Tidur Lebih Lama Bisa Kurangi Asupan Gula

Penulis: Darmansyah

Jumat, 12 Januari 2018 | 09:00 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman “live science” hari ini, Jumat, 12 Januari, menulis tentang hasil  penelitian terbaru yang  menyebutkan bahwa waktu tidur dapat memotong hasrat mengonsumsi asupan gula tambahan.

Dan para ahli medis  tetap merekomendasikan tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam.

Menurut para peneliti, kekurangan tidur  dipastikan terkait dengan berbagai kondisi kesehatan, dari lelahnya badan pada keesokan hari, hingga penyakit yang lebih serius seperti obesitas, diabetes, jantung, stroke.

Sebaliknya, jika tidur Anda cukup, potensi penyakit tersebut pun menurun.

Bahkan, hasil penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition  menyebutkan bahwa waktu tidur dapat memotong hasrat mengonsumsi asupan gula tambahan.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan merekrut dua puluh satu individu untuk mengikuti program konsultasi tidur selama empat puluh lima menit.

Program itu dirancang untuk memperpanjang waktu tidur hingga satu setengah jam setiap malam.

Caranya dengan menghindari kafein, membuat rutinitas santai, tak tidur saat terlalu kenyang atau lapar, serta saran waktu tidur sesuai gaya hidup.

Sebagai kelompok kontrol, para ilmuwan juga merekrut 21 orang lain. Berbeda dengan kelompok pertama, mereka tak mendapat intervensi pola tidur.

Para ilmuwan lantas meminta semua peserta untuk mencatat pola tidur dan pola makan selama tujuh hari.

Mereka juga menggunakan sensor gerak di pergelangan tangan. Sensor tersebut akan mengukur jumlah tidur, serta waktu yang dihabiskan di atas kasur sebelum benar-benar tidur.

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan puluh enam persen peserta yang mendapat intervensi tidur punya waktu tidur lebih banyak. Lima puluh persen peserta memperpanjang durasi tidurnya hingga sembilan puluh menit dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Kemudian, tiga peserta dalam kelompok intervensi tidur mencapai rata-rata mingguan tujuh hingga sembilan jam yang direkomendasikan.

Meski demikian, para peneliti juga memberikan catatan bahwa dari data yang didapatkan, jumlah tidur yang lebih lama mungkin memiliki kualitas yang lebih rendah daripada peserta dalam kelompok kontrol. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adaptasi rutinitas baru.

Menariknya, peserta dengan tidur lebih banyak mengurangi asupan gula tambahan 10 gram pada hari berikutnya.

Perbandingan takaran gula merujuk pada jumlah gula saat awal penelitian. Selain itu, mereka juga mengonsumsi lebih sedikit karbohidrat dari pada kelompok kontrol.

“Memperpanjang tidur menyebabkan pengurangan asupan gula tambahan. Apa yang kami adalah gula ditambahkan ke makanan oleh produsen atau dalam memasak di rumah, serta gula dalam madu, sirup dan jus buah,” kata Wendy Hall, dosen senior di Departemen Diabetes dan Ilmu Gizi di King’s College London .

Dia melanjutkan, kami pum menyarankan perubahan sederhana dalam gaya hidup untuk benar-benar membantu orang mengonsumsi makanan yang lebih sehat.

Pemimpin penelitian, Haya Al Khatib, profesor dari Departemen Ilmu Gizi di King’s College London, berkata bahwa durasi dan kualitas tidur dapat menjadi area peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat.

“Hal ini semakin memperkuat hubungan antara tidur pendek dan diet berkualitas buruk yang telah diamati oleh penelitian sebelumnya,” kata Al Khatib.

“Kami berharap dapat menyelidiki temuan ini lebih lanjut dengan studi jangka panjang yang memeriksa asupan nutrisi dan meneruskan ketaatan terhadap perilaku memperpanjang tidur secara lebih detail, terutama pada populasi yang berisiko mengalami obesitas atau penyakit kardiovaskular,” lanjutnya.

Melalui penelitian ini, Al Khatib juga berpendapat bahwa kebiasaan tidur pada orang dewasa dapat diubah dengan relatif mudah bila menggunakan pendekatan personal.

Selain itu, sebuah penelitian lainnya mengungkapkan  kurang tidur  bisa meningkatkan depresi dan gangguan kecemasan.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa orang yang kurang tidur akan kurang mampu mengalighkan perhatian mereka terhadap rangsangan yang menyulitkan. Akibatnya, pikiran negatif muncul dan menyertai mereka sepanjang hari.

Hal tersebut lebih kuat daripada orang yang beristirahat dengan baik.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry tersebut menunjukkan bahwa kurang tidur benar-benar bisa membuat kita sedih.

Penelitian ini juga merujuk pada istirahat sebagai pilihan pengobatan utama untuk kondisi keshatan mental tertentu, seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Untuk penelitian ini, para peneliti melihat kebiasaan tidur dari lima puluh dua peserta yang memiliki pemikiran berulang moderat hingga tinggi.

Para peserta diminta melihat gambar dan foto yang dirancang untuk memicu respon emosional negatif, seperti senjata dan pisau, serta gambar netral dan positif.

Para peneliti kemudian mempelajari gerakan mata peserta, memberikan perhatian khusus pada seberapa cepat peserta mengalihkan pandangan saat ada gambar yang mengganggu.

Hasilnya, orang yang kurang tidur  atau tidur kurang dari delapan jam sehari lebih lambat berpaling dari gambar yang mengganggu.

Peneliti juga menyimpulkan bahwa masalah ini dapat semakin berat karena orang yang kurang tidur mungkin juga mengalami kesulitan dalam mengalihkan perhatian mereka dari pemikiran atau gagasan negatif.

Para peneliti berhipotesisbahwa pemikiran semacam itu bisa membuat orang-orang tersebut memiliki risiko lebih besar mendapat gangguan kecemasan atau depresi.

“Pemikiran negatif berulang ini relevan dengan beberapa gangguan yang berbeda seperti gelisah, depresi, dan lain-lain,” uangkap Meredith Coles, co-author penelitian ini.

“Dalam karya ini, kita mengeksplorasi tumpang tindih antara gangguan tidur dan cara mereka mempengaruhi proses dasar yang membantu mengabaikan pikiran negatif obsesif tersebut,” sambung Coles yang bekerja sebagai profesor psikologi di Binghamton University, Amerika Serikat.

Sayangnya, hubungan potensial antara depresi dan kurang tidur belum sepenuhnya diketahui.

Menurut National Sleep Foundation, penderita insomnia sepuluh kali lebih mungkin mengalami depresi dibanding orang yang tidur nyenyak. Tapi ilmuwan melihat hal ini sebagai sebuah hubungan yang rumit untuk menyimpulkan bahwa tidak tidur dapat membuat Anda merasa sedih.

Jika kurang tidur memang memberi kontribusi pada depresi dan gangguan cemas, maka mengatasi gangguan tidur merupakan kunci untuk meringankan kondisi mental ini juga.

Komentar