Raibnya Lemak Kala Berat Badan Turun

Penulis: Darmansyah

Selasa, 22 Agustus 2017 | 08:00 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda pernah tahu kemana raibnya lemak di tubuh  kala berat badan  turun?

Menjadi energi

“Mungkin iya, tapi tidak seluruh jawaban itu benar,” tulis laman situs “IFL Science,” hari ini, Selasa 22 Agustus.

Iya juga ketika tidak sedikit orang yang setuju  lemak itu  dibakar menjadi energi

Lora A Sporny, seorang dosen edukasi nutrisi di Columbia University pernah mengulas pertanyaan ini dalam sebuah artikel yang ditulisnya untuk Scientific American.

Menurut dia, untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anda harus mengetahui apa yang disebut lemak terlebih dahulu.

Pada dasarnya, lemak adalah senyawa kimia yang disebut dengan trigliserida.

Terdiri dari sebuah molekul gliserol dan tiga rantai asam lemak, bentuk makromolekul dari trigliserida menyerupai huruf “E”.

Di dalam tubuh, mayoritas dari trigliserida disimpan dalam bentuk butiran minyak di dalam sel lemak yang membentuk jaringan lemak.

Mereka adalah bahan bakar yang digunakan untuk mendukung aktivitas tubuh, dan pada orang-orang yang kelebihan berat badan atau obesitas, sel-sel lemak menjadi sangat besar dan penuh dengan trigliserida.

Nah, ketika berat badan Anda menurun, enzim lipase di dalam sel lemak merespons pesan-pesan hormon dan memecah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak dalam sebuah proses yang disebut liposis.

Komponen-komponen ini kemudian masuk ke aliran darah dan digunakan oleh jaringan tubuh.

“Ginjal lebih memilih untuk menyerap gliserol, sementara asam lemak biasanya diambil oleh otot,” tulis Sporny.

Di dalam ginjal dan otot, komponen-komponen tersebut semakin dipecah menjadi senyawa acetyl-COA yang kemudian bergabung dengan oxoloacetate untuk membentuk asam sitrat.

Proses sintesis ini juga memulai siklus asam sitrat yang juga disebut siklus Kreb, di mana lemak, protein, dan karbohidrat diubah menjadi panas, karbon dioksida, air, dan adenosine triphosphate  yang membawa energi untuk memberi makan aktivitas sel.

Secara umum dan merujuk pada hasil penelitian yang dipublikasikan dalamBritish Medical Journal pada tiga tahun lalu, proses ini bisa diringkas menjadi rumus kimia: yang dinamakan trigliserida.

Berdasarkan rumus di atas, sebuah molekul trigliserida bisa diubah menjadi banyak karbon dioksida, air.

Bahkan, Andrew Brown dari University of New South Wales dan kolega yang mengalkulasikan rumus tersebut, menulis bahwa ketika seseorang menurunkan lemak sebanyak sepuluh kilogram; delapan koma empat kilogram dikeluarkan sebagai karbon dioksida dan satu koma enam kilogram dikeluarkan sebagai urin, feses, keringat, air mata, dan cairan tubuh lainnya.

“Ada banyak kesalahan dan kebingungan mengenai proses penurunan berat badan. Jawaban yang benar adalah mayoritas dari lemak dikeluarkan sebagai karbon dioksida ke udara,” kata Brown dalam siaran pers seperti yang dikutip dari IFL Science.

Selain itu ada pertanyaan lain yang juga berhubungan dengan program  penurunan berat badan dikaitkan dengan asupan gula

Apakah Anda  menggunakan gula rendah kalori sebagai pengganti gula?

Jika ya, tampaknya Anda harus mempertimbangkan lagi penggunaan pemanis artifisial itu.

Pasalnya, studi yang dipublikasikan di Canadian Medical Association Journal  mengungkap, gula rendah kalori tidak menguruskan badan dan bahkan berpotensi meningkatkannya.

Meghan B Azad dari Universitas Manitoba di Kanada bersama timnya menganalisis hasil dari 37 studi yang melibatkan empat ratus ribu orang dalam periode sepuluh tahun.

Menerangkan hasil studinya, Meghan seperti dikutip NPR hari ini mengatakan, “Tidak jelas manfaat gula rendah kalori pada penurunan badan, malah ada potensi pemanis artifisial itu memicu kenaikan berat badan, diabetes, serta penyakit kardiovaskuler.”

Dalam studinya, Azad menganalisis studi yang menggunakan dua pendekatan, percobaan secara langsung serta observasi.

Kedua studi memiliki kelebihan dan kekurangan. Pendekatan percobaan memungkinkan peneliti mengetahui dampak senyawa pemanis artifisial tertentu secara pasti.

Namun, pendekatan itu hanya bisa dilakukan dalam waktu singkat dan obyek studi terbatas.

Pendekatan observasi bisa mengamati obyek studi dalam jangka waktu lebih lama, tetapi kesimpulan hasil studi biasanya kurang memuaskan sebab tak bisa mengaitkan secara langsung dampak senyawa pada kesehatan.

Lewat kajian ulang yang diharapkan bisa memberi gambaran menyeluruh tentang pengaruh gula rendah kalori itu, peneliti menemukan bahwa gula rendah kalori justru bisa meningkatkan indeks massa tubuh  dan meningkatkan peluang diabetes tipe 2 sebesar empat belas persen.

Tidak hanya itu. Kajian ulang juga mengungkap, konsumsi pemanis artifisial bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler hingga tiga puluh dua persen.

Sejumlah studi yang dijadikan bahan kajian ulang juga menemukan, pemanis buatan bisa membingungkan tubuh.

Pasalnya, biasanya tubuh menganggap makanan manis berkalori. Ketika menemui rasa manis yang tak berkalori, tubuh bingung dalam memetabolismenya.

Pemanis buatan juga membuat tubuh ingin terus-terusan memakan manis. Akhirnya, jumlah pemanis buatan dan mungkin juga gula yang dikonsumsi justru lebuh besar.

Azad mengatakan, masih butuh studi lanjut untuk menegaskan pengaruh pemanis buatan pada tubuh.

Namun, ia meminta siapa pun untuk mempertimbangkan lagi konsumsinya.

Ia menyarankan, lebih baik menghindari makanan manis baik yang memakai gula maupun gula rendah kalori.

Komentar