Ternyata, Menguap Itu Bisa Juga Menular

Penulis: Darmansyah

Senin, 16 April 2018 | 10:06 WIB

Dibaca: 0 kali

Siapa yang tidak pernah menguap

Ya menguap adalah sebuah proses alamiah dari tub uh.

Dan apakah menguap itu bisa menular?

Ya, juga ketika Anda mengalami kejadian yang sama  saat teman sedang menguap

Anda pun ikut menguap.

Dalam satu percobaan, orang-orang diminta untuk mencoba dan menahan menguap saat melihat video orang yang menguap.

Pada percobaan lain, para peserta diberi instruksi yang sama, tetapi peneliti juga menambahkan arus listrik ke kulit kepala para partisipasan tersebut.

Arus ini dimaksudkan untuk merangsang korteks motorik yang diperkirakan bisa mengendalikan menguap.

Selama eksperimen, peserta juga diminta untuk memperkirakan keinginan mereka untuk menguap.

Para peneliti menyebut hal itu sebagai menguap yang menular.

Peristiwa itu terjadi sekitar enam puluh hingga tujuh puluh persen

Sebuah penelitian bahkan menyebut bahwa menahan kuap justru hanya akan membuat rasa ingin menguap semakin kuat.

Time melaporkan, penelitian yang dipublikasikan di Current Biology ini memberikan penjelasan mengenai mengapa orang yang menguap akan menular pada orang-orang di sekitarnya.

Dalam penelitian sebelumnya ditemukan bahwa hal tersebut tidak ada hubungannya dengan mengekspresikan rasa empati atau keinginan untuk berbagi terhadap perilaku orang lain.

Sebuah laporan menunjukkan bahwa dorongan untuk menguap seperti orang yang sedang menguap di sekitar Anda sangat berhubungan dengan tingkat aktivitas otak pada manusia.

Akan ada dorongan untuk ikut menguap dan sulit untuk dihindari.

Penelitian itu melibatkan 36 orang dewasa. Pertama, secara magnetis peneliti menstimulasi otak mereka untuk mengukur seberapa aktif saraf di daerah tertentu di otak.

Mereka fokus pada korteks motorik, karena di sana melibatkan perencanaan dan gerakan tubuh.

Pengukuran tersebut membantu peneliti untuk mengukur beberapa “sensitif” korteks motorik setiap orang, yang mereka asumsikan akan memperdiksikan kecenderungannya untuk menguap yang menular.

Kemudian mereka menunjukkan sebuah video yang berisikan orang yang menguap kepada para relawan.

Setengah dari mereka diminta untuk menahan rasa untuk menguap, dan setengahnya lagi dibebaskan untuk menguap.

Para peneliti merekam reaksi para relawan dan menghitung jumlah dan jenis menguap yang mereka lakukan.

Peneliti menemukan, relawan yang diminta untuk menahan rasa menguap, pada akhirnya mereka menguap dengan mulut terbuka lebar.

Namun, peneliti melihat banyak yang berusaha menahan  menguap pada kelompok ini, dan para relawan dalam kelompok tersebut mengatakan dorongan yang kuat untuk menguap daripada kelompok lainnya.

Peneliti juga menemukan bahwa kemungkinan seseorang untuk “tertular” rasa menguap dari orang lain secara langsung berhubungan dengan betapa sensitif korteks motoriknya.

“Beberapa dari kita memiliki jaringan korteks motorik yang sangat sensitif dan sangat mungkin bagi kita untuk tertular rasa menguap, sementara yang lain tidak,” ujar Stephen Jackson, profesor dari University of Nottingham.

Dalam percobaan terpisah, peneliti meneliti gagasan tersebut dan menemukan bahwa stimulasi otak dengan listrik dapat meningkatkan rangsangan pada korteks motorik dan hal tersebut dapat meningkatkan kecenderungan orang untuk menguap yang menular.

Kemampuan untuk mengubah rangsangan –begitu juga dengan kekuatan dorongannya– mungkin penting untuk memahami kondisi neurologis lainnya, ujar peneliti.

Menguap yang menular itu sendiri adalah bentuk dari ekofenomena, peniruan secara automatis terhadap kata-kata atau tindakan seseorang

Hasilnya, peneliti menemukan jika kecenderungan seseorang untuk meniru menguap ini berkaitan dengan tingkat aktivitas otak di korteks motor seseorang.

Semakin banyak aktivitas di daerah tersebut, maka kecenderungan seseorang untuk menguap semakin meningkat.

Hal ini terbukti ketika arus listrik dialirkan ke daerah tersebut. Dorongan untuk menguap turut meningkat.

Selanjutnya, para peneliti juga menemukan bahwa hanya sebagian yang sukses menolak keinginan untuk menguap. Saat partisipan diminta untuk menolak menguap, dorongan untuk menguap justru naik.

“Dengan kata lain dorongan untuk menguap meningkat seiring dengan keinginan diri sendiri untuk mencoba menghentikan aktivitas menguap itu,” kata Georgina Jackson, profesor neuropsikologi kognitif di Universitas of Nottingham Inggris yang terlibat dalam penelitian ini seperti dikutip Live Science

Komentar