Minyak Kelapa Bisa Cegah Penyakit Jantung

Penulis: Darmansyah

Kamis, 11 Januari 2018 | 13:57 WIB

Dibaca: 1 kali

Berita mengejutkan datang dari media terkenal Inggris “daily mail,” hari ini, Kamis, 11 Januari,  yang menulis tentang penyakit jantung  yang bisa disembuhkan dengan minyak kelapa.

Sebelumnya, sebagaimana banyak diketahui penyakit jantung selalu dikaitkan dengan aneka jenis minyak

Sebuah studi terbaru, tulis “daily mail,  menemukan bahwa minyak kelapa ternyata mengandung sembilan puluh dua  persen lemak jenuh.

Dan lemak jenuh terbukti menaikkan kadar kolesterol jahat alias low densisty lipoprotein, sehingga risiko penyakit jantung tentu semakin tinggi.

Akan tetapi, ada yang mengklaim bahwa minyak kelapa justru mencegah penyakit jantung.

Bagaimana bisa?

Michael Mosley, dokter sekaligus presenter televisi berkata, minyak kelapa memang telah dikenal lama sebagai solusi atas gangguan pencernaan, bau mulut sampai masalah kulit.

“Tapi mungkin klaim yang paling mengejutkan adalah konsumsi benda ini bisa mengurangi risiko penyakit jantung dengan mengurangi kadar kolesterol,” katanya, baru-baru ini.

Oleh karenanya, ia memutuskan untuk melakukan eksperimen bersama sejumlah peneliti dari University of Cambridge untuk melihat sebenarnya apa yang dilakukan minyak kelapa pada kadar kolesterol tubuh.

Hipotesisnya, minyak kelapa akan meningkatkan kadar kolesterol LDL dan tak punya efek apapun pada kolesterol baik alias high density lipoprotein atau popular dengan HDL.

Rupanya, hasil berkata lain.

Minyak kelapa tidak meningkatkan kadar kolesterol LDL, tapi justru meningkatkan HDL.

Eksperimen tersebut melibatkan sukarelawan sebanyak seratus  orang yang berusia di atas lima puluh  tahun.

Tim peneliti pun melakukan pemeriksaan terhadap kadar kolesterol LDL dan HDL, tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah, berat badan dan presentase lemak tubuh.

Kemudian, mereka dibagi dalam tiga kelompok.

Selama empat minggu, setiap hari mereka diminta mengonsumsi minyak kelapa sebanyak lima puluh gram atau sebanyak dua sendok makan.

Kelompok kedua diberi minyak zaitun yang diketahui mengandung lemak tak jenuh dan bisa menurunkan kadar LDL. Kelompok ketiga diberi lima puluh gram butter atau margarin.

Hasilnya, kelompok yang mengonsumsi margarin mengalami kenaikan kolesterol LDL sebanyak sepuluh persen.

Namun, baik kelompok minyak zaitun dan kelompok minyak kelapa tampak tidak menunjukkan tanda kenaikan kolesterol LDL, padahal, minyak kelapa mengandung lemak jenuh lebih banyak daripada minyak zaitun.

Sebaliknya, minyak zaitun dan margarin menaikkan kadar kolesterol HDL sebanyak lima   persen, minyak kelapa justru menaikkan kadar kolesterol HDL sebanyak lima belas persen.

Artinya, minyak kelapa punya efek jauh lebih positif daripada minyak zaitun.

Selain itu, berat badan dan lemak tubuh partisipan tidak berubah, karena kemungkinan kandungan lemak pada minyak kelapa cukup membuat kenyang sehingga mereka cenderung makan dalam porsi kecil.

“Hasilnya tidak seperti yang kami kira, dan berbeda dari studi sebelumnya,” tambah Kay-Tee khaw, profesor gerontologist di Cambridge School of Clinical Medicine, yang turut melihat hasil tes.

Melihat efek yang dibawa minyak kelapa ini, Prof Khaw menilai ada kemungkinan studi sebelumnya tidak secara spesifik menyebutkan jenis minyak kelapa yang mereka gunakan

Bisa jadi karena minyak kelapa mengnadung lemak jenuh yang juga sangat spesifik yang diproses berbeda oleh tubuh dibanding lemak jenuh lainnya.

Namun, Khaw menambahkan studi yang dilakukan ini belum memberi jawaban yang menyeluruh.

Menurutnya, belum diketahui bagaimana jika seseorang mengonsumsi minyak kelapa sepanjang tahun, dan belum ada studi jangka panjang akan dampak minyak kelapa terhadap penyakit jantung, stroke dan lainnya.

