Tidur? Ternyata Ada “Sakelar” di Otak

Penulis: Darmansyah

Jumat, 5 Agustus 2016 | 15:54 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda, mungkin, salah seorang yang mnederita kesulitan tidur.

Insomnia.

Ya. Kalau Anda insomnia, tidur adalah “perjuangan”

Tidak mudah untuk lelap.

Tidak semudah mematikan sakelar lampu di samping ranjang Anda.

Nah, pernahkah Anda tahu bahwa tidur itu juga sebuah upaya mematikan sakkelar?

Sakelar di otak.

Para peneliti baru-baru ini menemukan adanya  ‘sakelar’ di otak yang membuat manusia tertidur.

Media sangat prestise “telegraph,” Jumat, 05 Agustus menurunkan tulisan yang dikutipnya dari  para ilmuwan Oxford University yang melakukan studi  proses otak yang secara tidak diatur dapat jatuh tertidur.

Pada dasarnya tidur diatur oleh dua sistem.

Pertama, sistem yang disebut jam sirkadian yang membuat tubuh ‘melek’ di siang hari.

Sedangkan sistem kedua disebut ‘homeostat tidur’ yang dapat memicu seseorang untuk terlelap, walaupun tidak berada di waktu malam atau kondisi gelap.

“Jam sirkadian membuat manusia mengantisipasi perubahan lingkungan sekitar yang disebabkan oleh rotasi Bumi,” kata pemimpin penelitian, Gero Miesenbock.

“Dengan demikian, jam sirkadian memastikan manusia tertidur ketika sudah lelah. Namun ini tidak menjawab mengapa manusia membutuhkan tidur,” lanjutnya.

Menurut Miesenbock, penjelasan yang paling mungkin dapat dipahami tentang alasan manusia membutuhkan tidur adalah dari sistem kedua, yaitu homeostat tidur.

Miesenbock menjelaskan, homeostat berpengaruh pada sesuatu yang masih belum dapat dipastikan oleh ilmuwan. Sesuatu itu disebut ada pada otak manusia ketika sadar. Namun, dalam kondisi tertentu yang melibatkan ‘sesuatu’ tersebut, manusia dapat tertidur.

“Sistem seperti ini menghilang saat tidur, dan siklus kembali dimulai saat manusia terbangun,” kata Miesenbock.

Kemudian tim meneliti homeostat di lalat buah yang dianggap memiliki sistem saraf kendali tidur mirip dengan manusia.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature tersebut menjelaskan, ketika saraf tidur aktif, lalat buah lalu tertidur. Namun ketika sistem saraf ini ‘tertidur’, lalat justru terbangun.

Para peneliti menemukan aktif tidaknya sistem saraf pengendali tidur ini disebut dengan ‘sakelar Sandman’. sakelar ini adalah gerbang fisik yang berfungsi menghantar atau menghalangi sinyal elektrik menuju sel.

Aktivitas ‘sakelar’ ini ternyata dipengaruhi oleh dopamin. Ketika tubuh berhenti memproduksi dopamin, ‘sakelar’ ini aktif dan manusia pun tertidur.

Para ilmuwan mulai berpikir untuk membuat ramuan kimia untuk ‘sakelar’ ini sebagai bentuk baru obat tidur yang super-efisien.

“Bila sel manusia punya ‘sakelar’ yang mirip dengan Sandman, ini berpeluang menjadi pil tidur yang aman dan efisien. Ini akan jadi cara yang sangat cepat untuk tidur bagi penderita insomnia,’ katanya.

“Tidur masih menjadi misteri bagaimana tubuh dapat tertidur tujuh hingga delapan jam dalam sehari. Tujuan jangka panjang kami adalah mencari tahu tujuan terjadinya tidur, mencobanya dan mengendalikannya.” lanjut Miesenbock.

Insomnia mungkin bisa diatasi dengan obat tidur.

Tapi metode itu bisa berdampak negatif pada kegiatan sehari-hari.

Bantuan untuk itu sebenarnya tak perlu dicari jauh-jauh.

Psikolog telah membuktikan bahwa menyetel musik sederhana yang membuat rileks saat waktu tidur bisa meringankan gangguan tidur. Musik itu mengurangi hormon stres atau noradrenaline dan level waspada.

Dengan demikian, orang tidur lebih nyaman.

Psikolog Laszlo Harmat mengumpulkan sembilan puluh empat4 siswa dengan masalah tidur untuk membuktikannya. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama diberi musik klasik untuk didengarkan pada waktu tidur.

Kelompok ke-dua diberi sebuah buku audio, dan kelompok ke-tiga tidak diberi apa-apa.

Setelah tiga minggu,  kelompok pendengar musik klasik terbukti bisa tidur lebih nyenyak.

Buku audio juga membantu, tetapi hanya kecil.

Para siswa juga dinilai tingkat depresinya sebelum dan sesudah tes. Gejala depresi dari kelompok yang mendengarkan musik, menurun drastis. Namun, itu tidak dirasakan oleh kelompok pendengar buku audio.

Bukan hanya kepada siswa, penelitian yang sama juga sudah membuktikan bahwa musik pun membantu usia lanjut mudah tidur.

Penelitian Hui-Ling Lai dan Marion Good meneliti sekelompok orang tua, yang menderita gangguan tidur. Sekali lagi, mendengar musik relaksasi saat jam tidur, bak :sihir,” bisa membantu.

Musik yang dipilih tentunya tidak bisa sembarangan. Musik relaksasi seperti musik klasik, jazz, atau blues bisa membantu. Tinggi suara juga perlu diperhatikan: terlalu rendah bisa mengganggu dan terlalu keras justru membuat tidak bisa tidur.

Usahakan pula musik itu tidak berakhir dengan mendadak. Musik yang berhenti tiba-tiba bisa membuat refleks alami tubuh menimbulkan rasa waspada. Itu justru membuat terbangun.

Dalam penelitian itu juga ditemukan orang antara usia delapan belas hingga enam puluh tahun butuh waktu tidur minimal tujuh jam di malam hari.

Itu berdasarkan dua asosiasi besar yang meneliti tentang kesehatan tidur. Tapi, survei nasional dari CDC menunjukkan, sepertiga orang dewasa, tidur kurang dari tujuh jam dan itu adalah masalah.

Riset menunjukkan bahwa kurang tidur bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes, penyakit jantung bahkan penyakit mental.

Guna memastikan Anda cukup tidur, usahakan punya waktu tidur yang terjadwal. Pergi tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, termasuk di akhir pekan.

Komentar