Awas!! Password Sederhana Bisa Kacau

Penulis: Darmansyah

Rabu, 15 Maret 2017 | 11:27 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda pengguna internet aktif?

Kalau jawaban iya, ada pertanyaan susulan.

Apakah Anda memahami penggunaan  password atau kata sandi  yang aman.

Ya juga ketika banyak orang tidak tahu secara efektif melindungi diri  saat online.

Setidaknya ada tiga kesalahan umum yang sering dilakukan oleh netizen soal password. Ak bat tak mengetahui keamanan kata sandi.

Berdasarkan penelitian terbaru dari Kaspersky Lab menunjukkan banyak pengguna yang menempatkan keamanan online mereka dengan risiko, sebab netizen membuat password yang buruk.

Selain itu, netizen juga dianggap melakukan kesalahan karena memiliki password ‘sederhana’ yang menimbulkan konsekuensi lebih buruk.

Dari hasil penelitian itu, Kaspersky menemukan tiga kesalahan umum dilakukan netizen yang ceroboh memperhatikan password di internet.

Pertama, pengguna menggunakan password yang sama untuk beberapa akun. Ini berarti, jika password tersebut bocor maka akun lainnya dapat diretas.

Kedua, pengguna menggunakan password yang lemah sehingga mudah untuk diretas.

Ketiga, pengguna menyimpan password mereka secara tidak aman sehingga menyia-nyiakan pentingnya memiliki password bahkan yang kuat sekalipun.

Head of Consumer Business Kaspersky Lab, Andrei Mochola menuturkan, dengan begitu banyaknya informasi pribadi dan sensitif yang disimpan secara online saat ini maka pengguna harus mengambil langkah keamanan yang lebih baik lagi.

Langkah berupa proteksi password yang efektif untuk melindungi diri mereka.

“Ini sebenarnya cukup jelas tetapi sayangnya banyak pengguna yang tidak menyadari bahwa mereka selalu jatuh ke dalam perangkap pembuatan manajemen password ‘sederhana’ yang salah,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya.

Mochola mengatakan, kesalahan-kesalahan tersebut pada gilirannya akan meninggalkan ‘pintu depan’ menuju e-mail, rekening bank, file pribadi dan lainnya terbuka lebar bagi penjahat siber.

Kaspersky menunjukkan, sejumlah besar pengguna, hampir satu dari lima atau delapan belas persen, menghadapi upaya peretasan akun.

Tapi hanya sedikit yang menerapkan keamanan berupa password efektif dan cerdas siber.

Sebagai contoh, hanya sepertiga atau tiga puluhpersen pengguna internet yang membuat password benar-benar baru untuk akun online yang berbeda.

Data lainnya yang mengkhawatirkan, satu dari sepuluh pengguna masih menggunakan password yang sama untuk semua akun online mereka.

Dengan demikian, apabila password tersebut diretas, maka mereka berisiko setiap akun lain miliknya akan diretas dan dieksploitasi.

Kaspersky Lab, netizen tidak menciptakan password yang cukup kuat. Menurut Kaspersky Lab, hampir setengah atau empat puluh tujuh persen, netizen menggunakan kombinasi huruf besar dan huruf kecil pada password mereka dan hanya dua dari tiga atau 64 persen, yang menggunakan campuran huruf dan angka.

Terlepas dari fakta pengguna menyadari betul perbankan online), email  dan akun belanja online , memang membutuhkan password yang kuat.

Penelitian ini menunjukkan, pengguna ‘menganiaya’ password mereka, dengan membagikannya kepada orang lain dan menggunakan metode tidak aman untuk mengingatnya.

Hampir sepertiga berbagi password dengan anggota keluarga terdekat, dan satu dari sepuluh berbagi password dengan teman-teman mereka, sehingga memungkinkan secara tidak sengaja password bocor.

Dari lima pengguna, ada lebih dari satu  yang mengaku menulis password mereka di notepad untuk membantu mengingatnya. Bahkan jika password tersebut kuat, perilaku ini membuat pengguna rentan karena orang lain dapat melihat dan menggunakannya.

Pada dasarnya, orang-orang akan selalu menggunakan password atau kata sandi dengan angka atau huruf yang mudah diingat.

Sayangnya, masih ada saja password yang sering digunakan oleh sebagian orang sepanjang tahun lalu.

Dilansir Business Insider, Selasa 17 Januari 2017, dengan mengutip berbagai analis, laman itu menyebutkan ada sepuluh juta password yang bocor

Maka tak heran, bila peretas dapat membobol para akun daring dengan mudahnya, karena pengguna menggunakan password yang terlalu mudah ditebak.

Misalnya pada tahun lalu, muncul kasus pembobolan akun kencan dewasa Adult Friend Finder sampai pengguna LinkedIn.

“Melihat daftar password yang paling umum bocor pada tahun lalu, kita tidak bisa berhenti menggelengkan kepala. Ini menakjubkan mengingat fakta bahwa sudah ada software dan hardware yang dapat menguraikan password dalam hitungan detik.

Operator website perlu memberikan tips perlindungan, kepada pengguna yang sembrono dan pemalas,” ujar perusahaan keamanan Keeper.

Terlebih, kata Keeper, praktik keamanan dari tahun ke tahun hanya dilakukan sebagian orang saja. Perubahan password yang itu-itu saja, masih saja ada yang menggunakannya.

“Itu berarti edukasi kepada pengguna masih terbatas. Penting bagi pengguna untuk menyadari risiko yang akan dihadapi untuk melindungi data mereka sendiri. Administrator IT dan operator website pun yang harus melakukan pekerjaan mereka.” jelas Keeper.

Komentar