“Penyakit” Menakutkan Kekurangan Tidur

Penulis: Darmansyah

Rabu, 26 September 2018 | 14:40 WIB

Dibaca: 2 kali

Kekurangan tidur memang menjadi “penyakit” menakutkan

“Ya, tidur bukan kemewahan, melainkan keharusan,” ungkap direktur departemen kedokteran tidur di Cleveland Clini, Michelle Drerup.

“Jam tidur yang hilang mengurangi kualitas kesehatan lebih besar dari yang disadari.”

Sebuah kajian terhadapdelapan belas penelitian tidur, misalnya, menemukan orang yang durasi tidurnya kurang darienam hingga delapan jam jam per malam risiko kematiannya meningkat hingga dua belaspersen.

Saat lelah, kamu akan tidur di mana saja. Jika sudah begitu, tubuh kamu mengingatkan untuk segera istirahat, tidak ditunda-tunda.

“Otak membutuhkan tidur untuk mengonsolidasikan ingatan dan melatih peristiwa penting, memroses emosi, dan melakukan sedikit ‘pembersihan’, melalui sistem gimfatik, setelah seharian sibuk bekerja,” kata psikiater Alex Dimitriu , MD, dari Menlo Park Psychiatry & Sleep Medicine.

Tanda paling jelas dari kurang tidur adalah kelelahan dan kantuk di siang hari yang berlebihan. Biasanya ditandai dengan tidur atau rasa kantuk di beberapa tempat, seperti transportasi umum, kelas atau kantor.

Kondisi tersebut seringkali kita lawan dengan minum kopi. Namun perlu dicatat, penggunaan kafein tidak diperkenankan melebihi dosis rekomendasi—empat cangkir per hari

Perubahan suasana hati “Suasana hati adalah hal pertama yang harus dihadapi saat kurang tidur,” kata Drerup.

Saat kita kurang tidur, kadar kortisol—hormon stres—akan naik. Sebaliknya, tidur malam yang nyenyak secara alami mengurangi kadar kortisol di tubuh.

Agar jadwal tidur kembali ke normal, coba bangun pada waktu yang sama setiap hari, tidur siang sekitar 30 menit dan berolahraga pagi.

Saat kurang tidur, sore hari akan terasa berat dan segala camilan terlihat menarik.

Nah, ada alasan hormonal di balik kondisi tersebut, di mana kurang tidur dapat menyebabkan berkurangnya kadar leptin, hormon yang membuat merasa kenyang, menurut Christopher Hollingsworth, MD, dokter bedah umum.

“Ketika kamu tidak cukup tidur, tingkat leptin menurun sehingga mudah lapar dan lebih mungkin untuk makan makanan berkalori tinggi.

Yang artinya akan ada kemungkinan berat badan naik,” kata Hollingsworth

Ketika seseorang kekurangan tidur, kondisi paling mungkin terjadi adalah halusinasi.

Misalnya saja membayangkan hal-hal yang tidak ada di sana, seperti benda mati berbicara atau bayangan yang mengambil kehidupan mereka sendiri.

Selain mengganggu fokus dan ingatan, halusinasi juga bisa mulai terjadi saat akan tidur atau bangun.

“Kondisi ini dikenal sebagai halusinasi hypnagogic dan hypnopompic, dan sering dapat mengambil bentuk halusinasi seperti orang hingga suara,” katanya.

Gangguan neurologis lainnya termasuk penglihatan kabur sampai masalah ingatan.

Penyakit jantung

Salah satu risiko kesehatan dari kurang tidur adalah hipertensi alias tekanan darah tinggi.

Menurut Hollingsworth, kurang tidur juga dapat berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit terkait jantung lainnya, seperti serangan jantung dan detak jantung yang tidak teratur

Testosteron rendah dan gairah seks menurun Robert Zembroski, penulis REBUILD, mengungkapkan, kurang tidur pun memengaruhi kadar testosteron.

Dalam satu penelitian kecil, peserta yang tidur lima jam per malam selama seminggu mengalami kekurangan tingkat testosteron, sehingga berefek mengurangi libido.

Selain itu, studi lain menunjukkan, kurang tidur menyebabkan jumlah sperma yang lebih rendah dan memengaruhi kemampuan gerak sperma

Saat kekurangan tidur, respon kamu pun lebih lambat.

“Kekurangan tidur dapat menyebabkan rasa disorientasi, di mana kita dapat kehilangan jejak waktu hingga soal tempat,” kata Zembroski

“Mungkin lebih serius, kurang tidur juga dapat mengurangi waktu respon.”

Komentar