close
Nuga Tekno

Asiknya, Menikmati Musik di Google Maps

Google telah mengintegrasikan layanan pemetaannya, Maps, dengan Spotify. Oleh sebab itu, para pengguna Google Maps di perangkat Android, kini bisa langsung mendengarkan koleksi lagu Spotify, tidak hanya dari Google Music saja.

Cara penggunaan fitur baru ini di Google Maps juga cukup mudah. Berikut sejumlah langkah sederhana untuk menikmati musik saat membuka Google Maps:

Untuk bisa menikmati koleksi lagu Spotify di Google Maps, pastikan smartphone kamu memiliki kedua aplikasi tersebut. Jika tidak ada pemberitahuan soal integrasi Spotify ini di Google Maps, maka Anda harus melakukannya secara manual.

Caranya, masuk ke manu Settings, lalu pilih Navigations Settings, kemudian aktifkan opsi Show Media Playback. Setelahnya, akan muncul dua pilihan aplikasi musik, yakni Google Play Music dan Spotify. Kamu bebas memilih sesuai dengan layanan musik yang sering digunakan.

Jika memilih Spotify, maka pada bagian Default Media App akan muncul nama layanan tersebut.

Setelah memilih Spotify untuk dihubungkan ke Google Maps, akan muncul pemberitahuan soal integrasi tersebut. Tekan “Oke” jika kamu setuju dengan persyaratan Google Maps, agar bisa menikmati lagu Spotify di layanan peta tersebut.

Cara menggunakannya cukup mudah. Pertama, kamu pilih lokasi yang ingin dituju di Google Maps. Lalu pilih “Directions” dan mulai perjalanan dengan menekan menu “Start”.

Setelahnya, kamu akan melihat logo Spotify di sisi kanan. Klik logo tersebut untuk mengaktifkan Spotify, kemudian pilih lagu yang ingin diputar dengan tap ikon “Browse” Spotify yang berada di bagian bawah laman pemetaan tersebut.

Voila! kamu bisa menikmati lagu favorit ketika menggunakan Google Maps, terutama dapat membuat suasana menjadi lebih baik ketika berada di tengah kemacetan. Nilai plus lain, kamu tidak perlu membuka dua aplikasi sekaligus untuk mendengarkan musik, karena cukup Maps saja.

Kendati demikian, kamu harus berhati-hati saat berkendara. Jangan sampai terlalu asyik mendengarkan musik saat berkendara, sehingga tidak memperhatikan keadaan sekitar, terutama para pengendara motor. Hal ini pun berlaku bagi pengendara mobil.

Integrasi layanan streaming musik ini tidak hanya bisa dinikmati para pengguna Android. Para pengguna perangkat iOS juga bisa menikmati fitur serupa, tapi integrasi layanan musiknya adalah Spotify dan Apple Music.

Sementara itu Google telah membuat keputusan  menerapkan biaya untuk perusahaan smartphone yang ingin menggunakan Android dan memasarkannya di Eropa.

Dikutip dari The Verge,, biaya yang ditarik bukan untuk sistem operasi Android, melainkan aplikasi besutan Google yang akan dibenamkan di perangkat.

“Mengingat aplikasi Google Search dan Chrome bersama aplikasi lain membantu kami mengembangkan dan distribusi Android gratis, kini kami memperkenalkan lisensi berbayar baru di perangkat Android untuk Eropa,” tutur SVP Android Hiroshi Lockheimer.

Dengan sistem baru ini, Lockheimer juga memastikan bahwa Android sebagai sistem operasi tetap gratis dan terbuka.

Perubahan hanya diterapkan pada produk bawaan Google yang biasanya ada di sistem operasi tersebut.

Jadi, perusahaan yang ingin menyertakan aplikasi atau layanan Google kini harus membayar biaya lisensi lebih dulu ke perusahaan.

Perusahaan mengungkap, akan menarik biaya lisensi untuk layanan seperti Play Store, Gmail, Google Maps, dan YouTube.

Untuk informasi, sebelumnya layanan Google itu merupakan aplikasi bawaan yang wajib disertakan jika perusahaan ingin memakai Android.

Namun, setelah Uni Eropa menjatuhkan denda karena dianggap monopoli, Google kini wajib mengubah model bisnis itu.

