Kolesterol Tertuduh Tunggal Sakit Jantung?

Penulis: Darmansyah

Rabu, 24 Februari 2016 | 08:45 WIB

Dibaca: 0 kali

Kolesterol, kini, seperti dirilis American Journal of Clinical Nutrition dari sebuah penelitian terbaru di Amerika Serikat, tidak lagi menjadi “tertuduh tunggal” penyebab penyakit jantung.

Selama ini selalu dikesankan, konsumsi makanan yang mengandung kolesterol menjadi pelaku penyakit jantung..

Penelitian yang dirilis mengikutsertakan lebih dari seribuan koresponden pria sehat dengan rentang usia empat puluhan dan enam puluhan memiliki ApoE4, sebuah gen yang berkaitan dengan penyakit jantung.

Biasanya, orang dengan ApoE4 harus lebih hati-hati dalam mengonsumsi makanan dan mengatur gaya hidup.

Rata-rata pria mengonsumsi dua ribu delapan ratus miligram kolesterol setiap pekannya, hal ini setara dengan empat telur dalam satu pekan.

Dari semua faktor yang diteliti, peneliti belum menemukan keterkaitan antara konsumsi kolesterol dengan penyakit jantung pada pria, entah ia memiliki gen ApoE4 ataukah tidak.

Mereka juga menemukan tidak ada keterkaitan antara penebalan dinding arteri yang dapat menghambat darah dengan asupan kolesterol.

Meskipun masih banyak yang menerima asumsi bahwa terlalu banyak kolesterol dari makanan dapat menghambat aliran darah yang memicu penyakit jantung, beberapa penelitian ternyata punya pendapat berbeda.

Beberapa penelitian menemukan bahwa kolesterol bukanlah penyebab utama dari penyakit jantung.

Bahkan, beberapa dokter mengaitkan penyakit jantung dengan masalah kesehatan lainnya atau gaya hidup yang buruk seperti merokok, konsumsi gula berlebihan, alkohol, dan sebagainya.

“Konsumsi kolesterol secara berkecukupan tidak berdampak pada peningkatan risiko penyakit jantung, walaupun pada orang yang memang berisiko,” kata Jyrki Viranen, professor epidemiology University of Eastern Finland seperti yang dilansir the New York Times.

Bagi yang menganggap kolesterol menjadi penyebab penyakit jantung, kebanyakan dari mereka akan menghindari konsumi telur.

Sebuah penelitian tiga tahun silam menyatakan bahwa telur dan daging merah tidak menyebabkan penyakit jantung akibat kolesterol.

Tapi keduanya memiliki keterkaitan dengan penyakit akibat bakteri di usus.

Banyak orang menghindari menu ayam goreng, kentang goreng, soda, dan es krim di restoran cepat saji karena menghindari lemak, garam, dan gula.

Sebagai pengganti, mereka beralih ke menu seperti salad, green tea, dan lain-lain yang diyakini “lebih sehat.”

Namun ternyata tak menjadi jaminan salad, matcha, dan sejenisnya lebih sehat dibandingkan ayam goreng ataupun soda.

Seperti yang dilansir oleh Daily Mail, di Amerika Serikat, terungkap smoothie blueberry promegranate mengandung gula cukup banyak.

Dalam menu smoothie blueberry promegranate di sebuah restoran cepat saji itu mengandung lima puluh empat gram gula dan vitamin C hanya empat persen dari kebutuhan tubuh.

Kandungan tersebut setara dengan lima setengah buah donat berlumur gula beku yang ada di gerai-gerai kopi.
Padahal, Badan Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan asupan gula per hari hanya dua puluh lima gram.

Menu matcha green tea terlihat lezat dan menyehatkan. Namun di salah satu gerai restoran cepat saji McDonald di Jepang, matcha green tea di tempat itu memiliki kalori lebih tinggi dibandingkan latte.

Berikutnya adalah salad. Salad yang mengandung berbagai macam sayuran dan terlihat sehat, seperti edamame, kale, almond, lalu ayam buttermilk, ternyata dapat mengandung lemak sebesar dua puluh empat gram, yang merupakan sepertiga dari kebutuhan harian.

Studi terbaru lainnya juga mengenyahkan kopi sebagai penyebab jantung berdebar-debar, yang bermuara pada gagal jantung, stroke, bahkan kematian.

Demikian hasil penelitian baru di Jurnal Asosiasi Jantung Amerika.

NBC News melaporkan, peneliti menyimpulkan tak adanya hubungan antara konsumsi kafein dan jantung berdebar-debar atau pola detak yang tak teratur, meski di antara mereka yang mengonsumsi sejumlah besar kafein setiap hari.

Sebelumnya, Asosiasi Jantung Amerika menyarankan pasien dengan detak jantung ekstra agar menghindari kafein karena dapat memperparah masalah, seperti dilaporkan CBS San Francisco.

Namun “kita tidak perlu mengurangi konsumsi cokelat, kopi, dan teh, yang bisa jadi punya manfaat untuk jantung,” ujar penulis. Dia juga menyebut asupan kafein yang direkomendasikan dokter “harus dipertimbangkan ulang.”

Seakan meyakinkan dokter untuk memeriksa ulang, para peneliti juga mencatat konsumsi kopi secara teratur berkaitan dengan rendahnya risiko diabetes tipe 2, obesitas, depresi, penyakit arteri koroner, dan kematian.

Karena “ini pertama kalinya sampel berbasis komunitas melihat akibat kafein pada detak jantung ekstra,” ujar penulis, maka studi lebih lanjut tetap diperlukan.

Komentar