Sekali Lagi Plus Minus Pemanis Buatan

Penulis: Darmansyah

Senin, 23 April 2018 | 14:05 WIB

Dibaca: 0 kali

Siapa yang bisa menyangkal bahwa gula memiliki  reputasi buruk sebagai penyebab obesitas, penyakit diabetes, dan segudang masalah kesehatan lainnya.

Nah, untuk menyiasati ini, digunakanlah pemanis  buatan sebagai alternatif mengganti kandungan gula, sehingga makanan dan minuman masih dapat terasa manis tanpa efek negatif gula.

Namun ternyata, pemanis buatan bisa jadi lebih buruk dibandingkan gula.

Studi kesehatan terbaru yang dipresentasikan di konferensi Experimental Biology, San Diego, AS menemukan bahwa pemanis buatan juga memiliki kaitan dengan obesitas dan penyakit diabetes, seperti halnya gula biasa.

Selama tiga minggu, studi tersebut membandingkan efek biologis di tubuh tikus setelah diberi makanan sehari-hari yang tinggi glukosa dan makanan sehari-hari yang tinggi aspartam atau asesulfam potasium.

Mereka menemukan bahwa kedua jenis diet ini sama-sama memberi dampak negatif, walau dalam cara yang berbeda.

“Kami melihat bahwa mengganti gula dengan pemanis buatan non-kalori dapat menyebabkan perubahan-perubahan negatif dalam metabolisme energi dan lemak,” ungkap pimpinan studi Brian Hoffmann, seperti dikutip dari Sydney Morning Herald.

Studi lainnya yang dirilis bulan lalu oleh George Washington University menemukan bahwa penderita obesitas yang mengonsumsi pemanis kalori rendah mengalami kenaikan jumlah gen yang memproduksi lemak.

Semakin banyak penderita obesitas tersebut mengonsumsi pemanis kalori rendah, semakin parah dampaknya.

Pemanis buatan juga ternyata dapat menyebabkan intoleransi glukosa, sesuatu yang dialami penderita diabetes, berdasarkan studi lain yang dipublikasi di jurnal Nature pada 2014.

Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa tiga pemanis buatan paling umum yakni aspartam, sukralosa dan sakarin menyebabkan kenaikan tingkat gula darah dan mengganggu kondisi bakteri di dalam perut

Kondisi flora perut yang terganggu ini umumnya ditemukan pada penderita diabetes tipe 2.

Penemuan-penemuan ini mendukung pernyataan Hoffmann mengenai pemanis buatan yang sama buruknya dengan gula.

“Meski pemanis buatan non-kalori telah digunakan dalam keseharian kita, masih tetap ada peningkatan drastis dalam tingkat obesitas dan diabetes,” ujar Hoffmann, seperti dikutip Earth.

Oleh karenanya, jika takut dengan dampak negatif gula, tidak perlu repot-repot beralih ke makanan dan minuman yang menggunakan pemanis buatan. Lebih baik kurangi konsumsi makanan dan minuman manis secara keseluruhan.

“Fokus dalam menurunkan konsumsi pemanis, maupun pemanis buatan atau tidak, adalah strategi yagn lebih baik dalam menghindari kelebihan berat badan dan obesitas dibandingkan menggunakan pemanis buatan,” ucap profesor ilmu psikologis dan neurosains behavioral Susan Swithers

Selain itu, pemanis buatan rendah kalori juga banyak diyakini sebagai solusi diet untuk menghindari gula demi kesehatan dan berat badan terjaga.

Namun sebuah penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa konsumsi pemanis buatan rendah kalori merangsang tubuh untuk makan berlebih.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism dan dilakukan oleh tim peneliti gabungan dari University of Sydney dan the Garvan Institute of Medical Research.

Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan menggunakan lalat buah sebagai objek penelitian.

Tim peneliti menguji lalat buah dengan memberi makan mereka dua jenis perlakuan, diberi makan ragi dan sukrosa sebagai jenis gula alami, dan kelompok dengan pemanis sintetik sukralosa.

Hasil penelitian menunjukkan lalat buah yang diberi makan pemanis buatan bebas-gula seperti sukralosa, justru mengonsumsi kalori tiga puluh  persen lebih banyak, dibandingkan lalat buah yang mengonsumsi gula buah seperti sukrosa.

Dan ketika pemberian sukralosa dihentikan, lalat buah tersebut kembali mengonsumsi kalori dalam jumlah normal.

Menurut para peneliti, mengonsumi sukralosa justru mendorong tubuh untuk mencari dan makan gula asli.

“Setelah mengonsumsi terus-menerus pemanis buatan, lalat buah lebih dapat menyadari kandungan gula asli walaupun dalam jumlah yang sedikit, kemudian mereka akan terdorong makan lebih banyak dan secara fisiologi tubuh mereka akan merespon lebih optimal,” kata Greg Neely, pemimpin penelitian, seperti dilansir Scientific American.

Tim peneliti juga menemukan bahwa ada keterkaitan antara dampak konsumsi gula buatan dengan sistem saraf pada otak.

Ketika seseorang mengonsumsi gula buatan, maka kandungan kalori yang rendah membuat otak merespon dengan efek seperti berada dalam kondisi lapar.

Rasa manis yang dirasakan otak dari pemanis buatan tidak sebanding dengan kandungan kalori yang diterima dan dibutuhkan oleh tubuh. Ini menyebabkan otak mendorong tubuh untuk meningkatkan konsumsi makanan.

Hasil pengujian lainnya pada tikus selama tujuh hari juga menunjukkan hal serupa. Tikus yang diberi konsumsi rendah kalori justru cenderung makan lebih banyak sebesar lima puluh  persen dibandingkan tikus mengonsumsi gula asli.

“Temuan yang kami temukan dari respon kelaparan ini membuat makanan bernutrisi itu lebih baik ketika Anda benar-benar lapar,” katanya.

“Setidaknya melalui penelitian ini menunjukkan pemanis buatan tidak sepenuhnya berguna bagi hewan. Butuh penelitian lebih lanjut guna mengetahui dampak khusus bagi manusia.”

Komentar