Tipe-Tipe Pria yang Paling Berisiko Impoten

Penulis: Darmansyah

Jumat, 7 September 2018 | 11:19 WIB

Dibaca: 2 kali

Impotensi adalah masalah seksual yang paling umum dialami pria usia matang.

Dilansir dari Healthline, diperkirakan kurang lebih lima puluh  persen pria berusia empat puluh hingga tujuh puluh tahun menunjukkan gejala impotensi setidaknya sekali semasa hidupnya.

Lalu, apa saja gejala impotensi yang harus diwaspadai? Siapa saja yang paling berisiko mengalami hal ini?

Gejala impotensi yang paling umum adalah ketidakmampuan untuk penis mencapai ereksi meski sudah mendapatkan cukup rangsangan, atau kesulitan untuk mempertahankan agar penis terus ereksi sehingga tidak bisa ejakulasi dan berorgasme.

Seorang pria dikatakan mengalami impotensi ketika semua gejala-gejala ini timbul secara teratur berkelanjutan, bukan hanya sekali saja.

Hal ini kemudian ikut memengaruhi aspek psikologis dan emosional pria, dan menimbulkan gejala seperti rasa malu atau minder, tidak berharga atau tidak pantas, putus asa, depresi, hingga bahkan kehilangan gairah seks.

Pada umumnya, impotensi disebabkan oleh sesuatu yang bersifat fisik dari masalah kesehatan

Selain itu, risiko impotensi dapat meningkat seiring bertambahnya usia.

Gejala impotensi lebih sering terjadi pada pria usia lanjut enam puluhan tahun ke atas dibandingkan dengan pria yang berusia lebih muda.

Dilansir dari Medicine net, pria berpendidikan rendah dilaporkan berpeluang lebih tinggi untuk mengidap impotensi karena mereka tidak menganut kebiasaan hidup sehat.

Rata-rata karena minimnya pengetahuan soal pola hidup sehat dan/atau terbatasnya akses mereka terhadap makanan sehat dan tempat olahraga

Lantas apakah rajin minum apel cuka akan mencegah impotensi?

Kandungan cuka apel dipercaya mampu mengatasi beberapa faktor penyebab dari impotensi itu sendiri.

Beberapa manfaat cuka apel bagi kesehatan yang terkait dengan penyebab disfungsi ereksi

Diabetes adalag salah satu faktor risiko dari impotensi. Kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol akibat diabetes dapat merusak kesehatan jantung serta pembuluh darah kecil dan saraf.

Kerusakan saraf yang mengontrol rangsangan dan respon seksual dapat menghambat kemampuan seorang pria untuk merasa bergairah.

Selain itu, aliran darah segar dari jantung menuju penis jadi tidak cukup untuk menciptakan dan mempertahankan ereksi.

Sebuah studi menunjukkan bahwa cuka apel mampu menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2, dengan meningkatkan sensitivitas insulin tubuh.

Cuka apel bekerja memperlambat proses pelepasan gula dari makanan ke dalam darah.

Penelitian lain menyatakan bahwa cuka dapat meningkatkan meningkatkan sensitivitas insulin pada Sembilan belas persen orang yang menderita diabetes mellitus tipe 2 dan tiga puluh empat persen pada mereka yang menderita pre-diabetes.

Pria yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas berisiko lebih tinggi untuk mengalami disfungsi ereksi. S

ebuah penelitian yang memelajari efek jangka panjang cuka apel pada kesehatan menemukan bahwa konsumsi cuka apel dapat membantu menurunkan berat badan meskipun hanya berkisar satu hingga dua kilogram.

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa cuka apel mampu menurunkan berat badan pada orang yang obesitas jika dikonsumsi secara teratur.

Mengonsumsi cuka apel secara teratur dapat menurunkan kadar lemak dalam darah (lipid). Menurunkan kadar lipid dapat membantu mencegah penyakit jantung, yang menjadi salah satu faktor penyebab disfungsi ereksi pada pria.

Sebuah studi  pada tikus betina menemukan manfaat cuka apel yang serupa yakni  mampu menurunkan lemak dalam darah.

Kemudian, studi tahun lalu menyatakan bahwa tikus jantan yang diberikan cuka apel memiliki kesehatan jantung dan pembuluh darah yang lebih baik.

Meskipun tikus mengkonsumsi makanan tinggi lemak, cuka apel mampu mengurangi risiko obesitas yang berkaitan dengan kesehatan jantung yang buruk.

Tikus yang mengonsumsi cuka apel juga cenderung tidak mengalami perubahan metabolik yang terkait dengan risiko obesitas dan penyakit jantung.

Perlu dipahami bahwa sejumlah studi yang tercantum di atas masih terbatas pada penelitian kecil, dengan sampel manusia terbatas atau hanya dilakukan pada hewan percobaan.

Masih perlu lebih banyak lagi studi untuk meneliti manfaat cuka apel untuk memperbaiki gejala-gejala penyakit penyebab disfungsi ereksi, maupun manfaatnya secara langsung pada impotensi itu sendiri.

Bagaimanapun juga, cuka apel bukanlah obat impotensi yang utama. Siapapun yang hendak menggunakan cuka apel sebagai pengobatan alami tetap harus bijak dan berhati-hati.

Jika perlu, konsultasikan dulu hal ini kepada dokter. Menurut beberapa ahli, cara mengobati impotensi yang baik dan benar tetap dengan cara menjaga pola makan dan berolahraga.

Cuka apel bersifat sangat asam yang tidak baik untuk kesehatan gigi dan tenggorokan Anda. Rasa asamnya juga dapat menyebabkan sakit perut jika perut Anda memang sensitif. Apalagi dikonsumsi terlalu sering dan kebanyakan.

Komentar