Puasa, Detoksifikasi dan Panjang Umur

Penulis: Darmansyah

Rabu, 24 Juli 2013 | 12:22 WIB

Dibaca: 0 kali

Tak terbantahkan, puasa adalah detoks alami. Detoksifikasi berkala. Dan para ahli menyepakti puasa merupakan bagian dari upaya pembuangan residu atau sisa dari hasil metabolisme lewat pembakaran. Ini sesuai dengan makna puasa itu sendiri.

Lewat puasa proses detoksifikasi atau pengeluaran racun-racun dalam tubuh agar residu makanan yang menumpuk akan mengakibatkan penyakit akan terjadi selama satu bulan.

Tubuh, menurut para ahli, sudah memiliki mekanisme pengeluaran racun sendiri, misalnya dengan berkeringat, buang air kecil, atau buang air besar. Namun mekanisme alamiah ini kadang kala terganggu, misalnya karena kurang makan serat , sehingga racun pun menumpuk.

Karena itulah para ahli kesehatan menyarankan agar kita melakukan detoksifikasi secara berkala. Proses detoks dapat dilakukan dengan bermacam metode. Banyak ahli gizi yang menciptakan metode detoks dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Salah satunya adalah dengan hanya makan buah-buahan saja selama seminggu.

Namun detoks tidak harus dilakukan dengan metode yang mahal dan menyiksa. Berpuasa bisa menjadi metode detoks yang sekaligus meningkatkan keimanan.

Prinsip detoks yaitu membuang racun-racun yang diproduksi dari hasil metabolisme. Sementara puasa berarti tidak mengonsumsi makanan apapun selama periode waktu tertentu sehingga menyediakan waktu tubuh untuk membuang sendiri sisa-sisa metabolisme tersebut.

Puasa adalah sarana detoks yang telah ditentukan oleh Tuhan. Dan merupakan metode paling ideal. Pasalnya, orang yang menjalaninya tetap bisa makan di waktu sahur dan berbuka. Berbeda dengan metode yang cukup kompleks seperti cuci usus yang berlebihan.

Jika berpuasa dijalani secara benar, detoksifikasi bisa menghasilkan perubahan yang cukup drastis pada tubuh, antara lain kulit menjadi lebih kencang, tubuh lebih bugar, sehat, daya ingat meningkat, dan gejala pusing dan lemas berkurang.

Puasa dipercaya dapat mengistirahatkan organ pencernaan dan membersihkan racun-racun tubuh sehingga dapat menjadi metode detoks alami. Ternyata manfaat puasa mungkin bisa lebih dari itu.
Sebuah studi, bahkan telah merilis hasil penelitiannya yang mengungkapkan manfaat pembatasan kalori dan puasa dapat membuat memperpanjang umur.

Studi yang dilakukan oleh ilmuwan China lewat percobaan pada tikus yang dibatasi makannya sebanyak 30 persen dapat meningkatkan produksi bakteri “baik” dalam pencernaannya, termasuk Lactobacillus yang berhubungan dengan panjang umur.

Profesor mikrobiologi dari Shanghai Jiao Tong University, Liping Zhao, mengatakan, studi yang dipublikasi dalam jurnal Nature Communications ini dapat diaplikasikan juga pada manusia.

“Pembatasan kalori dapat memicu peningkatan pertumbuhan dari bakteri baik. Hal ini dapat membantu memperbaiki kesehatan secara umum sehingga bisa memperpanjang umur,” paparnya.

Kendati demikian, Zhao mengakui hasil studi ini tidak dapat secara langsung diaplikasikan semua kepada manusia. Namun, ada prinsip-prinsip dasar yang mampu diterapkan.

“Setiap manusia memiliki genetik, aktivitas fisik, usia, kegiatan yang berbeda, maka kebutuhan nutrisi setiap orang tidak sama,” ujarnya.

Studi lain dari Intermountain Medical Centre Heart Institute menyatakan, puasa dapat menurunkan risiko penyakit arteri koroner dan diabetes. Studi tersebut juga melaporkan, puasa menyebabkan perubahan signifikan dalam kadar kolesterol darah.

Mungkin karena dapat memperbaiki kesehatan secara umum, puasa dikatakan mampu memperpanjang umur.

Komentar