Plus Minus Dampak Buruk Kurang Tidur

Penulis: Darmansyah

Kamis, 28 September 2017 | 13:51 WIB

Dibaca: 0 kali

Kurang tidur?

Dampaknya so pasti  buruk bagi kesehatan.

Namun begitui, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan sebaliknya

Kurang tidur justru ampuh mengurangi depresi.

Dilansir dari laman Reader’s Digest, tidur yang kurang dari jam normalnya, dapat memperburuk mood serta memicu penyakit berbahaya seperti diabetes dan serangan jantung.

Namun, sebuah meta-analisa terbaru mengklaim bahwa kekurangan tidur ternyata dapat meningkatkan mood dan berperan besar sebagai obat antidepres

Dalam studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Psychiatry, para peneliti mengkategorikan dua jenis kekurangan tidur.

Pertama, mereka yang tidur hanya dalam empat jam dan terjaga selama dua puluh satu jam.

Kedua, mereka yang terjaga selama 36 jam lamanya. Hasilnya, dua kelompok tersebut terbukti efektif dalam menurunkan kadar depresi.

“Studi ini menunjukkan bahwa kekurangan tidur memberi dampak yang efektif pada banyak orang. Kami menemukan tubuh merespons, bagaimana kekurangan tidur mengantarkan efek antidepresi, atau menilai jenis depresi yang diidap pasien, kami menemukan caranya melalui waktu tidur yang berkurang,” ujar peneliti, Elaine Boland, PhD.

Meski demikian, para peneliti tidak menyarankan untuk mengubah jadwal tidur Anda.

Peneliti masih membutuhkan banyak penelitian lainnya untuk membuktikan keefektifan mengobati depresi dari cara ini.

Selain itu kurang tidur bisa juga berdampak pada rasa lapar yang berlebihan dan  menurunnya daya ingat.

Selain itu penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kurang tidur cenderung membuat Anda merasa lapar.

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh, Dr Eleanor Scott yang bekerja di University of Leeds membuktikan hal tersebut. Ia mengumpulkan sekelompok sukarelawan yang sehat.

Di bawah pengawasannya, para sukarelawan diberikan alat pengawas aktivitas dan asupan glukosa.

Dengan begitu, peneliti bisa melihat apa yang terjadi pada kadar gula darah mereka setiap waktu.

Kemudian para sukarelawan untuk tidur normal selama dua malam, dua malam tidur dengan waktu tiga jam lebih lama dari biasanya, kemudian diikuti dengan dua malam di mana mereka bisa tidur selama yang mereka inginkan.

Setelah percobaan, hampir semua partisipan melihat adanya peningkatan kadar gula darah mereka makan banyak biskuit atau menjalankan pola makan normal.

Para partisipan yang sebelumnya sehat ini bahkan memiliki kadar gula darah yang mendekati batas diabetes tipe 2.

Namun, masalah ini terselesaikan setelah mendapatkan tidur yang berkualitas.

“Ketika Anda kurang tidur, ini akan mengubah hormon nafsu makan Anda, sehingga membuat Anda kemungkinan besar merasa lapar dan tidak kenyang. Kami juga mengetahui kalau kurang tidur seringkali membuat orang menginginkan makanan manis,” kata Dr Scott seperti dikutip BBC.

Dr Scott menambahkan, jika Anda terbangun di saat seharusnya Anda tidur, Anda akan memproduksi lebih banyak hormon stres, kortisol, yang bisa memengaruhi kadar glukosa.

Tidur yang cukup tidak hanya penting bagi orang dewasa tapi juga anak-anak.

Pada penelitian lainnya, sejumlah peneliti mengambil sekelompok kecil anak-anak prasekolah berusia tiga hingga empat tahun.

Kesemua anak tidur siang rutin. Para peneliti tidak hanya mengurangi waktu tidur siang mereka tapi juga membuat mereka tidur terlambat dua jam dari waktu tidur normal mereka.

Keesokan harinya, anak-anak ini makan dua puluh  persen kalori lebih banyak dari biasanya, khususnya gula dan karbohidrat.

Anak-anak ini kemudian diperbolehkan tidur sebanyak yang mereka mau.

Hari berikutnya, mereka masih mengonsumsi empat belas persen labih banyak kalori dibandingkan normal. Semuanya menitikberatkan pada pentingnya mendapatkan tidur yang cukup

Saat tubuh sudah terlalu sering mengalami waktu tidur yang terus menerus berkurang, tidak menutup kemungkinan adanya bahaya penyakit kronis yang mengintai.

Kekurangan tidur dikaitkan dengan tingginya risiko diabetes tipe dua, penyakit kardiovaskular, obesitas, dan depresi.

Kurang tidur berhubungan dengan meningkatnya nafsu makan, di mana hal ini biasanya dipicu dengan rasa lapar yang terasa terus menerus. Dengan demikian, hormon rasa lapar ini juga menjadi andil dalam penyebab obesitas.

Penurunan kinerja kognitif secara signifikan, berkaitan dengan kurangnya jam tidur di malam hari. Biasanya, jam tidur yang kurang, berdampak pada memori jangka pendek dan panjang, sulit fokus, tidak mampu membuat keputusan cepat dan tepat, serta sulit mengerjakan tugas hitung-hitungan.

Imunitas akan menurun seiring berkurangnya waktu tidur. Kemampuan tubuh akan sulit melawan bakteri, saat waktu tidur berkurang. Sebab, tubuh akan kebingungan dalam mengatur sistem perlindungannya, akibat waktu tidur yang menurun.

Mendapatkan waktu tidur yang cukup, membuat Anda bisa tampil semakin atraktif. Sehingga, waktu tidur yang berkurang, membuat penampilan anda tampak kurang menarik dan selalu terlihat lelah.

Komentar