Berlomba Membangun “Rumah” di Mars

Penulis: Darmansyah

Kamis, 9 Maret 2017 | 15:13 WIB

Dibaca: 0 kali

Ilmuwan NASA berencana membuat medan magnet raksasa untuk Mars.

Medan magnet itu diperlukan agar Mars bisa menjadi planet yang  dihuni manusia.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, kondisi dingin dan gersang merupakan akibat dari nihilnya atmosfer di sekeliling Mars.

Badai panas dari Matahari diduga bertanggung jawab atas hilangnya lapisan atmosfer Mars.

Pada pertemuan ilmuwan bertajuk Planetary Science Vision pekan lalu, Jim Green dari NASA menyebut magnestofer buatan bisa menjadi solusi di Mars.

Menurut Green, tameng magnet yang diletakkan di antara Matahari dan Mars secara hipotesis bisa menlindungi Mars.

“Situasi ini mengeliminasi proses erosi angin Matahari yang terjadi di ionosfer dan atmosfer yang lebih tinggi di Mars sehingga atmosfer Mars bisa berkembang seiring tekanan dan temperatur,” tulis NASA dalam penelitiannya.

Metode ini serupa dengan metode yang sedang mereka kaji yaitu melindungi astronaut dan pesawat antariksa dari radiasi kosmik dengan medan magnet.

“Kami harus bisa mengubah arah medan magnet itu agar bisa membelokkan arah angin Matahari,” ujar Green seperti dikutip dari Science Alert.

Dalam simulasi NASA, jika pembelokkan angin Matahari tadi berhasil maka atmosfer alami Mars sedikit demi sedikit akan terkumpul kembali.

Dengan demikian, setidaknya tekanan atmosfer Mars bisa terkumpul lima puluh persen dari jumlah tekanan atmosfer di Bumi dalam satu tahun.

Ketika atmosfer Mars semakin tebal, jumlah karbon di dalam planet akan bertambah. Karbon inilah yang menjadi harapan para ilmuwan agar temperatur Mars bisa sesuai kebutuhan manusia.

Temperatur hangat tadi juga diharapkan mampu melelehkan kumpulan es sehingga pasokan air di Mars kembali mengalir.

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan ada bukti pernah ada aliran air di permukaan Mars.

Dengan kata lain, para ilmuwan sedang berupaya menciptakan efek rumah kaca di Mars, Sesuatu yang berusaha dicegah oleh banyak ilmuwan di Bumi.

“Kalau ini bisa tercapai, kolonisasi Mars tidak akan lama lagi,” ucap Green.

Meski masih di level hipotesis, para peneliti cukup yakin dengan kemungkinan keberhasilan dari metode ini.

Sementara itu, Pemerintah Uni Emirat Arab sedang menyiapkan program jangka panjang mengirim manusia ke Mars.

UEA menargetkan misi tersebut tercapai pada tahun dua ribu seratus tujuh belas mendatang.

Untuk mewujudkan misinya itu, pemerintah UEA juga telah membuat wahana antariksa dan sketsa hunian manusia di Mars.

Rencana ini diungkapkan Wakil Presiden Sheikh Mohammaded bin Rashid Al Maktoum.

Ia bergairah menjadikan negaranya sebagai salah satu pelopor penjelajahan Mars.

“Pendaratan manusia di planet lain sudah jadi impian sejak dulu. Tujuan kami adalah UEA menjadi ujung tombak dalam upaya internasional mewujudkan mimpi ini,” ucap Al Maktoum seperti yang dikutip dari Space.

Pemerintah UEA menyebut mereka tengah berfokus mengembangkan teknologi di tahap pertama proyek bertajuk “Mars 2117 Project” ini.

Mereka juga sedang menghimpun sumber daya ahli untuk meneliti Mars.

“Proyek ini akan mulai dengan tim ilmuwan UEA, termasuk ilmuwan dan peneliti internasional untuk mempersingkat upaya manusia menjelajah dan menghuni Planet Merah,” lanjut Al Maktoum.

Tim gabungan peneliti dan ilmuwan tadi akan berbentuk konsorsium internasional.

Salah satu yang menjadi perhatian utama rencana negeri kaya minyak ini adalah alat transportasi menuju dan dari Mars serta lingkungan pendukung kehidupan di sana seperti makanan dan energi.

Sejauh ini, kemajuan yang telah dicapai tim peneliti UEA adalah sketsa kota yang akan dibangun robot untuk hunian manusia di Mars.

Tim tersebut juga telah memperkirakan gaya hidup manusia saat tinggal di Mars mulai dari perpindahan tempat, produksi energi, dan penyediaan pangan, serta material untuk membangun kota.

Kemajuan lainnya adalah pembuatan orbit Mars yang diberi nama “Hope”. Hope adalah wahana antariksa UEA pertama menuju Planet Merah.

UEA menargetkan Hope bisa mengangkasa pada tiga tahun mendatang dengan menggunakan roket peluncur H-2A dari Jepang.

Hope diberi misi menemukan hubungan khusus antara cuaca Mars terkini dengan iklim planet di masa lampau. Wahana Hope ditargetkan sampai di orbit Mars pada empat tahun nanti.

Sebelumnya, pemerintah Amerika melalui National Aeronautics Space Administration dan tim peneliti dari European Space Agency sudah lebih dulu berlomba-lomba mengungkap kemungkinan kehidupan di Mars.

Belakangan, sektor swasta seperti SpaceX juga berambisi menerbangkan misi berawak manusia ke Mars pada 2022

Komentar