Obesitas Faktor Kematian Kelima Dunia

Penulis: Darmansyah

Jumat, 5 Mei 2017 | 15:26 WIB

Dibaca: 4 kali

Obesitas atau kegemukan penyebab kematian nomor lima di dunia?

Ya, menurut WHO.

Dan untuk diketahui ada empat ratus juta penduduk dunia dewasa yang  mengalami obesitas.

Sementara ketidakaktifan fisik berada di urutan keempat penyebab kematian dunia.

Selama ini, banyak orang mengetahui akan bahaya kegemukan dan obesitas. Namun, hanya sedikit yang menyadari betapa berbahayanya ketidakaktifan fisik .

Perilaku tidak aktif antara lain duduk bersandar dan berbaring di luar waktu tidur, menonton televisi, bermain video game, dan bekerja di depan komputer.

Seluruh kegiatan tersebut dapat menyebabkan penyakit karena terlalu lama duduk yakni sitting disease.

Dari berbagai riset, terbukti tidak aktif atau duduk dalam jangka waktu lama akan mematikan aktivitas otot, memperlambat sirkulasi, dan mematikan aneka enzim pemecah trigliserida.

Obesitas berisiko menghasilkan penyakit-penyakit berbahaya seperti; diabetes, serangan jantung, maupun kanker.

Penyakit inilah yang membawa obesitas menduduki peringkat kelima sebagai penyumbang tingginya angka kematian di dunia.

Obesitas itu berawal dari pola makan yang taksehat. Rutin konsumsi buah dan sayuran dan makanan herbal adalah salah satu cara menghindari obesitas berdasarkan pola makan

Obesitas adalah penumpukan lemak yang sangat tinggi di dalam tubuh sehingga membuat berat badan berada di luar batas ideal.

Sejumlah komplikasi dapat timbul akibat obesitas, bahkan beberapa di antaranya membahayakan nyawa.

Beberapa contoh komplikasi yang cukup serius tersebut di antaranya stroke, penyakit jantung koroner, diabetes tipe 2, kanker usus, dan kanker payudara.

Selain mengarah kepada sejumlah masalah kesehatan fisik, obesitas juga bisa menyebabkan masalah psikologis, seperti stres, dan depresi.

Masalah psikologis ini timbul karena biasanya berawal dari rasa tidak percaya diri penderita obesitas yang mengalami perubahan bentuk badan.

Obesitas dapat terjadi ketika kita sering mengonsumsi makanan berkalori tinggi.

Sebenarnya mengonsumsi makanan berkalori tinggi tidak selalu menjadi masalah asalkan sesuai dengan aktivitas yang dilakukan tiap harinya.

Namun, jika kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk dan tidak diimbangi oleh aktif berolahraga, maka sisa energi dari hasil pembakaran kalori tersebut akan disimpan di tubuh dalam bentuk lemak.

Lambat laun, penumpukan lemak tersebut akan bertambah dan membuat tubuh terlihat membesar alias gemuk.

Obesitas dapat ditangani sendiri dengan disiplin menerapkan pola makan sehat, seperti mengonsumsi makanan rendah lemak dan gula, serta berolahraga secara teratur.

Olahraga yang dimaksud tidak perlu berat karena aktivitas berjalan pagi, bersepeda, bermain bulu tangkis, atau berenang sudah cukup, asalkan dilakukan secara rutin.

Dianjurkan untuk melakukan olahraga dua hingga lima jam tiap minggu.

Penanganan dari dokter dapat diberikan jika obesitas tidak berhasil diatasi meskipun sudah disiplin dalam berolahraga dan menerapkan pola makan sehat.

Contoh penanganan dari dokter adalah pemberian obat yang dapat menurunkan penyerapan lemak di dalam saluran pencernaan.

Pada beberapa kasus, obesitas akan ditangani dengan operasi.

Operasi biasanya hanya dilakukan jika tingkatan obesitas dinilai sangat parah sehingga dikhawatirkan dapat mengancam nyawa penderita.

Tindakan operasi juga dipertimbangkan jika usaha-usaha menurunkan berat badan yang sudah dilakukan selama beberapa waktu tetap tidak membuahkan hasil.

Perlu diingat bahwa penurunan berat badan yang dilakukan dengan usaha sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Karena itu dibutuhkan kesabaran demi mencapai hasil yang diinginkan dan komitmen untuk mempertahankannya dalam jangka panjang.

Komentar