Pola Pikir “Pesimis” Itu Ada Manfaatnya

Penulis: Darmansyah

Senin, 26 Februari 2018 | 14:30 WIB

Dibaca: 5 kali

Memiliki pola pikir positif dianggap sebagai kunci untuk menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan.

Disebut juga dengan optimis, sikap mental ini sangat membantu mengatasi rintangan dan situasi sulit yang rasanya tak mungkin dilalui.

Ya, menjadi optimis memang baik. Walau begitu, sikap sebaliknya, yaitu pesimis juga tak perlu dihilangkan sama sekali.

Selama ini, sikap pesimis dikenal sebagai hal yang negatif. Pemilik sikap ini dianggap sudah kehilangan harapan dan menentukan target rendah.

Orang pesimis juga cenderung mengambil tindakan yang mementingkan diri sendiri.

Sebagai contoh, jika seorang pesimis mencoba mencari jalan pintas, mereka akan bereaksi seolah pengemudi lain akan merebut jalan tersebut.

Para ahli psikologi menemukan salah satu jenis sikap pesimis baru, yang disebut pesimisme defensif. Sikap ini menggunakan pemikiran negatif untuk mencapai tujuan.

Sikap pesimis defensif ini membuat kita fokus pada hasil akhir, atau apa yang kita harapkan di masa depan.

Jika sikap optimis mengharapkan hasil yang positif lebih sering dari yang negatif, maka sikap pesimis mengharapkan hasil yang negatif mungkin yang lebih sering terjadi.

Salah satu contoh adalah bersikap pesimis kita tidak akan diterima setelah wawancara kerja.

Kemudian kita visualisasikan rasa pesimis itu secara detail, termasuk skenario buruk yang mungkin terjadi.

Kondisi ini memicu rasa defensif sehingga kita menyiapkan tindakan agar skenario itu tidak terjadi.

Misalnya berlatih wawancara atau tiba tepat waktu. Setiap mood negatif yang muncul juga bisa menjadi pemacu kita untuk memiliki performa lebih baik.

Sikap pesimis juga terkadang lebih menguntungkan saat kita sedang menanti kabar, dibanding orang yang optimis.

Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, rasa kecewanya tidak sebesar jika kita sudah terlalu yakin.

Hal ini berlaku pada hal-hal yang berada di luar kendali kita. Perbedaan antara orang yang memiliki sikap pesimis defensif dengan berpikir negatif adalah cara mereka mengatasinya.

Jika kita biasanya menghindar dari hal yang sudah diantisipasi, maka pesimis defensif menggunakan harapan negatif mereka sebagai motivasi untuk mengambil kendali.

Semenatar itu mereka yang berpikir positif bukan berarti Anda mengabaikan situasi yang kurang menyenangkan, melainkan lebih ke menghadapi ketidaknyamanan dengan cara yang lebih positif dan produktif.

Anda harus berpikir bahwa keadaan terbaiklah yang akan terjadi, dan bukan yang terburuk. Berpikir positif sering dimulai dengan berbicara pada diri sendiri.

Jika pikiran yang berjalan di kepala Anda kebanyakan negatif, maka pandangan hidup Anda kemungkinan pesimis.

Sebaliknya, jika pikiran Anda sebagian besar positif, maka Anda mungkin merupakan orang yang optimis.

Beberapa studi menyatakan bahwa kepribadian pesimis dan optimis dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan dalam berbagai aspek.

Para peneliti di University of Pittsburgh School of Medicine menemukan bahwa wanita menopause yang memiliki sifat optimis mengalami penurunan jangka kematian dan memiliki hanya sedikit risiko terkena diabetes atau hipertensi , yang sering kali dialami oleh teman-teman pesimis mereka.

Para peneliti menganalisis data dari seratus ribu orang wanita dalam studi yang sedang berlangsung, dan hasilnya adalah wanita yang optimis memiliki risiko sebanyak tiga pulu persenlebih rendah untuk meninggal karena penyakit jantung, dibandingkan dengan yang pesimis.

Para wanita yang pesimis juga memiliki dua puluh tiga persen kemungkinan untuk meninggal akibat kanker.

Pemikiran pesimis adalah salah satu faktor yang menyebabkan depresi, menurut Psychology Today.

Dengan mengubah cara berpikir Anda menjadi positif, maka Anda akan dapat memerangi depresi. Terapi kognitif yang mengubah pola berpikir dapat meningkatkan perasaan seseorang, dan juga menjadi bagian utama dari pengobatan depresi.

Berpikir positif diyakini dapat membantu orang melawan masuk angin dan penyakit lainnya.

Namun, menurut sebuah studi ]di lima belas taun lalu pada New York Times menyatakan bahwa berpikir negatif hanya dapat melemahkan respon kekebalan tubuh terhadap flu. Ini karena adanya aktivitas listrik yang besar di bagian otak ketika Anda berpikir negatif, sehingga hal itu dapat melemahkan respon imun terhadap flu yang diukur dengan antibodi mereka.

Orang dengan pikiran positif akan pulih lebih cepat dari operasi, dan juga dapat mengatasi penyakit serius lebih baik, seperti kanker, penyakit jantung, dan AIDS, menurut Psych Central, sebuah jaringan sosial kesehatan mental yang dioperasikan oleh kesehatan mental profesional.

Sebuah studi dari mahasiswa hukum tahun pertama menemukan bahwa orang-orang yang lebih optimis daripada mahasiswa lain, memiliki sel-sel kekebalan tubuh yang lebih baik.

Ketika dihadapi oleh situasi yang menyebabkan stres, orang yang berpikir positif dapat mengatasi situasi tersebut lebih efektif dibandingkan dengan pemikir negatif.

Dalam sebuah penelitian, para peneliti menemukan bahwa ketika orang optimis menghadapi kekecewaan (contohnya seperti tidak diterima kerja atau gagal naik jabatan), mereka lebih cenderung untuk fokus pada hal-hal yang dapat mereka lakukan dalam mengatasi situasi tersebut.

Daripada tenggelam dalam perasaan frustrasi atau dengan hal-hal yang tidak dapat mereka ubah, orang yang optimis akan menyusun rencana lain dan meminta pendapat orang lain untuk bantuan dan saran.

Di sisi lain, orang yang pesimis hanya mengasumsikan bahwa situasi tersebut di luar kendali mereka dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengubahnya.

Ketahanan mengacu pada kemampuan kita untuk mengatasi masalah. Orang tangguh dapat menghadapi krisis atau trauma dengan kekuatan dan tekad.

Daripada hancur dalam menghadapi stres, mereka lebih memilih untuk melanjutkan dan mengatasi kesulitan tersebut. Ini membuktikan bahwa berpikir positif memainkan peran terhadap ketangguhan.

Ketika berhadapan dengan tantangan, orang yang berpikir positif biasanya melihat apa yang sebenarnya dapat mereka lakukan dalam menyelesaikan masalah.

Para peneliti juga menemukan bahwa di tengah krisis, seperti serangan teror, atau bencana alam, pikiran dan emosi positif mendorong perkembangan dan memberikan tameng terhadap depresi.

Dengan memelihara emosi positif, bahkan ketika menghadapi peristiwa mengerikan, orang bisa menuai manfaat baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk mengelola tingkat stres, mengurangi depresi, dan membangun kemampuan untuk pulih yang dapat sangat bermanfaat di masa depan.

Komentar