Migrain? Hati-hati dengan Penyakit Jantung

Penulis: Darmansyah

Senin, 5 Februari 2018 | 09:47 WIB

Dibaca: 0 kali

Penderita migrain berpeluang lebih besar mengalami masalah kardiovaskular.

Sebuah penelitian baru dari Denmark mengungkap bahwa penderita migrain berpeluang lebih besar mengalami masalah kardiovaskular. Studi tersebut dikeluarkan dalam jurnal The BMJ.

Seperti diketahui, migrain memiliki gelaja seperti denyut kencang dan nyaring, mual, kepekaan terhadap cahaya dan suara dikategorikan sebagai gangguan sakit kepala bertentangan dengan masalah jantung

Sakit kepala ini dihubungkan dengan peningkatan risiko beberapa masalah jantung, termasuk serangan jantung, stroke, fibrilasi atrial  atau ritme jantung tidak teratur dan pembekuan darah yang diawali di pembuluh darah individu tersebut.

Kasper Adelborg, ahli jantung di Rumah Sakit Universitas Aarhus di Denmark menyampaikan, studi ini bukan yang pertama kali mengaitkan sakit kepala migraine dengan masalah jantung.

Peneliti terdahulu telah menemukan relasi antara migrain dan risiko stroke, serta serangan jantung. Apalagi bagi para perempuan.

Studi ini mengambil data dari sekitar lima puluh satu ribu orang di Denmark yang mengidap migrain dan sebanyak lima rtus sepuluh ribu orang yang tidak menderita migrain.

Mereka yang berada di kelompok migrain awalnya divonis sakit kepala tersebut pada usia tiga puluh lima tahun. Dari jumlah yang ada, tujuh puluh satu  persen di antaranya merupakan penderita perempuan.

Sembilan belas tahun kemudian, para peneliti menemukan bahwa kelompok migrain satu setengah  kali lipat lebih rentan terkena serangan jantung dan dua kali lipat lebih rentan stroke daripada kelompok yang tidak sakit kepala.

Penelitian tersebut turut membuka data bahwa orang dengan migrain satu koma enam kali lebih mungkin terserang penggumpalan darah, dan satu koma tiga  kali lebih berisiko mengalami fibrilasi atrial.

Ada pula kaitan antara migrain dengan beberapa masalah kardiovaskular yang lebih kuat di tubuh wanita daripada pria.

Hubungan tersebut juga lebih besar terjadi pada individu yang mengidap migrain dengan “aura”, fenomena gangguan penglihatan, seperti melihat lampu berkedip atau memiliki bintik buta di satu mata, yang mendahului sakit kepala.

Seseorang yang memiliki diabetes, cenderung sering mengalami sakit kepala atau pusing.

Tubuh yang tidak mampu lagi memproduksi atau menggunakan insulin, disinyalir menjadi penyebab utama diabetesi merasakan pusing atau sakit kepala.

Kenapa pasien diabetes sering merasakan sakit kepala?

Apa penyebab sakit kepala pada diabetes? .

Tidak semua pasien diabetes akan merasakan sakit kepala. Seseorang yang baru didiagnosis memiliki diabetes biasanya lebih cenderung mudah mengalami sakit kepala.

Hal ini disebabkan karena mereka masih belum terbiasa untuk “mengelola” kadar gula darahnya. Sakit kepala yang berhubungan dengan diabetes biasanya terjadi karena perubahan kadar gula dalam darah.

Sakit kepala pada diabetes biasanya menunjukkan bahwa kadar gula darah mereka terlalu tinggi, yang disebut hiperglikemia, atau terlalu rendah, yang disebut hipoglikemia.

Semakin sering mereka mengalami naik turun kadar gula darah, maka semakin besar juga mereka sering mengalami sakit kepala.

Sakit kepala pada diabetes yang berhubungan dengan naik turunnya kadar gula darah disebabkan oleh adanya perubahan kadar hormon seperti epinefrin dan norepinephrine, yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah di otak.

Penyempitan ini disebut dengan vasokonstriksi.

Hiperglikemia adalah kondisi ketika kadar gula Anda terlalu tinggi melebihi angka 200 mg/dL, gejalanya sendiri tidak akan disadari sampai kadar gula darah Anda ada di atas 200 mg/dL. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup insulin maupun akibat resistensi insulin, yaitu hormon yang dilepas oleh pankreas.

Insulin berfungsi menyebarkan gula dalam darah ke seluruh sel-sel tubuh agar bisa diproses menjadi energi.

Kebanyakan kondisi ini dialami oleh pasien diabetes yang tidak bisa menjalani gaya hidup sehat, misalnya terlalu banyak makan, kurang berolahraga, atau lupa mengonsumsi obat diabetes atau insulin.

Sakit kepala sering dianggap sebagai tanda awal kondisi ini dan rasa sakitnya bisa bertambah parah karena kondisi Anda semakin memburuk.

Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah Anda rendah yaitu ada di bawah 70 mg/dL. Zat gula dalam darah biasanya kita dapatkan dari makanan yang dicerna dan diserap. Molekul gula tersebut masuk ke dalam aliran darah, yang selanjutnya disalurkan ke sel-sel di seluruh jaringan tubuh.

Namun sebagian besar sel-sel tubuh tidak bisa menyerap gula tanpa bantuan hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas.

Dalam hal ini, insulin berperan sebagai pembuka pintu bagi masuknya zat gula ke dalam sel.

Jika jumlah insulin terlalu banyak, otomatis kadar gula darah akan menurun.

Itu sebabnya hipoglikemia banyak dialami oleh pasien diabetes karena mereka sering menggunakan insulin atau obat-obatan pemicu produksi insulin guna menurunkan kadar gula di darah mereka.

Tidak seperti hiperglikemia, gejala hipoglikemia biasanya mendadak. Sakit kepala biasanya adalah gejala awal yang akan Anda rasakan ketika gula darah Anda turun

Jika Anda memiliki diabetes, terutama diabetes tipe 2, seperti yang dilansir dari Live Strong Anda lebih rentan untuk mengalami glaukoma.

Glaukoma adalah jenis gangguan penglihatan yang ditandai dengan terjadinya kerusakan pada saraf optik yang biasanya diakibatkan oleh adanya tekanan di dalam mata.

Diabetes dengan kejadian glaukoma memiliki angka yang cukup tinggi, hal ini disebabkan karena saraf optik sensitif terhadap kadar gula darah yang tinggi.

Glaukoma sering dikaitkan dengan peningkatan tekanan di dalam mata, yang bisa menyebabkan sakit mata dan sakit kepala pada diabetes.

Sakit kepala yang berhubungan dengan glaukoma sering terasa sangat menusuk dan menyebabkan rasa sakit di atas dan di belakang mata.

Gejala lain yang muncul bersamaan dengan sakit kepala adalah penglihatan yang kabur, melihat bayangan lingkaran di sekeliling cahaya, serta rasa mual dan muntah.

Diabetes sering menyebabkan neuropati, istilah umum yang digunakan untuk kondisi-kondisi yang terkait dengan kelainan pada fungsi saraf. Kata neuropati itu sendiri berarti gangguan saraf. Saraf-saraf yang ada di seluruh tubuh dapat mengalami gangguan akibat penyakit tertentu seperti diabetes maupun cedera.

Seperti yang Anda ketahui, otak kita memiliki banyak saraf, penyakit diabetes bisa menyebabkan saraf kranial salah satu saraf yang ada di dalam otak mengalami pembesaran. Neuropati pada saraf ini menyebabkan sakit kepala pada diabetes.

Komentar