomunikasi dengan Anda. Asisten pribadi memerintahkan bot atas nama Anda,” kata Nadella.

Pada ajang ini, Microsoft memamerkan bagaimana Cortana bisa terintegrasi dengan berbagai bot untuk merencanakan liburan pada aplikasi Skype tanpa harus meninggalkan tampilan chat.

Microsoft juga meluncurkan Microsoft Bot Framework yang berisi serangkaian kode dan machine learning program sehingga para pengembang bisa membuat chatbot sendiri.

Tak hanya ingin menawarkan chatbot yang cerdas, Microsoft juga ingin mengajak semua orang untuk mengembangkannya.

“Kami ingin membangun kecerdasan yang bisa berkali-kali lipat dari kemampuan manusia. Ini bukan tentang manusia melawan mesin, tetapi tentang manusia dengan mesin,” tutur Nadella.

Microsoft tidak sendirian dalam mengembangkan kecerdasan buatan. Perusahaan teknologi besar juga telah memperkenalkan konsep serupa seperti Amazon Alexa dan Apple Siri yang berupaya meyakinkan berbicara dengan komputer kadang lebih cepat ketimbang menggunakan mouse, keyboard, atau layar sentuh.

Facebook pun melakukan hal yang sama dengan asisten digitalnya bernama “M” yang terdapat pada aplikasi pesan instan Messenger.

Di sisi lain, aplikasi messaging asal China, WeChat sudah menciptakan chatbot yang memungkinkan pengguna untuk memesan taksi atau tiket bioskop melalui teks.

Program kecerdasan buatan AlphaGo yang dikembangkan Google DeepMind, akhirnya dikalahkan oleh manusia setelah melewati beberapa pertandingan melawan manusia dalam permainan strategi kuno, Go.

Pemain Go dari Korea Selatan, Lee Sedol, memenangi pertandingan pertamanya melawan program komputer AlphaGo.

Dalam pengembangannya, DeepMind berupaya membuat AlphaGo untuk mendekati intuisi manusia dan bisa mengasah dirinya sendiri untuk memelajari berbagai strategi.

DeepMind mengembangkan berbagai program kecerdasan buatan seperti jaringan saraf yang bisa menggambar, mengenali gambar, pendeteksi penyakit, sampai mendeteksi komputer kuantum

Komentar