Sementara untuk aplikasi Chrome dan Search, dapat masuk dalam bundel lisensi perusahaan. Kendati demikian, kedua aplikasi ini tidak wajib disertakan dalam perangkat Android.

Oleh sebab itu, perusahaan yang tidak mau membayar biaya lisensi tetap dapat menggunakan Android sebagai sistem operasi tanpa aplikasi bawaan Google.

Cara ini mirip dengan pemasaran perangkat Android di Tiongkok–di mana layanan Google diblokir di sana.

Dampak dari aturan baru tersebut, bukan tidak mungkin akan menaikkan harga perangkat Android di Eropa.

Terlebih, Play Store merupakan aplikasi inti yang dibutuhkan untuk mengakses aplikasi Android, sehingga kecil kemungkinan vendor smartphone tidak dapat menyertakannya.

Sebelumnya, CEO Google Sundar Pichai juga langsung menanggapi tuntutan tersebut melalui sebuah tulisan di blog perusahaan.

Dalam tulisannya, Pichai menyebut pengguna Android sebenarnya bisa menghapus aplikasi bawaan di perangkatnya.

Selain itu, mereka juga dapat memilih aplikasi untuk diunduh yang dibuktikan dengan data bahwa pengguna biasa memasang lima puluh aplikasi secara mandiri.

Namun, jika diminta untuk tidak menyertakan aplikasi bawaan di Android, hal itu dapat mengganggu ekosistem.

“Jika manufaktur dan operator tidak menyertakan aplikasi, itu akan mengganggu ekosistem Android,” tuturnya seperti dikutip dari The Verge

Lebih lanjut dia menuturkan, sistem bundel semacam ini juga menjadi syarat agar Android tetap gratis. Alasannya, Google tidak perlu membebankan biaya pada perusahaan yang ingin menggunakan teknologinya.

“Namun, kami khawatir keputusan ini akan mengganggu keseimbangan yang telah kami lakukan dengan Android, dan dapat menjadi isyarat yang mengganggu dukungan terhadap kepemilikan platfrom terbuka,” tulisnya.

Melalui tulisan itu, Pichai juga menyebut bahwa putusan Komisi Eropa ini telah mengabaikan fakta bahwa Android tengah bersaing dengan iOS. Oleh sebab itu, Android hadir untuk menawarkan pilihan.

Sekadar informasi, Komisi Eropa menganggap sistem operasi Android merupakan cara ilegal perusahaan untuk mengukuhkan mesin pencari besutannya.

Karena itu, Komisi Eropa meminta anak perusahaan Alphabet itu mengubah praktik bisnisnya dalam waktu 90 hari. Jika tidak dipenuhi, perusahaan akan mendapat hukuman berupa denda mencapai 5 persen dari rata-rata omset harian global.

Seperti diketahui, sejak beberapa tahun lalu, Google mewajibkan OEM Android untuk menyertakan sejumlah aplikasi besutan perusahaan, mulai dari aplikasi Gmail hingga Google Search. Langkah itu yang kini ditentang oleh Komisi Eropa.

Vestager menilai ada tiga cara ilegal yang dilakukan Google dalam menjalankan bisnis Android. Pertama, manufaktur perangkat Android diharuskan memasang aplikasi Google Search bawaan dan peramban Chrome sebagai syarat mendapatkan akses ke Play Store.

“Google juga membayar sejumlah manufaktur dan operator yang setuju memasang aplikasi Google Search secara eksklusif di perangkatnya,” tuturnya.

Tak hanya itu, Google juga dianggap mencegah manufaktur menjual perangkat yang menjalankan versi Android alternatif. Caranya, perangkat mereka diancam tidak mendapatkan izin untuk menggunakan aplikasi Android.

Di sisi lain, Vestager sebenarnya mengetahui bahwa Android tidak melarang pengguna Android mengunduh peramban alternatif atau memakai mesin pencari lain. Namun, hanya ada satu persen pengguna yang memilih mesin pencari lain, dan sepuluh persen peramban alternatif.

“Begitu pengguna memilikinya (aplikasi Google Search dan Google Chrome) dan berjalan baik, akan sangat sedikit pengguna yang penasaran untuk mencari aplikasi atau peramban lain,” tuturnya menjelaskan.