Babak Baru Menemukan Alien Dimulai

Penulis: Darmansyah

Rabu, 29 Juli 2015 | 09:10 WIB

Dibaca: 0 kali

Babak baru pencarian kehidupan asing di luar Bumi, yang sering disebut dengan alien, kini, mencapai puncaknya dengan keikutsertaan Stephen Hawking, dan disepakatinya gagasan pembangunan teleskop berkekuatan super, yang beberapa kali lipat lebih besar dan canggih daripada teleskop yang ada sekarang.

Hawking, fisikawan terkenal dari Inggris, secara khusus juga meminta dibangunnya teleskop antariksa baru yang akan menggantikan posisi Teleskop Antariksa Hubble. Dan di saat yang sama, diskusi ilmiah soal kemungkinan adanya kehidupan asing juga semakin mengemuka.

“Para ilmuwan sangat senang bisa berbicara secara rasional soal kemungkinan adanya kehidupan di luar sana,” kata Bob Nichol, astronom di Portsmouth University, Inggris.

Nichol mengatakan bahwa penemuan planet-planet baru, seperti planet baru yang teridentifikasi di tata bintang Alfa Centauri pada pekan lalu, juga mendorong semangat itu.

Sementara itu, NASA berharap mampu mengirimkan sebuah robot pemantau atau pesawat luar angkasa ke salah satu bulan milik Jupiter yang bernama Europa untuk bisa secepatnya menemukan alien.

Europa merupakan bulan keempat terbesar milik Jupiter dan memiliki kedalaman air 10 kali lipat lebih dalam dibandingkan laut di Bumi. Berdasarkan pantauan teleskop luar angkasa, Europa dipercaya menyimpan dua hingga tiga kali lipat air lebih banyak dibandingkan Bumi.

Ilmuwan juga meyakini, di mana ada air, di situ terdapat kehidupan. Europa merupakan Bulan dengan jarak yang sangat jauh dari Matahari, tetapi ilmuwan meyakini bahwa terdapat pasang surut lautan di Europa dan jarang terjadi pembekuan pada laut tersebut.

Charles Bolden, NASA Administrator mengatakan, pihaknya sedang melihat ke masa depan untuk merencanakan misi menjelajah Europa. Tim akan memilih instrumen yang akan dipakai pada musim semi tahun ini dan bergerak menuju tahapan berikutnya.

Lebih dari delapan ratus eksoplanet—sebutan untuk planet di luar tata surya kita—telah ditemukan sejak awal sembilan puluhan.

“Ledakan jumlah planet membuat peluang itu semakin besar,” kata Nichol. Dia menambahkan bahwa banyak format kehidupan yang ada di bumi adalah indikasi, meski bukan bukti, ada kehidupan di luar sana.

“Kami tidak bisa memastikan bahwa seluruh bintang yang ditemukan memiliki sistem planet yang bisa dihuni, namun bintang-bintang ini merupakan tempat terbaik untuk mencari kehidupan di lain luar angkasa,” kata Andrew Siemion, peneliti lainnya dari University of California at Berkeley

Para astronom sekarang makin terbuka untuk bisa mendiskusikan tentang kehidupan atariksa karena mendapat bantuan dari Green Bank Telescope yang sangat canggih.

Teleskop Green Bank merupakan proyek yang dikembangkan oleh National Radio Astronomy Observatory.

Seorang fiskawan lainnya, Werthimer, yang juga terlibat dalam penelitan menyebutkan, pihaknya memilih planet-planet yang memiliki temperatur dengan alasan lebih berpotensi menyimpan kehidupan.

Werthimer sendiri telah memimpin proyek SETI yang sudah berusia tiga dekade dari Puerto Rico, tempat di mana Arecibo, teleskop radio terbesar di dunia berada.

Namun demikian, Werthimer menyebutkan, proyek itu tidak bisa mengamati kawasan langit utara yang sama seperti yang diamati oleh teleskop Green Bank.

“Dengan Arecibo, fokus kami adalah memantau bintang yang serupa dengan Matahari kita. Harapannya adalah mereka memiliki planet di sekitarnya yang memancarkan sinyal intelijen,” kata Werthimer.

