“Kami Tak Pernah Biarkan Berita Palsu”

Penulis: Darmansyah

Jumat, 17 Maret 2017 | 15:34 WIB

Dibaca: 0 kali

CEO Facebook Mark Zuckerberg menilai tuduhan yang menyebut perusahaannya sengaja membiarkan berita palsu sebagai omong kosong.

Ia juga menyebut Facebook turut menjadi korban dalam isu berita palsu.

“Ada sejumlah tuduhan yang bilang kami sebetulnya ingin konten semacam ini di layanan kami karena lebih memuaskan dan lebih mudah memancing klik, tapi itu sampah,” aku Zuckerberg seperti dilansir Business Insider.

Zuckerberg bersikeras bahwa tak ada satu pun dalam komunitas Facebook yang menginginkan beredarnya informasi palsu.

Tuduhan seperti itu bukan kali pertama dihadapi Facebook. Pemuda terkaya di dunia ini pernah beberapa kali menampik keras tudingan serupa saat hoax dan berita palsu makin populer di Amerika Serikat selepas pemilihan presiden tahun lalu.

Saat itu Facebook dinilai terlalu pasif dan terkesan sengaja membiarkan berita palsu merebak di platform mereka. Asumsi itu muncul karena ada dugaan keuntungan yang direguk Facebook dari banyaknya berita palsu.

Dengan jumlah pengguna lebih dari satu miliar orang di dunia, Facebook dianggap sebagai media sosial yang punya pengaruh kuat dalam menggiring opini. Pasalnya Facebook punya fitur berbagi konten berita di dalamnya.

Algoritma yang menggaungkan cara pandang seorang pengguna (bubble filter) diduga sebagai biang kerok atas permasalahan ini.

“Kami bertanggung jawab melawannya dan kami akan melakukannya seperti kami membasmi spam dan membantu penguna menandai sebuah konten yang lolos dari pengamatan validator pihak ketiga,” terang pria yang akrab disapa Zuck.

Kendati kerepotan menghadapi isu berita palsu ini, Zuck menggarisbawahi pentingnya berbagi konten sebagai praktik demokrasi. Itu sebabnya sampai kini Facebook menolak menjadi pihak yang memvonis suatu kebenaran.

Untuk mengatasi berita palsu Facebook  kembali mempertimbangkan tombol ‘dislike’.

Tombol tersebut muncul di uji coba fitur terbaru di Messenger.

Situs TechCrunch mendapati rencana pembaharuan Facebook Messenger dengan tombol dislike. Tombol itu merupakan bagian dari satu paket emoji reaksi yang bisa diberikan pengguna ke setiap teks yang dikirim lawan ngobrol di Messenger.

“Kami selalu menguji cara membuat Messenger makin menyenangkan dan menarik. Ini uji coba kecil di mana kami membuat emoji yang bisa mewakili perasaan mereka di sebuah pesan,” ujar perwakilan Facebook kepada TechCrunc

Facebook memastikan emoji jempol ke bawah hanya akan ada di Messenger. Sementara di News Feed, mereka masih enggan menyematkannya.

Padahal sudah sejak lama tombol dislike menjadi fitur yang paling diharapkan pengguna Facebook. Sejak awal berdiri, jejaring sosial bikinan Mark Zuckerberg ini memang selalu menolak ide tersebut.

Bagi mereka, tombol dislike adalah bentuk penolakan atas ekspresi yang tersebar di komunitas mereka. Facebook tidak mau ada reaksi negatif berlebihan di platform mereka.

Untuk mengakali permintaan tersebut, Facebook membuat paket emoji reaksi pada tahun lalu. Pengguna bisa memberikan beragam tanggapan yang diwakili emoji untuk setiap postingan yang diunggah seseorang.

Dalam uji coba fitur baru itu, Facebook juga memasang penghitung reaksi untuk setiap teks di Messenger. Tujuannya untuk membantu sebuah grup chat membuat keputusan dalam sebuah disksusi atau koordinasi.

Menurut mereka, aplikasi Messenger sering digunakan sebagai alat berkoordinasi dan perencanaan. Dengan emoji reaksi di setiap teks, termasuk emoji dislike, Messenger bisa menjelma sebagai alat voting.

Uji coba fitur baru ini hanya berjalan bagi sejumlah kecil pengguna Messenger.

Namun pihak Facebook tidak bisa memastikan kapan fitur ini akan bergulir untuk semua pengguna Messenger ataupun di News Feed Facebook.

Kabafr lain juga mengungkapkan bahwa  Mark Zuckerberg telah mendapatkan gelar sarjananya dari Universitas Harvard setelah dropout  selama dua belas tahun

Harvard bahkan mendapuk dirinya memberi pidato kelulusan sarjana di sana.

Diketahui dari situs Harvard, Zuckerberg diberikan gelar sarjana berkat pencapaiannya melalui Facebook.

Meski berstatus dropout, hal itu juga tak mencegahnya menjadi pemberi pidato penyambutan yang biasa diberikan ke mahasiswa berprestasi.

“Kepemimpinan Mark Zuckerberg telah mengubah keterlibatan sosial di seluruh dunia. Sedikit penemuan di masa modern ini yang bisa menyaingi Facebook dalam membantu masyarakat berinteraksi,” tulis Presiden Harvard Drew Faust).

Zuckerberg sendiri terdaftar sebagai mahasiswa Harvard College sejak lima belas tahun silam.

Di tengah kuliahnya, Zuck dan teman-temannya menciptakan platform thefacebook.com yang awalnya didesain sebagai jejaring sosial bagi mahasiswa Harvard saja.

Tak disangka, inovasinya tersebut populer begitu cepat. Setelah pindah ke Palo Alto, California, Zuckerberg memutuskan keluar dari bangku kuliahnya.

Untuk memeriahkan kembalinya Zuckerberg, Harvard bahkan membuat video khusus yang menampilkan Zuckerberg serta Bill Gates.

Sama seperti Zuck, Gates merupakan pengusaha sukses yang berstatus dropout dari Harvard. Uniknya, Gates juga diberikan gelar sarjana oleh Harvard meski tak menyelesaikan kuliahnya.

Dalam video itu Gates terlibat percakapan dengan Zuck terkait pengalamannya sewaktu memberi pidato di hadapan peserta wisuda Harvard.

Ya, Gates pun pemberi pidato kelulusan Harvard sepuluh tahun silam. Saat itu Zuck mengaku tak sengaja menyaksikannya ketika menemani sang istri, Priscilla Chan.

Selain faktor kesuksesan Facebook, Harvard menilai Zuckerberg berkontribusi dalam bidang sosial dan ilmu pengetahuan.

“Dan sedikit individu yang bisa menyaingi Mark Zuckerberg soal keinginannya mengubah dunia kita lewat teknologi, juga komitmennya di kemajuan sains, pendidikan, serta filantropi,” imbuh Faust.

Komentar