close
Nuga Sport

Insiden Jerez Memanaskan Hubungan Lorenzo-Marquez

Kontroversi senggolan antara pembalab Yamaha Jorge Lorenzo dengan “rookie” Repsol Honda Marc Marquez di seri ketiga Motto GP, di Sirkuit Jerez, Spanyol, akhir pekan lalu, masih menyisakan polemik. Insiden itu menyebabkan Lorenzo yang berada di podium tiga enggan menyambut uluran salam Marquez ketika pembagian trofi.

Untuk mengakhiri polemik yang terus berkepanjangan itu “The Doctor” Valentino Rossi mengingatkan insiden senggolan antara Marc Marquez dengan Jorge Lorenzo biasa terjadi dalam sebuah balapan.

Dikatakan Rossi dengan enteng, insiden itu persis sama ketika ia masih di tim Yamaha di musim balapan 2005 saat menyenggol mantan pembalap Sete Gibernau pada tikungan terakhir. Kala itu Rossi mencoba masuk dari dalam, menyenggol Gibernau sehingga memaksa pembalap asal Spanyol itu terlempar ke luar lintasan. Rossi merayakan kemenangan dalam balapan itu.

Perdebatan insiden gerakan Marquez melewati Lorenzo di Sirkuit Jerez, menurut Rossi, belum sedramatis yang lakukan. Hasilnya memang  menguntungkan Marquez yang membuatnya memimpin klasemen sementara pembalap, unggul tiga poin dari Lorenzo.

Ini bukan pertama kali Marquez terlibat insiden serupa. Pada saat masih berlaga di Moto2, pembalap Repsol Honda itu juga sempat menyenggol Thomas Luth dalam balapan pembuka di Qatar musim 2012.

Rossi mencoba mengomentari aksi Marquez terhadap rekan setimnya itu. “Itu memang sebuah serangan yang berat dan sebuah aksi menyalip yang berat dari Marquez,” demikian pendapat pembalap asal Italia itu, diberitakan Autosport.

“Marquez menyenggol Lorenzo, tapi itu terjadi di lap dan tikungan terakhir, sudah pasti pembalap di belakang mencoba sesuatu. Lorenzo terus membuka pintu dan Marquez menyodok dari dalam, jadi saya rasa ini insiden yang biasa terjadi di balapan,” sambungnya.

Usai insiden senggolan dengan Marc Marquez, pembalap Yamaha, Jorge Lorenzo akhirnya mau buka suara. Sebelumnya, ia bungkam. Menurutnya, apa yang terjadi pada lap terakhir tersebut tak terlalu menjadi masalah besar baginya, justru bisa menjadi pelajaran bagus untuk ke depannya.

Sebelumnya, Marquez yang “merebut” posisi dua dari tangan Lorenzo meminta maaf atas aksinya, namun sang juara bertahan enggan berkomentar apa-apa terkait peristiwa itu, dan mengaku puas bisa finis ketiga. Kini, ia pun berkata kalau yang terpenting adalah insiden tersebut tak membuat adanya kecelakaan yang membuat pembalap terjatuh.

“Saya kehilangan tempat kedua, seperti itu. Race Direction lomba memutuskan untuk tak melakukan apa-apa, itu saja. Kami tak kecelakaan, itulah yang penting, (meskipun) saya kehilangan empat poin dan puncak klasemen,” ujar Lorenzo, seperti dilansir MCN..

“Tapi, ini kembali menjadi pelajaran bagus setelah apa yang terjadi di Montmelo pada 2009. Peristiwa kali ini berbeda, karena di Montmelo saya tahu bahwa Valentino ada di sana tapi di Jerez, saya pikir dia (Marquez) berada jauh di belakang, tapi ternyata dia berada lebih dekat. Ini kesalahan saya dan ini pelajaran, agar tak terlalu pede saat berada di depan pembalap lain,” sambungnya.

Sementara itu, ketika ditanya apakah seharusnya Marquez mendapat hukuman atas aksi yang dilakukannya, Lorenzo mengatakan kalau itu bukanlah suatu hal yang penting untuk dipermasalahkan. Terpenting baginya, hal tersebut akan membuatnya semakin berkembang.

“Saya tak berpikir kalau itu adalah masalah besar, terlebih bukan saya yang mengambil keputusan. Mari kita lihat apa yang akan terjadi berikutnya, dan mungkin ini akan membantu saya berkembang sebagai rider, dan saya akan lebih agresif, seperti saat di kelas 250 cc,” pungkas pembalap berusia 26 tahun itu.

“Bisa dikatakan pada saat itu saya dalam kondisi ‘panas’. Hanya tiga menit sebelum Parc Ferme saya kehilangan posisi kedua dan kesempatan memimpin klasemen pembalap usai menjalani balapan yang sangat sulit, di mana saya berjuang keras untuk berada tak jauh dari mereka (Honda),” ungkap Lorenzo seperti dilansir MCN.

“Itu (penolakan jabat tangan) reaksi yang manusiawi dan wajar. Tapi, orang-orang langsung mengkritik saya karena tidak menerima permintaan maaf dari Marc, (padahal) mereka pasti akan melakukan hal yang sama jika berada dalam situasi seperti itu.”

“Saat saya ‘panas’ saya tidak menjabat tangannya itu sesuatu yang alami buat saya , tapi jika berpikir dengan lebih dingin saya mungkin akan bersikap berbeda. Saya bisa memaafkan dia,” papar Lorenzo.

Tags : slide