Global Warming Hidupkan Virus Purba

Penulis: Darmansyah

Selasa, 28 Oktober 2014 | 14:48 WIB

Dibaca: 1 kali

Global warming yang masih diperdebatkan dampaknya bagi kehidupan Bumi kini terbukti mampu membangkitkan virus purba. Sebuah tim peneliti Amerika Serikat, belum lama ini, merilis, hasil kebangkitan virus yang telah berumur tujuh ratus tahun pada lapisan es di Karibu. Lapisan es itu berusia empat ribu tahun dan membeku di pegunungan Selwyn, Kanada.

Seperti yang ditulis oleh “Daily Mail,”, Selasa 28 Oktober, peneliti mengatakan temuan membuktikan virus dapat bertahan hidup dalam waktu yang panjang pada suhu dingin. Mereka memperingatkan bahwa pemanasan global akan menyebabkan banyak virus kembali hidup setelah ribuan tahun.

Eric Delwart peneliti dari Institut Penelitian Sistem Peredaran Darah di San Francisco, mengatakan tim peneliti dapat memperlihatkan bagaimana membangkitkan kembali virus lain, mempelajari dan mencari cara penanganannya.

Dua virus yang berusia ratusan tahun ditemukan pada kotoran Karibu, sejenis rusa yang hidup di Amerika Utara. Salah satunya diyakini menginfeksi tanaman. Peneliti sukses mencobanya pada tanaman Nicotiana benthamiana.

“Temuan kami menunjukkan bahwa material yang membeku pada suhu dingin dapat menyimpan asam nukleat virus kuno, yang memungkinkan dilakukannya regenerasi virus,” sebut Eric.

Pengetahuan mengenai virus-virus kuno masih sangat terbatas. Namun cairnya es di Antartika akibat pemanasan global, akan melepaskan unsur-unsur virus kuno ke lingkungan yang sebagian mungkin berbahaya melakukan penularan.

Para ilmuwan gencar-gencarnya mengatakan bahwa pemanasan global mempunyai dampak buruk, serta mengalami peningkatan selama bertahun-tahun. Namun ternyata, hal yang mencengangkan justru terjadi sebaliknya.

Sebuah studi yang menyatakan bahwa suhu bumi tetap konstan selama sembilan belas tahun terakhir. Dengan kata lain, hingga sekarang, tidak ada sedikit pun lonjakan suhu yang dirasakan. Tentu hal itu membuat kita mengerutkan dahi kenapa bisa demikian.

Seperti diberitakan “Daily Mail,” beberapa waktu lalu, studi yang dilakukan oleh pakar ekonomi yaitu Profesor Ross McKitrick dari Universitas Guelph, Kanada, yang mempelajari daratan dan suhu lautan melihat sejarah tren mengenai pemanasan global.
Ia menggunakan HadCRUT4 atau Data Temperatur, sebuah catatan bulanan pembacaan suhu yang dilihat sejak tahun 1850.

HadCRUT4 merupakan buatan Hadley Centre dari Met Office Inggris dan Univeristy of East Anglia Climatic Research Unit. Catatan tersebut, merupakan gabungan suhu pada permukaan laut, dengan suhu yang ada di permukaan tanah sehingga akan diketahui variasi dan anomalinya.

Kemudian, Prof. McKitrick, membandingkan HadCRUT4 dengan yang dihasilkan oleh satelit Remote Sensing Systems, yang telah mengukur suhu udara.

Setelah membandingkannya, ia kemudian menyimpulkan bahwasanya pemanasan global yang selama ini dikatakan meningkat, ternyata terjadi hiatus, atau jeda selama sembilan belas tahun terakhir.

Banyak orang melihat kontradiksi tersebut, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai dampak perubahan iklim, atau potensi bahaya yang disebabkan oleh gas rumah kaca, atau mengenai keabsahan model iklim tersebut.

Sementara itu, para peneliti mencari tahun penyebab hiatus selama beberapa tahun terakhir. Profesor Ka-Kit Tung dari Universitas Washington, Amerika Serikat, mengatakan hiatus panas berada jauh di kedalaman laut. Ia yakin, pergeseran dalam salinitas di Atlantik Utara membuat asin dan padat, sehingga diyakini telah memicu efeknya.

Sedangkan studi yang lain yaitu ETH Zurich menyimpulkan setidaknya ada dua faktor penting mengenai hiatus ini, yakni mereka mengklaim bahwa itu merupakan dampak dari fenomena cuaca El Nino dan La Nina di Pasifik. Selain itu, mereka menyatakan radiasi dari matahari diperkirakan telah lemah beberapa tahun terakhir.

Hiatus menjadi misteri yang ingin diungkap oleh para peneliti. Bahkan, telah banyak teori yang menjelaskan pemanasan global hiatus tersebut.

“Setiap minggu ada penjelasan terbaru dari hiatus. Banyak yang menyatakan sebelum-sebelumnya fokus pada gejala di permukaan bumi, di mana kita melihat banyak fenomena yang berbeda dan terkait,” kata Prof. Tung.

Komentar