Vertigo Itu Bukan Penyakit, Tapi Gejala

Penulis: Darmansyah

Selasa, 31 Mei 2016 | 11:44 WIB

Dibaca: 0 kali

Merasa pusing?

Lantas dunia bergerak secara tiba-tiba?

Ingat, itu  merupakan gejala vertigo.

Dan menurut data yang dilansir dari Guardian, satu dari sepuluh orang akan merasakan pengalaman vertigo, beberapa kali dalam setahun.

Pada sebagian besar kasus, gejala tidak menyenangkan ini, tidak berbahaya dan akan berangsur baik meski tanpa pengobatan.

Vertigo sering diartikan oleh para ahli kesehatan untuk menggambarkan perasaan bahwa Anda, atau dunia sekitar Anda, seolah-olah limbung, padahal kenyataannya tidak.

Lalu apa sebenarnya vertigo itu?

Spesialis fisioterapis, Nicola Harris mengatakan bahwa vertigo adalah “pusing yang disertai berbagai hal seperti sakit kepala seperti Anda akan pingsan, yang lebih mungkin menjadi masalah pola kardiovaskular atau pernapasan.”

Sementara Neuro-otologist dari Rumah Sakit Charing Cross London, Dr. Diego Kaski, mengatakan vertigo menciptakan ilusi gerakan.

Biasanya, otak menerima pesan bahwa tubuh sedang bergerak dengan mengintegrasikan sinyal dari mata, telinga bagian dalam, dan reseptor merasakan gerakan tubuh di leher serta anggota badan.

“Pada penderita vertigo, dunia terasa bergerak, padahal si penderita diam,” kata Kaski.

Gejala vertigo ini sering dikaitkan dengan infeksi telinga bagian dalam yang disebut vestibular neuritis, biasanya terjadi akibat flu dan gejala vertigo ini bisa bertahan selama beberapa waktu.

Padahal, menurut definisi medis, vertigo secara umum disebabkan oleh benign paroxysmal positional vertigo, dan vestibular migraine.

Vertigo  adalah masalah mekanik dari telinga bagian dalam.

Di dalam organ keseimbangan terdapat kristal ikut bergerak ketika kita melakukan gerakan, tetapi jika sinyal tertinggal dari yang dipancarkan mata dan anggota badan, akan menciptakan ilusi gerakan.

Dalam vertigo, sinyal dalam telinga menyebabkan rasa tersentak, karena tidak terkoordinasinya gerakan mata, atau dikenal sebagai nystagmus, yang bertentangan dengan sinyal gerakan otak lainnya.

Serangan berulang biasanya berlangsung kurang dari 30 detik, dan dipicu oleh gerakan kepala termasuk berguling di tempat tidur atau melihat ke atas.

Selain itu, adrenalin ekstra yang dapat menyebabkan gejala seperti jantung berdebar dan kecemasan, juga menjadi salah satu penyebabnya dimana kecemasan ini dapat menyebabkan ‘rasa goyang’ serupa.

Satu dari sepuluh orang dengan migrain, mendapati serangan vertigo yang datang dan pergi, dan tidak selalu bertepatan dengan gejala yang lebih khas dari sakit kepala.

Kondisi ini dapat berlangsung selama beberapa detik untuk beberapa hari. Dan orang-orang dengan masalah ini cenderung hipersensitif terhadap cahaya, suara dan aroma.

Cara penanganan vertigo menurut para medis bergantung pada penyebabnya, mereka menyarankan untuk penderita vertigo akibat neuritis vestibular dapat menghindari penyakit dengan beristirahat.

Sementara vertigo dapat disembuhkan dengan latihan gerakan kepala yang berfungsi mengatur ulang keseimbangan organ telinga.

Telinga tidak hanya berfungsi sebagai alat pendengar namun juga sebagai alat penyeimbang antara kanan dan kiri. Dalam telinga manusia terdapat 3 saluran semisirkularis yang berfungsi untuk merasakan gerak.

Di dalam telinga terdapat cairan endolymph dan sel-sel saraf sensorik rambut. Banyak orang mengenal cairan ini dengan nama rumah siput, karena bentuknya mengerucut seperti siput.

Cairan ini sangat sensitif terhadap gerakan kepala. Jadi jika kita mencoba miring maka, otak akan langsung bereaksi menyeimbangkan tubuh.

Ketika berputar endolymph akan mengikuti pergerakan kepala dan mengirim sinyal kepada otak ke mana kita berputar.

Ketika kita berhenti berputar tiba-tiba, endolymph ternyata masih terus mengirim sinyal berputar kepada otak. Tentu hal ini yang memicu rasa pusing karena otak mengira masih berputar tetapi badan telah berhenti. Sinyal yang salah inilah membuat tubuh terasa sulit seimbang kembali.

Begitu pula dengan astronaut yang hidup di antariksa.

Mereka sering mengalami masalah itu karena tidak menemukan gravitasi. Sehingga tubuhya selalu melayang dan berputar, dan otak tidak dapat membaca pergerakan tubuh yang pasti.

Sama hal ketika kita menaiki roller coaster yang naik dan turun tiba-tiba. Setelah selesai barulah muncul rasa pusing dan perasaan ingin muntah.

Meski waktu kecil hal konyol seperti berputar putar layaknya gasing seringkali kita lakukan, baiknya sekarang hindari kegiatan tersebut karena dapat memicu terjadinya gejala vertigo, yaitu rasa pusing seolah-olah dunia terbalik.

Komentar