“Sederhananya, apa yang diperoleh kali ini menunjukkan bahwa lemak jenuh tak sepenuhnya berefek buruk, kita perlu melihat komposisi yang dikandungnya, bagaimana ditumbuhkembangkan, dan konteks saat mengonsumsinya,” tambah dia.

Hasil mengejutkan ini tentu membuka mata banyak orang termasuk Mosley.

Ia mengakui bahwa sebelumnya dia mencoba meminimalisir penggunaan minyak kelapa karena takut akan kandungan lemak jenuh yang tinggi.

“Saya tidak akan menenggaknya berliter-liter, tapi saya juga tidak akan khawatir saat menggunakannya untuk memasak,” ujarnya.

Penelitian sebelumnya menyatakan minyak kelapa merupakan salah satu sumber makanan yang dapat dikategorikan sebagai superfood berkat kekayaan nutrisinya yang baik untuk kesehatan tubuh.

Minyak kelapa membantu tubuh lebih efektif menyerap vitamin yang larut dalam lemak, seperti magnesium dan kalsium.

Asupan kalsium yang mencukupi dalam tubuh mengarah pada struktur dan kepadatan tulang yang lebih kuat.

Dengan demikian, mengonsumsi minyak kelapa dalam bentuk paling alaminya dapat membantu mengurangi gejala pengeroposan tulang yang diakibatkan oleh osteoporosis.

Minyak ini juga diperkaya oleh antioksidan penangkal radikal bebas sebagai penyebab peradangan.

Sebuah studi asal India melaporkan bahwa kandungan antioksidan tinggi dalam minyak kelapa berperan sebagai agen antiinflamasi untuk memerangi gejala infeksi dan peradangan dalam tubuh, misalnya dalam ksaus arthritis, batu empedu, dan pankreatitis.

Berkumur dengan minyak kelapa (teknik oil pulling) sebenarnya telah digunakan turun temurun sebagai metode alami menjaga kesehatan mulut dan gusi, seperti mencegah kebusukan gigi dan gusi berdarah.

Penelitian melaporkan, rutin melakukan oil pulling dapat secara efektif mengikis lapisan plak gigi dan sekaligus juga mencegah pembentukan plak baru yang menyebabkan gingivitis, infeksi gusi.

Salah satu sifat yang paling menguntungkan dari minyak kelapa adalah kandungan asam lemak rantai sedang  MCT tidak hanya lebih mudah diserap oleh hati, tetapi juga dimetabolisme dengan cepat.

Artinya, asam lemak sehat ini dapat diolah lebih lanjut menjadi keton.

Sel tumor membutuhkan energi dari glukosa untuk dapat berkembang biak dan bertahan hidup dalam tubuh.

Ketika didampingi dengan pola diet rendah karbohidrat, tubuh jadi memiliki simpanan energi yang lebih banyak dari keton dan bukannya glukosa, akibatnya sel tumor tidak dapat mengakses sumber makanan utamanya. Oleh karena itu, keton dapat bertindak sebagai penghalang pertumbuhan tumor.

Bahkan, sebuah studi menunjukkan bahwa ketika minyak kelapa disuntikkan ke sel-sel kanker adenokarsinoma dalam usus besar, keton benar-benar mampu menghambat pertumbuhan sel kanker tanpa memengaruhi sel-sel usus normal.

Selain membantu memerangi gangguan otak dan memori, konsumsi asam lemak rantai menengah yang terkandung dalam minyak kelapa, telah terbukti meningkatkan jumlah kalori yang Anda bakar dibandingkan dengan asam lemak lainnya.

Dengan kata lain, tubuh dapat dengan mudah mengubah lemak untuk dimanfaatkan menjadi energi. Minyak ini efektif memangkas lemak perut, yang merupakan tumpukan lemak paling berbahaya dari semua jenis lemak tubuh dan sangat terkait dengan berbagai penyakit kronis.

Selain itu, keton, sebagai salah satu bentuk energi hasil metabolisme lemak, diketahui dapat memiliki efek mengurangi nafsu makan.

Metode seperti ini penting bagi orang yang sedang menjalani diet, karena pada dasarnya minyak kelapa berpotensi membantu penurunan berat badan secara dramatis jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Minyak kelapa tak selamanya harus dikonsumsi lewat mulut untuk menunjukkan khasiat kesehatannya.

Banyak orang yang menggunakan minyak sehat ini untuk tujuan kosmetik, guna meningkatkan kesehatan dan penampilan kulit dan rambut.

Penelitian menunjukkan minyak kelapa efektif digunakan sebagai pelembab kulit, terutama untuk orang yang kulitnya cenderung kering, dengan meningkatkan kelembaban dan kadar lemak pada kulit.

Komentar