Kecerdasan Buatan Bisa Prediksi Kematian

Penulis: Darmansyah

Jumat, 2 Maret 2018 | 09:50 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman “the next web,” hari ini, Jumat, 02 Maret, datang dengan tulisan yang mengejut tentang kemampuan kecerdasan buatan meramal kematian.

Menurut laporan terbaru, divisi Google,  sedang mengupayakan agar program kecerdasan buatan besutannya memiliki kemampuan untuk memprediksi kematian seseorang.

Jadi, kecerdasan buatan ini dapat membantu para petugas medis untuk menentukan kondisi seseorang.

Kecerdasan buatan yang bernama DeepMind ini akan diisi dengan rekam medis dari tujuh ratus ribu  ribu veteran asal Amerika Serikat.

Dengan cara ini, sistem akan mempelajari dan memprediksi kondisi pasien, termasuk jika ada kemungkinan meninggal.

Sistem ini disebut dapat membantu tugas perawat dan dokter yang biasa mengawasi pasien. Biasanya, perawat dan dokter bertugas untuk mengawasi setiap pasien yang sedang dirawat.

Namun, pengawasan itu biasanya tak dapat dilakukan sekaligus dan kadang masih mengandalkan sensor atau alat di pasien.

Karena itu, jika DeepMind dapat mengajarkan kecerdasan buatan mengatasi kondisi ini, bukan tak mungkin fungsi pengawasan dapat digantikan kecerdasan buatan.

Terlebih, pengawasan ini dapat dilakukan sepanjang waktu, mengingat komputer tak membutuhkan waktu istirahat. Selain itu, penggunaan sistem semacamam ini dapat mengurangi kasus human-error dalam penanganan medis.

Sebagai langkah awal, DeepMind akan berfokus pada penyakit Acute Kidney Injury atau AKI.

Selain penyakit tersebut cukup sulit diprediksi, AKI juga dapat menyerang orang dari segala usia.

Apabila pengembangan kecerdasan buatan DeepMind ini benar-benar berhasil, bukan tak mungkin dapat mengubah bidang kesehatan secara menyeluruh.

Sebab, masalah kesehatan yang diderita pasien dapat diatasi lebih awal.

Peneliti dari Google dan anak perusahannya di bidang kesehatan, Verily, berhasil menemukan cara baru untuk mengetahui seseorang berisiko penyakit jantung. Mereka memanfaatkan penggunaan kecerdasan buatan.

Dikutip dari The Verge, keduanya memanfaatkan software berbekal machine learning untuk menganalisis mata seseorang.

Software itu diklaim akurat untuk mengumpulkan data seseorang, mulai dari umur, tekanan darah, termasuk kebiasannya merokok.

Berbekal data tersebut, software lantas dapat memprediksi apakah seseorang menderita masalah jantung, seperti serangan jantung.

Software besutan Google ini disebut memiliki akurasi yang sama dengan metode paling mutakhir sekarang ini.

Secara metode, software ini dapat menjadi alternatif baru bagi dokter untuk menganalisa seseorang. Alasannya, hasil pengujian ini membuat proses analisa lebih cepat dan mudah, termasuk tak lagi membutuhkan uji darah.

Kendati demikian, metode ini masih perlu diuji lebih lanjut sebelum benar-benar diterapkan dalam keperluan medis. Meski perlu pengujian lebih lanjut, peneliti medis dari Universitas Adelaide, Luke Oakden-Rayner menyebut hasil dari metode ini sudah kuat.

“Mereka mengambil satu data untuk alasan klinis dan mendapatkan lebih dari yang bisa diperoleh saat ini.”

“ Ketimbang disebut sebagai pengganti dokter, cara ini lebih tepat disebut sebagai sistem yang dapat meningkatkan jangkauan dokter,” tuturnya.

Profesor Fisiologi Kardiovaskular dari UCL London, Alun Hughes, menyebut pendekatan yang digagas Google ini terbilang kredibel. Ia pun menyebut kecerdasan buatan memiliki potensi untuk mempercepat analisis medis yang ada saat ini.

Di sisi lain, bagi Google, pemanfaatan kecerdasan buatan ini menunjukkan paradigma medis baru yang didukung kecerdasan buatan.

Sebab, kebanyakan algoritma medis saat ini dibuat dengan meniru alat diagnostik yang ada, seperti identifikasi kanker kulit.

Karena itu, algoritma berbasis kecerdasan buatan ini diharapkan dapat menciptakan masukan medis baru tanpa campur tangan manusia.

Bahkan, bukan tak mungkin algoritma semacam ini dapat digunakan untuk mendapatkan penemuan ilmiah baru.

Mengingat potensi ini, Google pun disebut telah menciptakan inisiatif baru yang diberi nama Project Baseline.

Proyek ini berfungsi mengumpulkan catatan medis lengkap dari sekitar 10 ribu orang dalam empat tahun.

Komentar