Nyeri Dada Tak Mutlak Sakit Jantung

Penulis: Darmansyah

Selasa, 26 November 2013 | 11:14 WIB

Dibaca: 1 kali

Situs “menshealth.com” dalam tulisan terbarunya mengenai kesehatan jantung kembali mengingatkan bahwa serangan jantung, yang umumnya digambarkan dengan nyeri di dada, sesak napas, hingga terkapar tak berdaya di lantai, tidaklah merupakan ciri mutlak semua serangan jantung..

Menurut sebuah studi yang dilakukan pada seribuan pasien serangan jantung, hanya tiga puluh lima persen saja yang mengalami ciri umum yang selama ini digambarkan. Sisanya, pasien justru mengalami gejala yang cenderung lambat namun pasti.

Studi para ahli dari Trinity College di Irlandia tersebut mengungkap gejala lambat yang lebih sering terjadi itu meliputi rasa tidak nyaman pada dada dan lengan kiri, napas pendek-pendek, dan kelelahan luar biasa. Masalahnya, semakin ringan gejala yang dialami, maka semakin orang menunda untuk mendapatkan penanagan.

Para peneliti mengatakan, penundaan penanganan umumnya dilakukan karena pasien tidak sadar mengalami serangan jantung. Menurut data yang peneliti dapatkan, pasien yang mengalami gejala lambat rata-rata mendapatkan penanganan setelah 3,5 jam. Sementara itu, bagi mereka yang mengalami gejala dramatis, rata-rata mendapat penanganan setelah dua jam.

Kardiolog Dr Prediman K. Shah menjelaskan, serangan jantung terjadi karena adanya penyumbatan di arteri yang menyebabkan otot jantung mati karena tidak mendapatkan asupan darah. Biasanya kematian otot terjadi setelah tiga hingga enam jam. Kematian dapat dicegah jika sebelumnya arteri dibuka dengan angioplasti atau dengan obat-obatan pengencer darah.

“Kematian otot memang terjadi setelah tiga hingga enam jam setelah serangan, namun penundaan selama 90 menit saja sudah dapat berbahaya,” ujarnya.

Begitu mengalami serangan, kata dia, sebaiknya seseorang perlu segera menekan 119 untuk segera mendapat bantuan medis. Namun untuk pertolongan pertama, mengunyah aspirin 321 mg bisa jadi pilihan untuk membantu menghilangan sumbatan.

“Mengunyah aspirin memberikan efek yang lebih cepat lebih efektif daripada menelannya,” jelas Shah.

Selain ciri-ciri yang sudah disebutkan, ada pula ciri lain dari serangan jantung yang perlu Anda waspadai:

– Berkeringat dingin. Tubuh mengenali serangan jantung sebagai stresor akut yang merangsang respon tubuh untuk mengeluarkan keringat dingin. Meski berkeringat dingin bisa disebabkan oleh penyakit lain, namun jika Anda merasakannya tanpa sebab spesifik, Anda pun harus mewaspadainya.

– Mual. Karena serangan jantung memicu adanya kelumpuhan pada sistem saraf, mual dan muntah secara tiba-tiba bisa jadi salah satu ciri-cirinya. Kuncinya adalah gejala tersebut datang secara tiba-tiba tanpa tahu apa penyebab pastinya.

– Heartburn. Selama serangan jantung berlangsung, ada penurunan jumlah aliran darah pada arteri yang merangsang gejala mirip heartburn seperti rasa terbakar di dada atau kerongkongan dan kesulitan menelan.

Menurut tulisan di “menshealth. com,” perlu mengenali rasa nyeri sebagai penanda munculnya penyakit lain, seperti robeknya pembuluh darah aorta. Untuk membedakannya, cara paling sederhana adalah dengan memperhatikan bagaimana rasa nyeri tersebut muncul.

Ahli jantung selalu menjelaskan, pada penyakit diseksi aorta, penderitanya merasakan nyeri yang disebut sebagai onbreak onset, yakni serangan atau rasa nyeri terjadi seketika, sedangkan nyeri pada serangan jantung yang disebut gradual onset, muncul cenderung meningkat perlahan.

Meski rasa nyeri di dada bisa menjadi penanda awal diseksi aorta, perlu ada pemeriksaan lebih lanjut untuk mendeteksi penyakit ini.

Pemeriksaan awal adalah elektro cardiography dan enzim jantung. Pemeriksaan ini juga bisa membedakan apakah nyeri dada tersebut menandakan penyakit diseksi aorta atau serangan jantung.

Kalau hasil pemeriksaan EKG dan enzim menunjukkan adanya fluktuasi yang tajam, ini merupakan penanda penyakit jantung. Sementara, pada penyakit robeknya pembuluh darah aorta, hasil pemeriksaan EKG dan enzim cenderung normal dan tidak menunjukkan perubahan signifikan.

Komentar