Peradangan Ketika Bangun Tidur

Penulis: Darmansyah

Rabu, 23 November 2016 | 14:13 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda termasuk salah seorang yang ketika bangun tidur merasakan sakit diseluruh bagian tubuh?

Kalau jawabannya iya, masalahnya, tidak hanya karena salah posisi atau salah menggunakan bantal, tapi  tubuh kita menekan peradangan saat tidur.

Dan peradangan itulah yang menyebabkan rasa sakit atau nyeri lebih buruk ketika kita

Para peneliti dari University Manchester memeriksa sel-sel manusia dan tikus dengan penyakit radang sendi.

Pasien dengan radang sendi telah lama mengetahui gejala yang terjadi sepanjang hari, terutama kekakuan pada sendi setelah bangun tidur.

Kemudian, pada tikus percobaan, peneliti menemukan ketika tikus terkena cahaya yang konstan, cakar mereka lebih bengkak dan ada tingkat yang lebih tinggi dari tanda peradangan dalam darah.

Sedangkan, dalam kegelapan, tanda-tanda peradangan itu menurun dan kemudian meningkat lagi di pagi hari.

Penulis studi Julie Gibbs menjelaskan, protein yang sangat spesifik dalam sel kita mengatur detak ritme sirkadian tubuh.

Ritme sirkadian adalah proses biologis yang berpatokan pada siklus dua puluh empat jam atau siklus pagi-malam yang mempengaruhi sistem fungsional tubuh manusia.

Tampaknya, salah satu protein yang terlibat di dalam jam kerja tubuh yang disebut cryptochrome.

“Ini diketahui juga dapat mempengaruhi peradangan” tulis  laman New York Post, Rabu, 23 November 2016.

Dengan penelitian yang lebih lanjut, dia percaya ahli bisa membantu memprediksi atau mengembangkan pengobatan untuk mengatasi protein ini sehingga dapat mengurangi peradangan dalam tubuh manusia.

Sementara itu, sangat penting untuk mengetahui ritme sirkadian yang dapat mempengaruhi nyeri.

Salah satu hal mudah untuk mengatasi nyeri adalah mengubah kebiasaan tidur Anda.

Cobalah untuk mengatur waktu tidur Anda lebih konsisten dan teratur, termasuk pada akhir pekan.

Anjuran para dokter memang setiap orang harus mendapatkan tidur berkualitas untuk menjaga kebugaran tubuh.

Tidur juga bisa membantu menurunkan risiko terkena diabetes, obesitas dan kematian dini.

Namun, dokter menganjurkan tidak tidur terlalu lama.

Seperti  ditulis laman situs Prevention,  individu yang tidur lebih dari sepuluh jam per hari biasanya memiliki masalah kesehatan yang lebih banyak dibanding mereka yang tidur tujuh hingga delapan jam sehari.

Apa saja masalah kesehatan yang mengintai Anda jika tidur di atas delapan jam sehari?

Pertama risiko tinggi terkena penyakit jantung. Penyakit jantung merupakan penyebab nomor satu kematian di Amerika Serikat.

Tidur lebih dari delapan jam setiap malam meningkatkan peluang Anda untuk mengalami kematian hingga tiga puluh empat persen.

Banyak studi menunjukkan orang yang tidak tidur cukup cenderung lebih gemuk. Namun, ada juga hubungan antara kelebihan waktu tidur dengan obesitas.

Teorinya, terlalu banyak tidur secara otomatis membuat tubuh kurang aktif bergerak sehingga kalori yang terbakar pun akan lebih sedikit.

Terlalu banyak tidur dapat meningkatkan kadar gula darah Anda. Glukosa darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2. Tentu saja, obesitas menjadi salah satu faktor menderita diabetes.

Tidur terlalu lama dapat membuat otak bekerja tidak maksimal sehingga Anda kesulitan untuk melakukan tugas sehari-hari. Tidur lama cenderung memiliki masalah fungsi dasar mental pada otak.

Studi epidemiologi skala besar menunjukkan bahwa orang yang tidur lebih dari delapan jam berisiko alami kematian dini. Peradangan adalah salah satu penyebabnya.

Selain itu ada lagi persoalan dengan tidur.

Apakah Anda pernah menyadari kalau sebelum tidur, ada hasrat untuk minum karena haus?

Kalau iya, inilah penjelasan ilmiahnya.

Dalam penelitian yang menggunakan tikus, ilmuwan dari McGill University di Quebec menemukan kalau kebiasaan minum sebelum tidur ini ternyata merupakan sinyal hidrasi untuk melindungi tubuh saat tidur.

“Saat tikus tidak minum air selama beberapa jam sebelum mereka tidur, mereka menderita dehidrasi parah pada saat bangun”

“ Hasil ini membuat para peneliti berpikir bahwa lonjakan asupan air yang terjadi sesaat sebelum tidur mungkin cara bagi tikus untuk melindungi diri terhadap dehidrasi saat mereka tertidur,” kata peneliti, seperti dikutip Livescience.

Melihat tikus minum lebih banyak air sebelum tidur, peneliti bertanya-tanya apakah sel dalam otak atau “sensor hidrasi” yang berkaitan dengan rasa haus, bisa berkomunikasi dengan bagian dari otak yang mengontrol jam tubuh tikus yang mendorong mereka untuk tidur dan bangun.

Para peneliti kemudian merangsang otak tikus dengan listrik, dan menemukan bahwa stimulasi ini tampaknya berkaitan dengan meningkatkan pelepasan hormon vasopressin, yang diproduksi dalam wilayah yang sama.

Hormon vasopresin memang mengaktifkan sel-sel otak yang berhubungan dengan rasa haus, menurut penelitian yang diterbitkan  di journal Nature.

Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat apakah mekanisme yang sama sedang bekerja pada manusia.

Komentar