Auman Langit itu, Dulunya, Dinamai “Hum”

Penulis: Darmansyah

Kamis, 28 Mei 2015 | 10:19 WIB

Dibaca: 0 kali

Suara mirip auman sangkakala, yang datang dari auman “terompet” langit, dan melanda beberapa negara di dunia, bukanlah fenomena baru tetapi sudah pernah terjadi empat puluhan tahun lalu dikenal dengan nama “Hum.”

“Hum,” seperti ditulis kembali oleh jurnal science Universitas Oxford, Inggris, pernah terjadi pada periode tujuh puluhan dan delapan puluhan di Britania Raya dan negara lainnya seperti Selandia Baru.

Jurnal itu mencatat ketika itu banyak penduduk merasakan dan melaporkan kejadian tersebut.

Hum sendiri, menurut Wikipedia didefinisikan sebagai rentetan fenomena yang melibatkan suara dengungan berfrekuensi rendah dan tidak dapat didengar oleh semua orang.

Bukan hanya di Selandia Baru, suara mirip auman sangkakala atau “Hum” juga dilaporkan terjadi di beberapa tempat lainnya seperti Taos, beberapa wilayah Eropa dan Amerika Utara.

Tujuh tahun lalu fenomena ini kembali terjadi di Belarusia. Dan berlanjut kemudian pada 2011, hingga 2013.

Salah satu saksi mata kejadian itu bernama Kimberley Wookey. Dirinya kemudian mengunggah kejadian tersebut melalui YouTube pada 2013.

Menurut Wookey dalam akun YouTube-nya, dirinya telah dua kali mengalami fenomena suara mirip auman sangkakala tersebut.

Wookey mengatakan, meski dia sendiri merasa aneh dan takut, tetapi ia tidak yakin bahwa suara tersebut berasal dari alien, berhubungan dengan kiamat dan lainnya.

Di stasiun geofisika Atropatena para ilmuwan sedang melakukan studi tentang variasi medan gravitasi bersamaan dengan implus gravitasi yang kuat dan menjadi salah satu teori mengapa ada bunyi seperti suara terompet dari langit beberapa tahun belakangan.

Setidaknya ada beberapa kota yang memasang alat Atropetana ini, salah satunya terletak di Yogyakarta, Indonesia.

Alat ini sendiri sebetulnya merupakan alat untuk memprediksi gempa dalam jangka pendek.

Atropatena ini alat yang bisa merekam variasi medan gravitasi akibat adanya gelombang tektonik yang muncul saat terjadinya gempa. Dan saat ini sudah dipasang di kota seperti Baku , Pakistan, Ukraina dan Turki.

Dr Wahyudi dari Universitas Gadjah Mada yang juga salah seorang peneliti Atropena mengatakan bahwa stasiun yang dibangun di Yogyakarta ini sudah terhubung dengan situs. Sehingga bisa diketahui informasi perubahan gelombang tektonik di seluruh dunia. Stasiun ini mengetahui perubahan gelombang tektonik dalam radius 750 Km.

Salah satu metode prediksi gempa dengan atropatena ini mengunakan metode travel time dari sinyal anomali. Kecepatan gelombang sangat menentukan untuk menentukan kapan terjadinya gempa,” ungkapnya.

Tentang suara seperti terompet langit yang terjadi di berbagai dunia ini, pada tanggal 15 November 2011, semua stasiun geofisika Atropatena merekam variasi medan gravitasi bumi hampir bersamaan dengan impuls gravitasi yang kuat.

Implus gravitas pertama dan terakhir dipisahkan oleh jarak sekitar sepuluh ribu kilometer. Fenomena semacam ini hanya mungkin jika sumber perambatan ini adalah pada tingkat inti Bumi.

“Faktanya adalah bahwa percepatan drift magnet bumi di kutub utara yang meningkat lebih dari lima kali lipat selama tujuh belas hingga dua belas tahun lalu dan ini mengarah ke intensifikasi proses energi dalam inti Bumi, karena proses di dalam inti dan luar inti lah yang membentuk medan geomagnetik bumi,” sebut ahli Geologi asal Azerbaijan Elchin Khalilov, seperti dikutip dari Sott.net.

Berkaitan dengan aktivitas matahari yang meningkat sejak tahun 2011, intensifikasi proses energi dalam inti Bumi dapat memodulasi medan geomagnetik melalui serangkaian proses fisik di ionosfer.

Di tingkat batas atmosfer tersebut menghasilkan gelombang akustik-gravitasi yang beberapa telah didengar oleh orang-orang dalam bentuk frekuensi suara rendah yang menakutkan di berbagai bagian planet Bumi.

Sebelum fenomena suara terompet di langit ramai terjadi, jauh sebelum itu pernah ada fenomena suara yang dikenal suara gemuruh. Ini terjadi di sejumlah tempat, seperti di Taos, New Mexico; Bristol, Inggris; Largs, Skotlandia; sampai ke Bondi, Australia.

Laporan awal soal ini sebetulnya pertama kali muncul pada lima puluhan. Orang-orang melaporkan adanya suara dengungan berfrekuensi rendah, debaran, atau gemuruh. Bunyinya pun cukup lama terdengar.

Tapi secara umum Hum hanya bisa didengar di dalam ruangan, dan terdengar lebih keras pada malam hari ketimbang saat siang hari. Selain itu, ia hanya terjadi di daerah pedesaan atau yang agak terpencil. Mungkin karena frekuensinya rendah, Hum tak terdengar di kota yang berisik.

scot.net, wikipedia dan guardian

Komentar