Mendengkur Sama Dengan Gangguan Jantung

Penulis: Darmansyah

Rabu, 27 Maret 2013 | 21:10 WIB

Dibaca: 0 kali

Seorang istri mendatangi sebuah klinik dengan perasaan gelisah. Ia membaca di sebuah jurnal tentang mendengkur yang bisa menyebabkan kematian mendadak. Soalnya, sang suami tidurnya mendengkur. Dan ia juga baru beberapa hari lalu mendapat cerita dari seorang teman sosialitanya tentang seorang suami temannya yang “berpulang” dalam dengkur.

Dengan perasaan cemas sang istri memberondong sang dokter, begitu berada di kamr konsultasi, “dok benarkah kalau orang yang mendengkur itu berisiko mengalami kematian mendadak? Kalau iya, bagaimana ngorok bisa menyebabkan kematian secara tiba-tiba. Saya jadi takut kalau tanpa disadari suami yang mempunyai kebiasaan  mendengkur mengalami hal yang mengerikan.”

Suami saya memang sering mendengkur meskipun ia tampak tidak memiliki keluhan berarti akibat dengkurannya itu.  Bagaimana sebaiknya untuk menghadapi masalah ini dok?

Itulah sepotong pertanyaan panjang yang dikemukakan sang istri yang dengan tekun dan sabar didengarkan dengan takzim oleh si dokter.

Benarkan dengkur memicu kematian mendadak?  Bagi ahli kesehatan mendengkur merupakan sebuah gejala “obstructive sleep apnea,” yang dikalangan para dokter sering disebut “osa.”  Osa sering diidentikkan dengan tidur yang dalam waktu tertentu hilang, seperti orang berhenti bernapas.Kemudian tersedak, lantas terbangun. Tidur lagi, mendengkur lagi. Itulah irama tidur sang pendengkur. Dan gejala ini terus berulang, dan berulang.

Yang pasti, mereka tidak memiliki kualitas tidur yang prima. Memang dalam pandangan banyak orang tidur  mendengkur  bukan sebagai sebuah masalah. Sering pula mendengkur dikaitkan dengan tidur yang nyenyak. Padahal, mendengkur yang disertai henti napas sesaat bisa memicu gangguan kesehatan serius seperti stroke atau penyakit jantung.
Henti napas saat tidur atau obstructive sleep apnea (OSA) disebabkan karena tertutupnya jalan napas oleh jaringan di bagian atas hidung dan tenggorokan. Yang meresahkan, henti napas ini bisa terjadi berulang kali selama tidur.
“Henti napas tersebut akan membuat tubuh kekurangan oksigen. Karena tidak ada oksigen biasanya kita akan terbangun mendadak. Tensi darah pun langsung naik. Kondisi tersebut dalam jangka panjang menyebabkan gangguan pada jantung,” kata dr.Bambang Budi Siswanto, Sp.JP.

Penurunan kadar oksigen dalam darah secara tajam saat tidur itu bisa memicu gangguan irama jantung serta hipertensi atau peningkatan tekanan darah yang sulit diturunkan dengan obat-obatan.  Banyak pasien hipertensi yang terus ditambah dosis obatnya untuk menurunkan tensinya.
Hipertensi kronik juga bisa menyebabkan penebalan otot jantung serta pengentalan darah. “Risiko stroke menjadi sangat tinggi.” “Sleep apnea bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi sampai lansia. “Pada bayi biasanya disebabkan karena kelainan pertumbuhan rahang. Sedangkan pembesaran amandel pada anak usia sekolah juga akan menyebabkan mengorok,” katanya dalam kesempatan yang sama. Sedangkan pada  orang dewasa, kondisi-kondisi tertentu bisa mengundang sleep apnea, misalnya saja kegemukan.

Gangguan tidur akan mengganggu keseimbangan hormon-hormon, misalnya saja hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Gangguan hormon insulin juga akan memicu penyakit diabetes. “Jika kita ngorok artinya napasnya tidak plong. Karena itu harus diterapi agar tidak sampai terjadi komplikasi penyakit.”

 

Komentar