close
Nuga Sport

Rossi Bisa Tersenyum di Podium Aragon

Valentino Rossi hanya bisa tersenyum ketika menyudahi balapan di Aragon Circuit, Minggu malam WIB, dua hari lalu, karena tak  ada cemoohan  dari pendukung Jorge Lorenzo kala ia berada di podium dalam posisi finis ketiga.

Semula muncul kekhawatiran ia akan mendapat cemooh karena masih  berselisih dengan pebalap tuan rumah tersebut sebelum balapan berlangsung.

Rossi dikalahkan Lorenzo dalam perebutan posisi kedua di MotoGP Aragon.

Sementara pebalap Repsol Honda, Marc Marquez, berhasil mengakhiri balapan sebagai pemenang.

Rossi menjadi pebalap pertama yang naik ke podium, dan meski sedang bersitegang dengan Lorenzo, pebalap asal Italia itu tidak mendapatkan cemoohan dari penonton tuan rumah.

“Tidak ada cemoohan untuk Rossi dari penonton di sini. Berbeda ketika di Misano atau Mugello, ketika Lorenzo dan Marquez mendapatkan cemoohan,” ujar komentator legendaris MotoGP, Nick Harris.

Pada podium GP Italia di Sirkuit Mugello, Lorenzo dan Marquez mendapatkan cemoohan dari puluhan ribu pendukung Rossi.

Begitu juga di Sirkuit Misano, ketika Lorenzo meraih podium ketiga.

Sebelum balapan GP Aragon, hubungan Rossi dan Lorenzo memanas setelah keduanya adu argumen dalam konferensi pers usai GP San Marino.

Ketika itu Lorenzo menuding Rossi melakukan manuver berbahaya ketika menyalipnya.

Menariknya di podium GP Aragon, hubungan Rossi dan Lorenzo sedikit mencair. Hal itu terlihat setelah Rossi menerima ajakan tos sampanye yang dilakukan Lorenzo.

Hasil di Aragon membuat perebutan posisi runner-up antara Rossi dengan Lorenzo semakin menarik

Sementara itu, kepala mekanik tim Valentino Rossi, Silvano Galbusera, yakin pebalap asal Italia itu masih memiliki kekuatan untuk tampil di ajang MotoGP setelah kontraknya bersama Movistar Yamaha berakhir pada dua musim mendatang

Berbicara kepada GPOne, Galbusera mengatakan tidak mudah untuk tampil kompetitif di MotoGP saat pebalap sudah tidak muda lagi.

Namun, Rossi mampu mematahkan anggapan tersebut.

“Dari pengalaman saya, saya pikir di usia tertentu seorang pebalap akan mulai menurun. Rossi adalah pengecualian. Saya akan kecewa jika Rossi memutuskan pensiun (usai 2018) di kondisi fisik seperti sekarang,” ujar Galbusera.

Kontrak Rossi dengan Yamaha akan berakhir pada akhir musim 2018 dan ketika itu The Doctor akan berusia tiga puluh sembilan tahun.

Galbusera pun menganggap aneh jika melihat Rossi tampil di MotoGP saat sudah empat puluh tahun.

“Kami menginginkan proyek jangka panjang, dan itu akan segera terjawab, karena semuanya akan tergantung hasil. Tapi, mungkin sedikit aneh melihat Rossia terus membalap saat empat puluh tahun,” ujar Galbusera.

Rossi sendiri usai balapan GP Aragon, setuju dengan pernyataan Galbusera.

Rossi juga mengatakan tidak bisa melihat dirinya tampil di MotoGP saat sudah 40 tahun.

“Saya setuju dengan Galbusera. Aneh untuk memikirkannya. Aneh untuk terus membalap saat sudah empat puluh tahun,” ucap Rossi.

Rossi sendiri tak menyembunyikan  kekesalannya terhadap Marc Marquez dan Jorge Lorenzo dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP musim lalu.

Hal itu diungkapkan Rossi dalam wawancara dengan Suzi Perry bersama BT Sport di Aragon. Rossi mengaku tidak akan pernah lupa dengan kontroversi musim lalu.

“Jelas gelar juara dunia dicuri dari saya. Mereka melakukannya dengan cara yang tidak pernah saya kira. Apa yang terjadi dalam tiga balapan terakhir sungguh luar biasa,” ujar Rossi seperti dilansir Eurosport.

“Marquez telah berperilaku secara memalukan dan saya percaya olahraga ini sudah kehilangan nilai sportivitas setelah Lorenzo menjadi juara dunia.”

Rossi kehilangan gelar juara dunia setelah digeser Lorenzo dari puncak klasemen MotoGP 2015 di seri terakhir yang berlangsung di Valencia.

Ketika itu The Doctor harus start dari posisi terakhir karena mendapat hukuman melakukan manuver berbahaya terhadap Marquez di GP Malaysia.

Jelang balapan di GP Malaysia, Rossi menuduh Marquez telah membantu Lorenzo dalam perebutan gelar juara dunia. Hubungan Rossi dengan Marquez kini jauh lebih membaik, tapi hubungan dengan Lorenzo tetap panas.

“Terlepas dari apa yang terjadi musim lalu, Lorenzo memiliki musim yang hebat, berjuang seri demi seri. Bagi saya, saya bereaksi dengan marah dan gugup, dan hal itu semua bisa membuat Anda melakukan kesalahan,” ucap Rossi.

“Anda harus pintar mengubahnya menjadi energi positif, dan jelas jika Anda mampu meraih 320 poin seperti saya, sembilan dari sepuluh kesempatan, Anda pasti menjadi juara dunia,” sambungnya.

 

Tags : slide