Fenomena Global Kasus Trolls of Internet

Penulis: Darmansyah

Senin, 10 September 2018 | 10:10 WIB

Dibaca: 2 kali

Trolls of internet?

Kaus ini  tidak hanya terjadi di Indonesia.

Ia sudah jadi fenomena global.

Trolls adalah sebutan bagi warganet yang kerap membuat unggahan ­meresahkan. Warganet yang dimaksud tentu saja dalam bentuk akun, bisa jadi akun asli atau akun anonim.

Akun anonim adalah akun yang dijalankan oleh sese­orang atau pihak dengan identitas yang kabur.

Dalam kasus kekerasan di dunia maya (abuse of internet), banyak juga akun anonim yang berdiri di balik trolls untuk menyerang orang lain.

Trolls terjadi bukan sekadar mengunggah visual atau pernyataan meresahkan di akun miliknya, tetapi bisa juga berbentuk komentar jahat dan tidak pantas. Bahkan, ada yang menggunakan bahasa yang mengerikan.

Serangan trolls, begitu salah satu sebutannya jika muncul banyak komentar jahat dan tak pantas pada akun seseorang, bisa menimpa siapa saja. Contoh yang masih hangat bisa dilihat pada akun Instagram atlet papan luncur (skateboard) asal Malaysia, Fatin Syahirah Roszizi.

Ia tampil membela negaranya pada event Asian Games lalu di Palembang. Rabu, pekan lalu, ia gagal meraih medali karena finis paling terakhir pada nomor women’s street. Medali emas nomor ini dimenangi oleh atlet Filipina, Margielyn Didal.

Setelah penampilannya, Fatin dikritik habis-habisan di akun Instagramnya. Laman Stadium Astro melaporkan, tak sedikit dari pemberi kritikan itu melontarkan kata-kata pedas, sebagian terdengar kasar.

Antara lain menyebutnya ”aib bagi kontingen nasional”, atau ”hal yang buang-buang uang dan waktu”.

Segera setelah keramaian trolls terjadi, Fatin menutup akun Instagramnya, dengan meninggalkan unggahan di Instagram Story dengan satu kata pesan, ”sorry” diikuti ikon bendera Malaysia.

Trolls memang tidak mengenal objeknya. Fatin meski tampil sebagai atlet yang membela negaranya, baru berusia enam belas tahun.

Dalam status hukum, ia masih tergolong anak-anak. Meski demikian, usianya tidak memberi dia hak istimewa untuk bebas dari serbuan trolls.

Jika mentalnya tak kuat, korban trolls bisa saja terpuruk. Tak sedikit kabar dari berbagai negara di dunia mengenai tindakan bunuh diri kalangan anak dan remaja karena tak kuat mendapat hinaan dari dunia maya.

Namun, dampak dari perilaku membuat trolls di dunia maya sangat dapat dirasakan di dunia nyata. Bahkan, bisa berpengaruh pada karier korbannya.

Masih segar kabar dari Amerika Serikat mengenai kegagalan calon pegawai magang di NASA, lembaga antariksa AS, karena tidak mampu mengendalikan jari jemari saat bermain di media sosial.

Dikutip dari laman independent.co.uk, pemilik akun Twitter @naomi_H meluapkan ekspresinya dengan bahasa slang, khas anak muda.

Ia menulis, ”Everyone shut the f*** up I got accepted for a NASA internship”. Tak lama, cuitannya dibalas oleh pemilik akun @homerhickam dengan satu kata saja “language”.

Jika diartikan, Hickam mengingatkan Naomi untuk tidak menggunakan bahasa kasar. Itu merupakan teguran khas orangtua di AS jika mengingatkan pada anaknya.

Namun, Naomi membalasnya dengan unggahan yang tak kalah kasar. Ia menulis, ”Suck my d*** and balls I’m working at NASA.”

Naomi mungkin berpikir ia telah menskak mat Hickam. Akan tetapi, ia mendapat balasan yang mengejutkan dari Hickam, ”And I am on the National Space Council that oversees NASA.”

Rupanya, Hickam juga bekerja di NASA bahkan di dewan yang mengawasi lembaga antariksa tersebut. Apakah pembicaraan antara keduanya selesai?

Mungkin ya, tapi yang membuatnya semakin keruh adalah trolls komentar dari teman-teman (follower) Naomi pada Hickam. Mereka berusaha ”membela” Naomi tetapi dengan cara membuat unggahan buruk tentang Hickam dan menandai akunnya (men-tag).

Ungkapan kasar, cibiran, sindiran, atau yang saat ini disebut ”nyinyir” dilontarkan pada Hickam.

Misalnya akun @_Flinch yang menulis, ”it’s me, Homer Hickam, the guy who searches the word NASA so i can crank it to pictures of the moon, my kids dont talk to me anymore”.

Akibat ramainya trolls untuk cuitan Naomi dan Hickam, NASA memutuskan untuk memecat Naomi sebagai pegawai.

Naomi pun kehilangan kesempatan baik untuk kariernya akibat dari ketidakbijaksanaannya bermain media sosial, juga karena trolls yang menyerang Hickam.

Meski demikian, Hickam kemudian menyampaikan klarifikasi bahwa pemecatan Naomi bukan atas inisiatifnya. Ia juga mengatakan bahwa Naomi sudah menyampaikan permintaan maaf langsung.

Meski demikian, komentar trolls terus membanjiri akun media sosial Hickam sehingga ia harus menghapus pembicaraannya dengan Naomi di Twitter. Begitu pula dengan akun Twitter Naomi yang sudah tidak aktif.

Laman bulliesout merilis artikel agar terhidar dari dampak buruk diserang trolls.

Antara lain jika ada komentar yang membuat tidak nyaman, segera ceritakan kronologisnya pada orang terdekat. Acuhkan mereka yang mengajak bertemu.

Jangan larut dalam debat kusir yang ofensif, berisi perisakan, atau kekerasan online. Jalan terbaik adalah melaporkan akun trolls tersebut

Komentar