Madu Antibiotik Alami yang Ampuh

Penulis: Darmansyah

Senin, 9 Oktober 2017 | 14:47 WIB

Dibaca: 0 kali

Madu ?

Ya,  cairan kental manis yang secara alami dihasilkan oleh lebah itu mengandung banyak khasiat.

Salah satu contoh khasiatnya yang hingga saat ini dimanfaatkan dalam dunia medis adalah kemampuan madu sebagai obat mencegah infeksi.

Dijelaskan oleh Hank Green dari Scishow, madu memang sudah terbukti oleh berbagai studi memiliki sifat antibiotik kuat.

Mulai dari karena kandungan protein yang ada di dalamnya hingga gula yang ada pada madu.

Sekitar tujuh belas persen komposisi madu terdiri atas air, sisanya sebagian besar adalah gula fruktosa dan glukosa. Oleh karena itu seperti kebanyakan gula umumnya madu bersifat sangat lengket dan menarik air.

“Jadi berbicara secara kimia madu itu ‘putus asa’ ingin menyerap air. Sementara itu air dapat menembus membran sel berpindah dari tempat yang konsentrasinya tinggi ke tempat berkonsentrasi rendah. Nah pada bakteri tubuhnya memiliki lebih tinggi konsentrasi air daripada madu,” papar Hank seperti dikutip dari Scishow, Senin, 09 Okotober.

“Artinya madu akan menghisap habis seluruh kandungan air pada bakteri atau fungus yang berusaha menginfeksi. Tanpa air yang cukup mereka tidak bisa hidup,” lanjut Hank.

Alasan kedua untuk sifat antibiotik madu adalah karena lebah mencampurkan senyawa bernama glukosa oksidase saat membuatnya.

Senyawa ini membuat madu bersifat asam sehingga mampu merusak dinding sel bakteri.

“Terakhir lebah juga memasukkan antibotik alami bernama bee defensin-1 ke dalam madu. Sesuai namanya protein ini berfungsi melindungi lebah dari bakteri karena merupakan bagian dari sistem imun mereka,” pungkas Hank.

Tergantung dari jenis bunga yang digunakan lebah untuk membuat madu, kadang bisa ada juga senyawa antibiotik tambahan yang tercampur.

Sebagai contoh madu dari bunga Manuka diketahui bisa memiliki kandungan methylglyoxal.

Beberapa orang menyebut madu sebagai emas cair karena selain warnanya yang keemasan, madu juga menyimpan banyak manfaat untuk manusia.

Sejak zaman Mesir kuno sudah dimanfaatkan sebagai pangan atau obat terapi.

Menurut National Honey Board dalam satu sendok makan madu mentah bisa terdapat 64 kalori yang bebas lemak dan garam.

Terdiri atas delapan puluh persen karbohidrat, delapan belas persen air, dan dua persen sisanya vitamin, mineral, juga asam amino.

Madu telah terbukti memiliki sifat antiperadangan sehingga beberapa ahli percaya ia juga bisa digunakan untuk meringankan gejala alergi.

dr Matthew Brennecke dari Rocky Mountain Wellness Center mengatakan meski belum ada studi klinis yang membuktikan efikasinya di dalam madu terdapat sedikit serbuk sari bunga sehingga bisa jadi vaksin alami.

Serbuk sari adalah salah satu benda yang diketahui umum menjadi pemicu alergi sehingga secara teori bila seseorang dipaparkan dalam dosis kecil maka lama-lama tubuhnya akan membentuk antibodi.

“Setelah paparan berulang, Anda seharusnya sudah membangun cukup antibodi sehingga tubuh jadi lebih terbiasa dengan kehadiran serbuk sari membuat berkurangnya produksi histamin dan mengurangi reaksi alergi,” kata dr Matthew.

Ketika batuk membandel tidak hilang-hilang, studi pada lima tahun silam di jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa dua sendok makan madu dapat meringankannya.

Di dalam studi anak yang batuk karena pilek frekuensi batuk-batuknya dapat berkurang setelah diberi madu tiga puluh menit sebelum tidur.

Hal ini diduga karena konsistensi madu yang tebal melindungi tenggorokkan dari iritasi sementara rasanya yang manis merasang saraf terhadap reflek batuk.

Karena rasanya yang manis madu bisa memiliki efek sama seperti gula yaitu meningkatkan produksi hormon insulin dan serotonin ketika dikonsumsi.

Ahli diet Rene Ficek dari Seattle Sutton’s Healthy Eating mengatakan serotonin ini yang oleh tubuh kemudian bisa diubah menjadi melatonin.

“Tubuh mengubah serotonin menjadi melatonin, senyawa kimia yang mengatur panjang dan kualitas tidur kita,” ungkap Rene. Semakin banyak tingkat melatonin maka seseorang akan semakin mengantuk.

Menurut studi yang dipublikasi di European Journal of Medical Research  enam belas tahun lalu  madu yang telah diencerkan dengan menambahkan sepuluh persen air hangat dapat dipakai untuk melawan ketombe.

Diamkan ramuan madu selama tiga jam sebelum dibilas maka rasa gatal dan ketombe akan hilang dalam seminggu.

Madu memiliki sifat antibakteri dan antifungi sehingga ia bisa melawan ketombe yang diakibatkan oleh infeksi fungi.

“Ditambah dengan sifat antiperadangannya kulit kepala yang merah dan gatal juga bisa diatasi,” ungkap dr Matthew.

Seperti telah dijelaskan pada poin sebelumnya madu memiliki sifat antibakteri, antifungi, dan antiperadangan.

Pada zaman dahulu di mana belum ada obat antiseptik untuk mencegah infeksi pada luka madu adalah ramuan yang mujarab untuk terapi luka.

Bahkan hingga saat ini potensi madu sebagai obat juga masih terus diteliti untuk dikembangkan. Studi pada tahun dua belas tahun lalu di British Journal of Surgery menemukan hampir semua pasien dengan luka atau borok di kakinya menunjukkan perbaikkan hanya dengan memakai krim kulit dari madu

Komentar