Hoax Musuh Bersama Facebook dan Google

Penulis: Darmansyah

Selasa, 11 April 2017 | 07:57 WIB

Dibaca: 1 kali

Dituduh sebagai biang dari penyebaran berita “hoax,” Facebook dan Google secara serempak membuat langkah drastis berupa “perang” total terhadap berita bohong itu dengan cara yang efektif.

Sebelumnya, Facebook dan Google mendapat predikat  sebagai “tersangka utama” atas penyebaran berita palsu alias hoax di internet.

Dua platform maya tersebut banyak menuai kritik pada tahun lalu saat pemilihan Presiden AS karena dinilai turut membagikan hoax.

Atas kesadaran itu, Facebook dan Google tak tinggal diam.

Sebut saja Google.

Pekan lalu aplikasi ini mengumumkan produk baru bertajuk “Fact Check” yang mulai tersedia untuk layanan Search dan News.

Cara kerjanya memanfaatkan pihak ketiga yang kompeten dan terpercaya.

Dalam hal ini, Google sama sekali tak melakukan verifikasi berita sendirian.

Google mematrikan label “Fact Check” pada berita-berita yang sudah dicek kebenarannya oleh pihak ketiga, yakni media massa kawakan dan organisasi pengecekan fakta.

ak semua berita dicek kebenarannya. Berita-berita yang viral akan lebih diprioritaskan karena dampaknya lebih besar bagi masyarakat, sebagaimana dilaporkan BGR

Masyarakat diharapkan bisa lebih kritis dalam mengonsumsi berita dengan adanya Fact Check.

Berita-berita yang sensasional dan berbentuk hoax pun dengan sendirinya akan lengser.

Google mulai menerapkan langkah-langkah yang dijanjikan untuk memerangi penyebaran berita palsu alias hoax melalui layanannya. Akhir pekan lalu, raksasa internet ini mulai menandai berita-berita yang muncul di mesin pencarinya, dengan hasil kroscek fakta dari tim verifikasi pihak ketiga.

Laman Google Search akan memperlihatkan klaim dari berita dimaksud, lalu menyandingkannya dengan hasil kroscek. Berita akan ditandai sebagai “benar”, “salah”, atau belum dapat dipastikan sepenuhnya.

Disediakan pula tautan untuk memberikan masukan apabila pengguna merasa masih ada yang janggal dari hasil pemeriksaan fakta (fact check).

“Dengan menampilkan hasil pengecekan fakta di hasil search, kami berharap pengguna bisa lebih mudah meninjau dan membuat penilaian sendiri,” sebut Google dalam sebuah posting blog.

Google pertama kali menguji kemampuan label kroscek tahun lalu, sebelum pemilu presiden AS.

Fitur itu kini sudah tersedia untuk hasil pencarian Google News dan Search dalam semua bahasa.

Dalam hal ini Google mengandalkan kerja sama dengan lembaga pemeriksa fakta non-partisan seperti Politifact dan Snopes.

Menurut Google, komunitas pemeriksa fakta tersebut kini telah berkembang menjadi seratus lima belas organisasi.

Meski demikian, kerjanya belum sempurna. Tak semua berita bakal ditandai oleh pemeriksa fakta.

Proses verifikasi pun relatif memakan waktu, bisa mencapai berhari-hari, sementara hoax bisa menyebar luas dalam waktu sangat singkat.

Selain Google, raksasa teknologi lain yang telah mulai menerapkan langkah-langkah untuk memerangi hoax adalah Facebook.

Bulan lalu jejaring sosial itu memberi label peringatan untuk konten yang kebenarannya diragukan.

Mekanisme Facebook untuk memberantas hoax pun lebih kurang sama dengan Google.

 

Layanan jejaring sosial itu tak sendiri memerangi berita palsu, namun turut memberdayakan pengguna dan pihak ketiga.

Ada tiga area yang menjadi fokus Facebook, yakni mempersulit para kreator hoax untuk menerima insentif ekonomi di Facebook, membuat tool untuk stop penyebaran hoax, dan mengajak pengguna untuk bersama-sama menjaring berita hoax.

Tool khusus yang dimaksud Facebook bakal muncul di sisi atas linimasa pengguna dalam beberapa hari di empat belas negara pertama.

Facebook bekerja sama dengan organisasi non-profit bernama “First Draft” untuk menyusun tool tersebut.

Bentuknya berupa tips bagi pengguna Facebook untuk mengetahui berita mana yang benar dan mana yang palsu.

Beberapa langkahnya termasuk pengecekan URL situs, investigasi sumber, dan pengecekan laporan lain yang bertopik sama.

Menurut Facebook, jika pengguna sudah cerdas memilik berita benar dan hoax, para penyebar hoax akan kesulitan menjaring massa.

Dengan begini, mereka juga bakal kesulitan memonetisasi berita palsu.

Komentar