“Namun demikian, kami belum pernah memiliki daftar planet seperti ini sebelumnya,” ucapnya.

Green Bank Telescope, kata Werthimer, mampu memindai jangkauan frekuensi hingga tiga ratus kali lipat kemampuan Arecibo. Artinya, dalam satu hari ia bisa mengumpulkan data dengan jumlah yang sama yang dilakukan oleh Arecibo dalam waktu satu tahun.

Peneliti memperkirakan, proyek pencarian ini kemungkinan akan memakan waktu satu tahun.

Pada pelaksanaannya, proyek ini juga akan dibantu oleh sekitar 1 juta orang astronom rumahan yang tergabung dalam SETI@home yang membantu memproses data yang didapat menggunakan komputer pribadi mereka

Ilmuwan dari Geneva Observatory juga mengatakan bahwa planet terbaru yang mereka temukan ini terlalu dekat dengan bintang induknya sehingga kecil kemungkinan planet itu bisa mendukung adanya kehidupan.

Namun studi sebelumnya menunjukkan bahwa ketika ada sebuah planet ditemukan mengorbit sebuah bintang, biasanya ada planet lain di tata bintang tersebut.

Dengan penemuan itu, beberapa astronom lain kini mulai menyisir Alfa Centauri guna mencari planet lain yang mengitari bintang itu, terutama di zona yang cukup hangat untuk dapat dihuni makhluk hidup.

“Sangat realistis jika berharap bahwa dalam beberapa dekade mendatang kita bisa menyimpulkan apakah sebuah planet seperti bumi mempunyai oksigen atau ozon di atmosfernya, dan apakah permukaannya tertutup vegetasi,” kata Martin Rees, Astronomer Royal Inggris.

Dalam dasawarsa mendatang, dua teleskop baru itu akan menjadi mata dan telinga yang membuat para ahli astronomi mampu melihat dan mendengar alam semesta dengan lebih dalam dan luas

Tugas utama kedua teleskop itu adalah mengusut asal usul dan sifat galaksi di alam semesta. Keduanya juga harus mencari sinyal kehidupan lain di planet-planet yang hingga kini hanya terlihat dalam detail kasar.

“Dengan kemampuan teleskop baru ini, kemungkinan pendeteksian adanya kecerdasan di luar bumi pada beberapa dekade mendatang akan jauh lebih besar daripada saat ini,” kata Mike Garrett, direktur jenderal Astron, Institut Astronomi Radio Belanda.

Isobel Hook, astrofisikawan Oxford University yang bekerja di E-ELT, mengatakan bahwa teleskop baru ini akan mendorong pencarian kehidupan cerdas di luar bumi pada babak yang baru.

“Teleskop ELT akan membantu kita mempelajari atmosfer planet ekstrasolar dan mencari tanda-tanda biologis, seperti air, karbon dioksida, dan molekul oksigen dalam spektrumnya,” kata Hook.

Dengan perlengkapan yang tepat, Hook mengatakan, ELT mungkin dapat menggunakan spektroskopi guna mempelajari panjang gelombang cahaya yang dipantulkan oleh sebuah obyek. “Sehingga teleskop itu dapat mendeteksi indikasi adanya vegetasi di planet yang jauh,” ujarnya.

Stephen Hawking dan ilmuwan asal Rusia bernama Yuri Milner pada Senin ini mengonfirmasikan telah menjalin kerjasama untuk sebuah proyek pencarian kehidupan alien.

Mengutip dari Geek, proyek bernama Breakthrouh Listen itu diketahui akan menggunakan dua teleskop dunia yang paling kuat untuk memindai kehidupan di seluruh alam semesta.

Namun, satu hal yang membuat proyek ini semakin mengesankan ialah penggunaan aplikasi berbasis Android di dalamnya. Warga sipil nantinya dapat berpartisipasi dalam proyek pencarian mahluk asing milik mereka dengan menggunakan aplikasi bernama BOINC.

Pemburu alien sipil dapat meminjamkan ponsel mereka untuk memproses data yang terkumpul dalam teleskop.

Aplikasi ini menggunakan kerangka Berkeley Open Infrastructure for Computer Networking yang telah digunakan di dunia ilmiah sejak lama untuk memilah dan mengolah informasi.

Komentar