Sakit Kepala Seperti Sinyal “Merah” di “Dashboard” Mobil

Penulis: Darmansyah

Jumat, 29 Maret 2013 | 23:35 WIB

Dibaca: 0 kali

Sakit kepala? Siapa yang tak pernah mengalaminya. Ini penyakit tubuh. Penyakit umum,dan menjadi keluhan yang pernah dialami semua orang. Meskipun sakit kepala perlu diredakan, namun sebaiknya jang  langsung meminum obat saat gejala ini menyerang.

Menelan obat pereda nyeri memang  cara yang mudah dan sering dilakukan seseorang apabila terserang sakit kepala. Obat penghilang nyeri itu memang tersedia di pasaran, dan sangat  mudah didapatkan. Bahkan ada iklan yang bombastis, bahwa bila anda sakit kepala, cukup dengan makan-makan obat itu, semua akan beres. Sakit kepala Anda akan reda dalam sekejap.

Barangkali ada pesan di situ, setiap sakit kepala makanlah obat itu, berapapun dan apapun penyebanya.  Maka, tidak heran pada beberapa pasien bermacam obat-obat terkait dengan sakit kepala ini selalu ada dalam kantongnya.

Bila 1 atau 2 tablet tidak mempan, penderita akan berusaha meningkatkan sendiri dosisnya, sesuai dengan keinginannya. Bahkan tidak jarang, akibat penggunaan yang berlebihan, menimbulkan komplikasi yang sangat berbahaya seperti gangguan hati, ginjal, lambung.

Sakit kepala sering kita anggap sebagai hal yang sepele, sering kita abaikan, seperti pada pasien di atas. Ternyata pasien itu menderita tekanan darah tinggi yang dapat mengancam nyawanya. Makan obat penghilang rasa nyeri sebetulnya tidak memecahkan masalahnya, bahkan dapat menutupi penyakit dasarnya.

Sakit kepala Anda barangkali hilang sementara, tetapi risiko Anda untuk mengalami stroke tetap saja ada, bahkan meningkat. Oleh karena itu,  sakit kepala sebenarnya adalah sinyal, pertanda bahwa ada sesuatu salah dalam tubuh anda.

Menurut  penulis buku Empowering Your Health, Dr Asa Andrew, sakit kepala adalah ibaratkan tanda merah yang menyala pada dashboard mobil anda. Bila anda biarkan, anda acuh tak acuh, mobil Anda akhirnya akan mengalami masalah, atau bahkan mungkin turun mesin.

Jika Anda tidak peduli dengan penyebabnya,  Anda hanya lari ke obat-obatan yang banyak diiklankan itu, dan bisasanya semakin lama dosisnya kemudian Anda naikkan sesuai selera Anda, maka risiko penyakit yang lebih berbahaya dapat mengancam Anda.
Walaupun sakit kepala dapat disebabkan oleh penyakit dasar yang berat, tetapi sebagian besar sebenarnya juga berkaitan dengan gaya hidup Anda, termasuk pola makan, aktifitas dan bahkan cara berfikir anda. Kepala anda bisa saja berdenyut ketika selesai menyantap  fastfood, makanan yang banyak mengandung penyedap (MSG), coklat atau ketika Anda terlambat makan— Anda mengalami hipoglikemi atau kadar gula darah yang rendah.
Di tengah terik matahari, di ruang ber-AC, anda kurang minum, anda juga dapat mengalami sakit yang sama. Di persimpangan jalan yang kacau, di perjalanan yang macet sakit kepala anda juga dapat terpicu olehnya.

Bahkan ketika Anda kurang tidur, banyak bermalas-malas di depan TV, Anda lebih banyak melamun daripada menggerakan tubuh Anda, kekakuan pada otot-otot Anda, aliran darah yang tidak begitu lancar, sehingga otak Anda seperti kekurangna oksigen, nutrisi, nyeri di kepala Anda juga bisa terasa.
Jadi, gaya hidup, aktifitas Anda, apa yang Anda makan, minum, stress baik fisik, maupun emosional dapat mencetuskan kepala Anda seperti mau pecah.
Oleh sebab  itu, bila sakit kepala menyerang, apalagi  Anda bukan dilahirkan dengan defisiensi aspirin, parasetamol, antalgin, asam mefenamat, ibuprofen atau obat yang banyak diiklan itu, menelannya begitu saja bukanlah cara yang terbaik. Sesekali dan tidak berlebihan mungkin masih bisa, tetapi yang paling penting carilah penyebabnya, pencetusnya.

Dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat saja, seperti  minum air putih yang cukup, mengurangi makanan yang mengandung MSG, coklat, minuman kaleng, fastfood, olahrara teratur, pijetan ditengkuk, kepala Anda, belajar rileks, mengontrol emosi, stres, InsyaAllah denyut di kepala Anda akan  mereda dan jarang kambuh.

Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi obat pereda rasa sakit dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan berbagai kontraindikasi berbahaya. Seperti penyakit jantung, kanker, dan beberapa penyakit saraf.

Sebenarnya sebagian besar sakit kepala akan reda dengan beristirahat . Selain itu ada beberapa cara untuk meredakan gejala sakit kepala tanpa obat, antara lain dengan pijat, akupuntur, peregangan, aerobik, meditasi, yoga, latihan relaksasi, terapi panas dan dingin, membatasi makanan-makanan tertentu, hingga dengan bantuan aliran listrik.

Komentar