Pola Konsumsi Berdampak pada Kesehatan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 16 Maret 2017 | 10:15 WIB

Dibaca: 0 kali

Perubahan pola makan dan aktivitas di masyarakat ternyata mengubah pola penyakit yang sebelumnya menular menjadi tidak menular.

Salah satu contohnya obesitas.

Hal itu  mengacu pada penelitian selama enam tahun dimana  terjadi  lonjakan angka orang dengan obesitas di masyarakat urban atau perkotaan.

Pada wanita, lonjakan angkanya hampir dua puluh lima persen, sedangkan pada pria sekitar lima persen.

Pola makan tidak seimbang dan kurang aktivitas atau gerak tubuh jadi penyebab obesitas.

Data tersebut kemudian menjadi pijakan studi yang dilakukan Helda Khusun dari Southeast Asian Ministers of Education Organization – Regional Centre for Food and Nutrition  untuk memotret pola makan dan pola aktivitas masyarakat perkotaan di Indonesia serta kontribusi keduanya terhadap obesitas.

“Asupan kalori dan keluaran tidak seimbang berkontribusi pada obesitas, studi ini ingin melihat komponen diet yang paling berkontribusi,” kata Helda

Survei tersebut melibatkan sampel  di lima kota di Indonesia, yakni Jakarta Timur, Bandung, Surabaya, Makassar dan Medan.

Hasilnya cukup mengejutkan,

Menurut Helda, hal ini patut menjadi perhatian.

Lemak dan karbohidrat dalam jumlah sama, bisa menyumbang kalori dalam jumlah berbeda.

“Satu gram lemak bisa menyumbang sembilan  kalori, sedangkan satu gram karbohidrat lima kalori,” jelas Helda.

Helda berkata, bisa dibayangkan bila lemak berlebih lalu tertimbun di pembuluh darah, maka akan memicu penyakit, seperti penyakit jantung.

Ditambah lagi temuan dalam studi ini menunjukkan rendahnya aktivitas fisik.

Sumber kalori bisa didapat dari berbagai macam makanan.

Studi yang dilakukan Helda juga menemukan, nasi masih menjadi favorit masyarakat perkotaan

Selain itu ada mie, ikan dan minuman berperisa manis  Minuman berperisa manis seharusnya tidak jadi kontributor asupan kalori tubuh.

“Minuman itu untuk menghidrasi, tapi sekarang banyak minuman yang ditambah gula,” kata Helda.

Kopi dan teh, kata Helda, tidak jadi soal, tetapi tambahan gula pada kedua minuman ini.

Selain minuman berperisa manis, mereka juga mengonsumsi sejumlah makanan yang sebenarnya tidak direkomendasikan seperti gorengan, makanan manis dan keripik.

Asupan gula yang masuk ke tubuh seseorang

Padahal, menurut Total Diet Study, jumlah yang direkomendasikan hanya lima belas gram per hari.

Konsumsi berlebih pada makanan atau minuman yang tidak direkomendasikan ini dapat meningkatkan resiko obesitas.

Walau sebenarnya, penyebab obesitas ada banyak faktor seperti usia, jenis kelamin, makanan atau aktivitas fisik. Studi menemukan pada pria, obesitas lebih berasosiasi dengan konsumsi mie, keripik dan teh manis.

Sedangkan pada wanita, lebih pada konsumsi keripik, minuman berperisa manis dan ubi-ubian.

“Obesitas juga bisa dipicu faktor lingkungan. Misalnya, ketika suatu tempat tidak ada jalur pejalan kakinya, maka orang malas untuk berjalan.”

“ Lalu ketika di lingkungan kantor, pilihan makanan yang ada terbatas, dan sebagian besar di antaranya banyak yang tidak sehat,” tambah Helda.

Obesitas telah menjadi persoalan serius bagi warga Indonesia.

Salah satu pemicu terjadinya obesitas dalam masyarakat Indonesia saat ini adalah pola konsumsi makanan dan minuman manis.

Konsumsi makanan dan minuman manis menjadi sulit dihindari karena banyak tersedia di pasaran dan mudah diakses warga.

Pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini mirip dengan masyarakat Amerika dua puluh  tahun yang lalu. Pada saat itu, makanan cepat saji dan minuman bersoda sangat populer.

 

Untuk menghindari obesitas, hal yang mutlak harus dilakukan adalah mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis.
Selain itu, bagi pihak pemerintah, perlu segera dibuat peraturan yang membatasi kadar gula dalam makanan dan minuman yang diproduksi oleh industri.

 

Sebab, tanpa peraturan itu, pengusaha akan terus memproduksi makanan dan minuman dengan kadar gula tidak aman.
Dan hal itu akan “menggoda” masyarakat untuk terus mengkonsumsi makanan dan minuman manis.

 

Komentar